Fadhalah bin Ubaid berkata: Aku mendengar Umar Ibnu Khattab berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Syuhada itu ada empat, (1) Seorang mukmin yang istimewa keimanannya, ia bertemu musuh dan membenarkan Allah hingga ia terbunuh. Mukmin inilah yang kelak mata manusia tertuju kepadanya dengan penuh kekaguman pada hari kiamat.” Nabi mengucapkan hal ini sambil mengangkat kepalanya hingga kopiahnya terjatuh. Ia katakan: ‘Saya tidak tahu kopiah manakah yang dimaksud, kopiah Umarkah atau kopiah Nabi’. Beliau melanjutkan sabdanya, (2) Dan seorang mukmin yang istimewa keimanannya dan bertemu musuh, hanya sayang tubuhnya (maksudnya dirinya) seolah-olah terkena sedikit duri pohon kerana sifat pengecutnya yang masih ada, ia terkena anak panah yang menyasar hingga kemudian terbunuh, orang ini berada di tingkat kedua. (3) Dan seorang mukmin yang masih mencampuradukkan amal solehnya dan amal buruknya, ia bertemu musuh dan membenarkan Allah hingga terbunuh, orang ini berada di tingkat ketiga. (4) Dan seorang mukmin yang melampui batas terhadap dirinya, ia bertemu musuh dan membenarkan Allah hingga ia terbunuh. Orang ini berada di tingkat keempat.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 1568, hasan gharib)
Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada pohon di syurga kecuali dahannya terbuat dari emas.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2448, hasan gharib)
Dari Asma’ binti Abu Bakar berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika disebutkan kepadanya Sidratul Muntaha beliau bersabda: “Seorang pengendara berjalan di bawah naungan dahan pohonnya selama seratus tahun atau seratus orang pengendara bernaung di bawahnya yang dalam naungan itu sarat dengan anai-anai dari emas, buahnya seperti tempayan.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2464, hasan sahih gharib)
Dari Abu Bakar bin Abu Musa dari ayahnya dia berkata: “Abu Talib dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menuju negeri Syam (untuk berniaga) bersama dengan pembesar-pembesar Quraisy, ketika mereka menjumpai seorang rahib, mereka singgah dan berhenti dari perjalanan mereka, tiba-tiba seorang Rahib keluar menemui mereka, padahal sebelum itu, rahib tersebut tidak pernah keluar walaupun ada sekelompok orang melaluinya. Abu Musa berkata: “Maka mereka meletakkan bekalan mereka, kemudian Rahib itu menyibak jalan mereka sampai datang (di hadapan) beliau, sambil memegang tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Rahib itu berkata: “Orang ini akan menjadi pemimpin semesta alam, anak ini akan menjadi utusan Rabb semesta alam dan akan diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.” Maka pembesar Quraisy berkata: “Dari mana anda tahu hal itu?” Rahib menjawab: “Sebenarnya semenjak kalian tiba di Aqabah, tidak ada batuan dan pepohonan pun melainkan mereka tunduk sujud, mereka tidak sujud melainkan kepada seorang Nabi, aku juga dapat mengetahui dari cop kenabian yang berada di bahagian bawah tulang rawan bahunya yang menyerupai buah epal.” Kemudian Rahib itu kembali dan menjamu mereka dengan makanan, ketika Rahib itu mendatangi rombongan Quraisy yang mengikut sertakan Nabinya, sedangkan Nabi berada di antara rombongan unta, Rahib itu berkata: “Tolong utuslah beberapa orang untuk menjemputnya.” Beberapa saat kemudian Nabi datang dengan dinaungi sekumpulan awan di atas beliau. Ajaib, ketika Rahib itu mendekati rombongan, ia temukan mereka tengah berebut mencari perlindungan bayang-bayang pohon. Anehnya ketika Nabi duduk, jesteru bayang-bayang pohon itu mendekati beliau, lalu si Rahib mengatakan ‘Cuba kalian perhatikan, bayang-bayang pohon jesteru mendekati beliau’. (Kata Abu Musa), ketika sang rahib berdiri menghadap rombongan, ia memberi peringatan: ‘Maaf, hendaknya rombongan ini tidak meneruskan perjalanan menuju Romawi. Sebab kalaulah mereka melihatnya, tentu mereka mengetahuinya dengan tanda-tandanya, dan tentu mereka akan membunuhnya.’ Ketika sang rahib menoleh, ternyata ada tujuh orang yang baru pulang dari Romawi dan menemui rombongan. Rahib bertanya kepada mereka: ‘Apa yang mendorong kalian datang ke mari? Rombongan itu menjawab: ‘Begini, kami berangkat kerana mendengar seorang Nabi telah diutus di bulan ini, kerananya tak ada jalan lagi bagi kami selain beberapa orang harus diutus untuk menemuinya. Kami telah diberitahu beritanya. Keranaya kami diutus dan berangkat melalui jalan yang akan kalian lalui ini.’ Si rahib lantas berujar kepada rombongan Makkah: ‘Mungkin kalian punya pendapat yang Allah akan memutuskannya? Ataukah kalian hendak mengembalikan si anak ini (maksudnya Muhammad) ke Makkah?” Jawab mereka: “Wahh, sepertinya tidak ada.” Selanjutnya rombongan itu berbaiah kepada si rahib dan tinggal bersamanya beberapa waktu. Kata rahib: “Siapa walinya anak ini? Mereka menjawab; “Abu Talib”. Si rahib tiada henti-hentinya menasihati Abu Talib hingga ia mahu mengembalikan Muhammad (yang ketika itu belum menjadi Nabi). Abu Bakar memerintahkan Bilal untuk berkahwin dengannya, sedang si rahib memberinya bekal berupa keropok dan minyak.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3553, hasan gharib)
Dari Jabir bin Samurah dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di kota Makkah terdapat sebongkah batu (hajar aswad) yang mengucapkan salam kepadaku pada malam hari di mana aku diutus, sedangkan sekarang aku benar-benar mengetahuinya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3557, hasan sahih gharib)
Dari Ali bin Abu Talib dia berkata: “(Ketika) Kami bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di kota Makkah, lalu kami keluar ke suatu pelusuknya, dan tidak ada satu pun pergunungan dan pepohonan yang kami lalui kecuali ia mengucapkan “Assalamualaika ya Rasulullah (keselamatan bagimu ya Rasulullah).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3559, gharib)
Dari Ibnu Abbas dia berkata: “Seorang arab badwi datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Dengan apa aku mengetahui bahawa dirimu seorang Nabi?” Beliau bersabda: “Jika aku memanggil setandan kurma dari pohon kurma ini (ke mari) apakah kamu mahu bersaksi bahawa aku adalah utusan Allah?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil setandan kurma tersebut, tiba-tiba setandan kurma itu turun dan terjatuh di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau bersabda: “Kembalilah.” Maka setandan kurma itu kembali ke tempatnya semula. Setelah (peristiwa) itu seorang badwi tersebut masuk Islam.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3561, hasan sahih gharib)
Anas bin Malik berkata: Abu Thalhah berkata kepada Ummul Sulaim: “Aku mendengar suara lirih Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, aku tahu bahawa beliau merasa lapar, apakah kamu memiliki sesuatu?” Dia menjawab; “Ya.” Kemudian dia mengeluarkan beberapa genggam gandum, setelah itu dia mengambil kerudungnya dan melipat sebahagian roti dan menekannya di tanganku lalu memberiku sebahagian yang lain. Lalu dia mengutusku menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, Ummu Sulaim berkata: “Lalu aku membawanya menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, ternyata beliau sedang duduk-duduk di masjid bersama para sahabat, lalu aku berdiri di hadapan mereka, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Apakah Abu Thalhah yang mengirimmu kemari?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Apakah untuk membawa makanan?” Aku menjawab; “Ya.” lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Bagi siapa yang ingin bersamanya maka berdirilah.” Kemudian beliau pergi dan aku pun pergi bersama mereka, hingga aku menemui Abu Thalhah dan mengkhabarkan hal itu kepadanya, Abu Thalhah berkata: “Hai Ummu Sulaim, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah datang bersama para sahabat, sedangkan kita tidak memiliki makanan untuk menjamu mereka.” Dia menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Anas bin Malik berkata: “Lalu Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang menyambut hingga Abu Thalhah bersama beliau masuk rumah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemarilah hai Ummu Sulaim, apa yang kau miliki?” Lalu ia datang dengan roti itu, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan (untuk di hidangkan), maka dia membagi-bagi dan memerah susu murni (ternakan) miliknya dan menghidangkannya sebagai lauk untuk beliau, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan sesuatu sebagaimana yang dikehendaki Allah, lalu bersabda: “Izinkanlah sepuluh orang untuk masuk.” Dia pun mengizinkan, lalu mereka masuk dan makan hingga kenyang kemudian keluar. Beliau bersabda lagi: “Izinkanlah sepuluh orang lagi untuk masuk.” Dia pun mengizinkan, lalu masuklah sepuluh orang, setelah itu mereka makan hingga kenyang kemudian keluar. Hingga pada hari itu, seluruh orang makan dan kenyang semuanya, ketika itu jumlah mereka sekitar tujuh puluh atau lapan puluh orang.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3563, hasan sahih)
Dari Anas bin Malik dia berkata: “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam -ketika waktu Asar telah tiba- dan orang-orang sedang mencari air wudhu’ namun mereka belum mendapatkannya. Lantas dibawakan air wudhu’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangannya ke dalam bejana tersebut. Beliau pun memerintahkan orang-orang untuk berwudhu’ darinya. Anas berkata: “Aku melihat air mengalir dari bawah jari-jari beliau, sehingga mereka berwudhu’ sampai orang yang terakhir.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3564, hasan sahih)
Dari Abdullah dia berkata: “Kalian menganggap tanda-tanda (kebesaran Allah) sebagai azab (siksa) sedangkan kami pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganggapnya sebagai berkat. Sesungguhnya dahulu kami makan makanan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan kami mendengar makanan tersebut bertasbih ketika kami makan.” Abdullah berkata: “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diberi bejana (yang terdapat sedikit air), lalu beliau meletakkan tangannya di dalamnya, maka dari jari-jemari beliau mengeluarkan air. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mari kita berwudhu’ dengan air yang diberkati, iaitu keberkatan yang datang dari langit.” Maka kami semua dapat berwudhu’.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3566, hasan sahih)
Dari Anas bin Malik dia berkata: “Di hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Madinah, maka segala sesuatu menjadi bersinar, namun di hari ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, semuanya berubah menjadi gelap, dan ketika kami berada di kuburannya untuk menghilangkan (debu dan kotoran yang ada di atasnya) dengan tangan-tangan kami, seolah-olah hati kami mengingkari (wafatnya Rasulullah).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3551, gharib sahih)
Dari Abdullah bin ‘Amru bahawa beliau pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bila kalian mendengarkan seorang Mu’adzin (azan), maka katakanlah seperti apa yang dikatakan oleh Mu’adzin, kemudian berselawatlah kepadaku, kerana barangsiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan membalas sepuluh kali selawat, dan mohonlah wasilah untukku, kerana ia adalah salah satu kedudukan di syurga yang tidak layak diberikan kecuali kepada salah seorang dari hamba Allah dan aku berharap semoga aku menjadi orang tersebut. Barangsiapa memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak untuk mendapatkan syafaat.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3547, hasan sahih)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama dikeluarkan (bangkitkan) dari bumi, kemudian dipakaikan kepadaku pakaian dari syurga, lalu aku berdiri di samping ‘Arsy dan tidak ada seorang pun dari makhluk ini yang menduduki kedudukan tersebut selain aku.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3544, hasan gharib sahih)
Dari Abu Hurairah dia berkata: Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sejak bilakah kenabian dinobatkan kepada anda?” Beliau menjawab: “Ketika Adam masih berada antara roh dan jasad.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3542, hasan sahih gharib, Musnad Ahmad, no. 16028)
Dari Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang Nabi suatu hari berhenti di bawah pohon lalu dia disengat seekor semut. Kemudian Nabi tersebut menyuruh mengeluarkan makanan dan mengeluarkan semua semut dari sarangnya setelah itu menyuruh membakarnya. Kemudian Allah mewahyukan kepadanya: “Apakah kerana seekor semut kamu kemudian membakarnya.” (Sahih Muslim, no. 4158)
Dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tangannya, lalu beliau bersabda: ‘Allah Azza wa Jalla menjadikan tanah (bumi) pada hari Sabtu, menancapkan gunung pada hari Ahad, menumbuhkan pohon-pohon pada hari Isnin, menjadikan bahan-bahan mineral pada hari Selasa, menjadikan cahaya pada hari Rabu, menebarkan binatang pada hari Khamis, dan menjadikan Adam ‘Alaihis Salam pada hari Jumaat setelah asar, yang merupakan penciptaan paling akhir iaitu saat-saat terakhir di hari Jumaat antara waktu asar hingga malam.” (Sahih Muslim, no. 4997, Musnad Ahmad, no. 7991)
‘Atha berkata, aku mendengar Jabir bin ‘Abdullah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memakan dari pohon ini, -maksudnya bawang putih-, maka hendaklah dia tidak mendatangi kami (dan solat) di masjid-masjid kami.” Aku bertanya: “Apa yang beliau maksudkan itu?” Maka Jabir menjawab: “Aku tidak melihat maksud beliau yang lain kecuali yang mentah (belum dimasak).” (Sahih Bukhari, no. 807)
Dari Syarik bin ‘Abdullah bin Abu Namir bahawa dia mendengar Anas bin Malik menceritakan, bahawa ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid pada hari Jumaat dari pintu yang berhadapan dengan mimbar, sedangkan saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang menyampaikan khutbah. Orang itu kemudian menghadap ke arah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serata berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah habis dan jalan-jalan terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menurunkan hujan buat kami!” Anas berkata, “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan, Ya Allah berilah kami hujan.” Anas melanjutkan kisahnya, “Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat sedikit pun awan baik yang tebal mahu pun yang tipis. Juga tidak ada antara tempat kami dan bukit itu rumah atau bangunan satu pun. Tiba-tiba dari bukit itu tampaklah awan bagaikan perisai. Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan itu pun menyebar dan hujan pun turun.” Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak melihat matahari selama enam hari. Kemudian pada Jumaat berikutnya, orang itu masuk kembali dari pintu yang sama dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berdiri menyampaikan khutbahnya. Kemudian orang itu menghadap beliau seraya berkata, “Wahai Rasulullah, harta benda telah binasa dan jalan-jalan pun terputus. Maka mintalah kepada Allah agar menahan hujan!” Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan di sekitar kami saja dan jangan membahayakan kami. Ya Allah turunkanlah di atas bukit-bukit, gunung-gunung, bendungan air (danau), dataran tinggi, jurang-jurang yang dalam serta pada tempat-tempat tumbuhnya pepohonan.” Anas berkata, “Maka hujan berhenti. Kami lalu keluar berjalan-jalan di bawah sinar matahari.” Syarik berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik, ‘Apakah laki-laki itu adalah laki-laki yang pertama?’ Anas menjawab, ‘Aku tak tahu’. (Sahih Bukhari, no. 957)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bahawasanya Beliau berjalan melalui dua kuburan yang penghuninya sedang disiksa, lalu Beliau bersabda: “Keduanya sungguh sedang disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa disebabkan kerana berbuat dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing sedang yang satunya lagi kerana selalu mengadu domba.” Kemudian Beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah daunnya lalu membelahnya menjadi dua bahagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Mereka bertanya: “Kenapa anda melakukan ini?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Semoga diringankan (siksanya) selama batang pohon ini basah.” (Sahih Bukhari, no. 1273, no. 1289, no. 5592)
Dari Samrah bin Jundab berkata; Sudah menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila selesai melaksanakan suatu solat, Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu berkata: “Siapa di antara kalian yang tadi malam bermimpi”. Dia (Samrah bin Jundab) berkata: “Jika ada seorang yang bermimpi maka orang itu akan menceritakan, saat itulah Beliau berkata,: “MaasyaAllah (atas kehendak Allah)”. Pada suatu hari yang lain Beliau bertanya kepada kami: “Apakah ada di antara kalian yang bermimpi?” Kami menjawab: “Tidak ada.” Beliau berkata: “Tetapi aku tadi malam bermimpi iaitu ada dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (Al-Muqaddasah), ternyata di sana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi yang hujungnya bengkok (biasanya untuk menggantung sesuatu). Batang besi tersebut dimasukkan ke dalam satu sisi mulut (dari geraham) orang itu hingga menembus tengkuknya. Kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi mulut yang satunya lagi, lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya diperlakukan. Aku bertanya: “Apa ini maksudnya?” Kedua orang yang membawaku berkata: “Berangkatlah.” Maka kami berangkat ke tempat lain dan sampai kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring bersandar pada tengkuknya, sedang ada laki-laki lain yang berdiri di atas kepalanya memegang batu atau batu besar untuk menghancurkan kepalanya. Ketika dipukulkan, batu itu menghancurkan kepala orang itu, maka orang itu menghampirinya untuk mengambilnya dan dia tidak berhenti melakukan ini hingga kepala orang itu kembali utuh seperti semula, kemudian dipukul lagi dengan batu hingga hancur. Aku bertanya: “Siapakah orang ini?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah.” Maka kami pun berangkat hingga sampai pada suatu lubang seperti dapur api dimana bahagian atasnya sempit dan bahagian bawahnya lebar dan di bawahnya dinyalakan api yang apabila api itu didekatkan, mereka (penghuninya) akan terangkat dan bila dipadamkan penghuninya akan kembali kepadanya, penghuninya itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku bertanya: “Siapakah mereka itu?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah.” Maka kami pun berangkat hingga sampai di sebuah sungai yang airnya adalah darah, di sana ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah-tengah sungai. Dan di tepi sungai ada seorang laki-laki yang memegang batu. Ketika orang yang berada di tengah sungai menghadapnya dan bermaksud hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu ke arah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai, dan terjadilah seterusnya begitu, setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: “Apa maksudnya ini?” Keduanya menjawab: “Berangkatlah.” Maka kami pun berangkat hingga sampai ke suatu taman yang hijau, di dalamnya penuh dengan pepohonan yang besar-besar sementara di bawahnya ada satu orang tua dan anak-anak dan ada seorang yang berada dekat dengan pohon yang memegang api, manakala dia menyalakan api maka kedua orang yang membawaku naik membawaku memanjat pohon lalu keduanya memasukkan aku ke sebuah rumah (perkampungan) yang belum pernah aku melihat seindah itu sebelumnya dan di dalamnya ada orang laki-laki, orang-orang tua, pemuda, wanita dan anak-anak lalu keduanya membawa aku keluar dari situ lalu membawaku naik lagi ke atas pohon, lalu memasukkan aku ke dalam suatu rumah yang lebih baik dan lebih indah, di dalamnya ada orang-orang tua dan para pemuda. Aku berkata: “Ajaklah aku keliling malam ini dan terangkanlah tentang apa yang aku sudah lihat tadi.” Maka keduanya berkata: “Baiklah. Ada pun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah orang yang suka berdusta dan bila berkata selalu berbohong, maka dia dibawa hingga sampai ke ufuk lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari kiamat. Ada pun orang yang kamu lihat kepalanya dipecahkan adalah seorang yang telah diajarkan Al-Quran oleh Allah lalu dia tidur pada suatu malam namun tidak melaksanakan Al-Quran pada siang harinya, lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari kiamat. Dan orang-orang yang kamu lihat berada di dalam dapur api, mereka adalah para penzina sedangkan orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah mereka yang memakan riba’ sementara orang tua yang berada di bawah pohon adalah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, sedangkan anak-anak yang ada di sekitarnnya adalah anak-anak kecil manusia. Ada pun orang yang menyalakan api adalah malaikat penunggu neraka, sedangkan rumah pertama yang kamu masuki adalah rumah bagi seluruh kaum mukminin, sedangkan rumah yang ini adalah perkampungan para syuhada’ dan aku adalah Jibril dan ini adalah Mikail, maka angkatlah kepalamu. Maka aku mengangkat kepalaku ternyata di atas kepalaku ada sesuatu seperti awan. Keduanya berkata: “Itulah tempatmu.” Aku berkata: “Biarkanlah aku memasuki rumahku.” Keduanya berkata: ” Umurmu masih tersisa dan belum selesai dan seandainya sudah selesai waktunya kamu pasti akan memasuki rumahmu.” (Sahih Bukhari, no. 1297, Musnad Ahmad, no. 19306)
Dari Sa’id bin Abi Al Hasan berkata: Aku pernah bersama Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu ketika datang seorang kepadanya seraya berkata: “Wahai Abu Abbas, aku adalah seorang yang mata pencarianku adalah dengan kemahiran tanganku iaitu membuat lukisan seperti ini.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Aku tidaklah menyampaikan kepadamu perkataan melainkan dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang Beliau bersabda: “Siapa yang membuat gambar lukisan, Allah akan menyiksanya hingga dia meniupkan roh (nyawa) kepada gambarnya itu dan sekali-kali dia tidak akan boleh mendatangkanhya selamanya.” Maka orang tersebut sangat ketakutan dengan wajah yang pucat pasi lalu berkata: “Bagaimana pendapatmu kalau aku tidak boleh meninggalkannya kecuali tetap menggambar?” Dia (Ibnu Abbas) berkata: “Gambarlah olehmu pepohonan dan setiap sesuatu yang tidak memiliki nyawa.” (Sahih Bukhari, no. 2073)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya di syurga ada sebuah pohon yang jika bayangannya ditempuh oleh para pengendara, memerlukan waktu seratus tahun lamanya, bacalah firman Allah jika kamu mahu, (al-Waqi’ah ayat 30) yang ertinya “Dan naungan yang terbentang luas”, dan hujung panah seseorang dari kalian di syurga lebih baik daripada tempat matahari terbit atau terbenam.” (Sahih Bukhari, no. 3013)
Dari Sa’id bin Jubair berkata Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma; “Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah ibu Nabi Isma’il ‘Alaihissalam. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah kemudian Ibrahim ‘Alaihissalam membawanya berserta anaknya Ismail yang saat itu ibunya masih menyusuinya hingga Ibrahim ‘Alaihissalam menempatkan keduanya dekat Baitullah (Kaabah) pada sebuah sumur di atas zamzam di hujung al-Masjidil Haram. Waktu itu di Makkah tidak ada seorang pun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim menempatkan keduanya di sana dan meninggalkan semacam karung berisi kurma dan kantung/geriba berisi air. Kemudian Ibrahim pergi untuk meninggalkan keduanya. Maka Ibu Ismail mengikutinya seraya berkata: “Wahai Ibrahim, kamu mahu pergi ke mana? Apakah kamu (sanggup) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apa pun ini”. Ibu Ismail terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali hingga akhirnya Ibrahim tidak menoleh lagi kepadanya. Akhirnya ibu Ismail bertanya: “Apakah Allah yang memerintahkan kamu atas semuanya ini?” Ibrahim menjawab: “Ya”. Ibu Ismail berkata: “Kalau begitu, Allah tidak akan mengsia-siakan kami”. Kemudian ibu Isma’il kembali dan Ibrahim melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan orang-orang tidak melihatnya lagi, Ibrahim menghadap ke arah (tapak) Kaabah lalu berdoa untuk mereka dengan beberapa kalimat doa dengan mengangkat kedua belah tangannya, katanya: “Rabbi, (sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu yang disucikan) hingga sampai kepada (semoga mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur)” (Ibrahim ayat 37). Kemudian ibu Ismail mulai menyusui anaknya dan minum dari air persediaan hingga ketika air yang ada pada kantung habis, dia menjadi haus begitu juga anaknya. Lalu dia memandang kepada Ismail sang bayi yang sedang meronta-ronta, atau dia berkata dengan redaksi: “Berguling-guling di atas tanah”. Kemudian Hajar pergi meninggalkan Ismail dan tidak kuat melihat keadaannya. Maka dia mendatangi bukit Safa sebagai gunung yang paling dekat keberadaannya dengannya. Dia berdiri di sana lalu menghadap ke arah lembah dengan harapan dapat melihat orang di sana namun dia tidak melihat seorang pun. Maka dia turun dari bukit Safa dan ketika sampai di lembah dia menyingsingkan hujung pakaiannya lalu berusaha keras layaknya seorang manusia yang berjuang keras hingga ketika dia dapat melalui lembah dan sampai di bukit Marwah lalu beridiri di sana sambil melihat-lihat apakah ada orang di sana namun dia tidak melihat ada seorang pun. Dia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali (antara bukit Safa dan Marwah). Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itulah sa’ie yang mesti dilakukan oleh manusia (yang berhaji) antara kedua bukit itu”. Ketika berada di puncak Marwah, dia mendengar ada suara, lalu dia berkata dalam hatinya “diamlah”, yang Hajar maksud adalah dirinya sendiri. Kemudian dia berusaha mendengarkanya maka dia dapat mendengar suara itu lagi maka dia berkata: “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud meminta pertolongan”. Ternyata suara itu adalah suara malaikat (Jibril ‘Alaihissalam) yang berada di dekat zamzam, lantas Jibril menggali air dengan ‘tumitnya’ atau katanya ‘dengan sayapnya’ hingga air keluar memancar. Ibu Ismail mulai membuat tampungan air dengan tangannya seperti ini iaitu mencedok air dan memasukkannya ke kantung sedangkan air terus saja memancar dengan deras setelah dicedok”. Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati Ummu Ismail (Siti Hajar) kerana kalau dia membiarkan zamzam atau kalau dia tidak segera menampung air tentulah air zamzam itu akan menjadi air yang mengalir”. Akhirnya dia dapat minum air dan menyusui anaknya kembali. Kemudian malaikat berkata kepadanya: “Janganlah kalian takut dibinasakan kerana di sini adalah rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan mengsia-siakan hamba-Nya”. Pada saat itu Kaabah Baitullah posisinya agak tinggi dari permukaan tanah seperti sebuah bukit kecil, yang apabila datang banjir akan terkikis dari samping kanan dan kirinya. Ibu Ismail, Hajar terus melalui hidup seperti itu hingga kemudian lalu serombongan orang dari suku Jurhum atau keluarga Jurhum yang datang dari jalur bukit Kadaa’ lalu singgah di hilir Makkah kemudian mereka melihat ada seekor burung sedang terbang berputar-putar. Mereka berseru: “Burung ini pasti berputar kerana mengelilingi air padahal kita mengetahui secara pasti bahawa di lembah ini tidak ada air. Akhirnya mereka mengutus satu atau dua orang yang larinya cepat dan ternyata mereka menemukan ada air. Mereka kembali dan mengkhabarkan keberadaan air lalu mereka mendatangi air. Beliau berkata: “Saat itu Ibu Ismail sedang berada dekat pada air”. Mereka berkata kepadanya: “Apakah kamu mengizinkan kami untuk singgah (tinggal) bersama denganmu di sini?” Ibu Ismail berkata: “Ya boleh tapi kalian tidak berhak memiliki air”. Mereka berkata; “Baiklah”. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ibu Ismail menjadi senang atas peristiwa ini kerana ada orang-orang yang tinggal bersamanya”. Akhirnya mereka pun tinggal di sana dan mengirim utusan kepada keluarga mereka untuk mengajak mereka tinggal bersama-sama di sana”. Ketika para keluarga dari mereka sudah tinggal bersama Hajar dan Ismail sudah beranjak belia, dia belajar berbahasa arab dari mereka, bahkan menjadi manusia paling berharga dan paling ajaib di kalangan mereka. Kemudian Ismail membesar menjadi seorang pemuda yang disenangi oleh mereka. Setelah dewasa, mereka menikahkan Ismail dengan seorang wanita dari mereka dan tak lama kemudian ibu Ismail meninggal dunia. Di kemudian hari Ibrahim datang setelah Ismail menikah untuk mencari tahu apa yang telah ditinggalkannya namun dia tidak menemukan Ismail. Ibrahim bertanya tentang Ismail kepada isterinya Ismail. Isterinya menjawab: “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami. Lalu Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka. Isteri Ismail menjawab: “Kami mengalami banyak keburukan dan hidup kami sempit dan penuh penderitaan yang berat”. Isteri Ismail mengadukan kehidupan yang dijalaninya bersama suaminya kepada Ibrahim. Ibrahim berkata: “Nanti apabila suami kamu datang sampaikan salam dariku dan katakan kepadanya agar mengubah bingkai pintu rumahnya”. Ketika Ismail datang dia merasakan sesuatu lalu dia bertanya kepada isterinya: “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Isterinya menjawab: “Ya. Tadi ada orang tua begini dan begini keadaannya datang kepada kami dan dia menanyakan kamu lalu aku terangkan dan dia bertanya kepadaku tentang keadaan kehidupan kita maka aku terangkan bahawa aku hidup dalam kepayahan dan penderitaan”. Ismail bertanya: “Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Isterinya menjawab: “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mengubah bingkai pintu rumah kamu”. Ismail berkata: “Dialah ayahku dan sungguh dia telah memerintahkan aku untuk menceraikan kamu maka itu kembalilah kamu kepada keluargamu”. Maka Ismail menceraikan isterinya. Kemudian Ismail menikah lagi dengan seorang wanita lain dari kalangan penduduk itu lalu Ibrahim pergi lagi meninggalkan mereka dalam kurun waktu yang dikehendaki Allah dan setelah itu datang kembali untuk menemui mereka namun dia tidak mendapatkan Ismail hingga akhirnya dia mendatangi isteri Ismail lalu bertanya kepadanya tentang Ismail. Isterinya menjawab; “Dia sedang pergi mencari nafkah untuk kami. Lalu Ibrahim bertanya lagi: “Bagaimana keadaan kalian”. Dia bertanya kepada isterinya Ismail tentang kehidupan dan keadaan hidup mereka. Isterinya menjawab: “Kami selalu dalam keadaan baik-baik saja dan cukup”. Isteri Ismail memuji Allah. Ibrahim bertanya: ‘Apa makanan kalian?’ Istri Ismail menjawab: “Daging”. Ibrahim bertanya lagi: “Apa minuman kalian?’ Istri Ismail menjawab: “Air”. Maka Ibrahim berdoa: “Ya Allah, berkatilah mereka dalam daging dan air mereka”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saat itu tidak ada biji-bijian di Makkah dan seandainya ada tentu Ibrahim sudah mendoakannya”. Dia berkata: “Dan dari doa Ibrahim tentang daging dan air itulah, tidak ada seorang pun selain penduduk Makkah yang mengeluh bila yang mereka dapati hanya daging dan air”. Ibrahim selanjutnya berkata: “Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam dariku kepadanya dan perintahkanlah dia agar memperkukuh bingkai pintu rumahnya”. Ketika Ismail datang, dia berkata: “Apakah ada orang yang datang kepadamu?” Isterinya menjawab: “Ya. Tadi ada orang tua dengan penampilan sangat baik datang kepada kami”. Isterinya mengagumi Ibrahim. Dia bertanya kepadaku tentang kamu maka aku terangkan lalu dia bertanya kepadaku tentang keadaan hidup kita maka aku jawab bahawa aku dalam keadaan baik-baik saja”. Ismail bertanya: “Apakah orang itu ada memberi pesan kepadamu tentang sesuatu?” Isterinya menjawab: “Ya. Dia memerintahkan aku agar aku menyampaikan salam darinya kepadamu dan berpesan agar kamu mempertahankan bingkai pintu rumah kamu”. Ismail berkata: “Dialah ayahku dan bingkai pintu yang dimaksud adalah kamu. Dia memerintahkanku untuk mempertahankan kamu”. Kemudian Ibrahim meninggalkan mereka lagi untuk waktu tertentu sebagaimana dikehendaki Allah, lalu datang kembali setelah itu saat Ismail meletakkan anak panahnya di bawah sebatang pohon dekat zamzam. Ketika dia melihatnya, dia segera menghampirinya dan berbuat sebagaimana layaknya seorang ayah terhadap anaknya dan seorang anak terhadap ayahnya kemudian dia berkata: “Wahai Ismail, Allah memerintahkanku dengan suatu perintah”. Ismail berkata: “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu”. Ibrahim berkata lagi: Apakah kamu akan membantu aku?” Ismail berkata: “Ya aku akan membantumu”. Ibrahim berkata: “Allah memerintahkan aku agar membangun rumah di tempat ini”. Ibrahim menunjuk ke suatu tempat yang agak tinggi di banding sekelilingnya”. Perawi berkata: “Dari tempat itulah keduanya meninggikan asas Baitullah, Ismail bekerja mengangkut batu-batu sedangkan Ibrahim yang menyusunnya (membangunnya) hingga ketika bangunan sudah tinggi, Ismail datang membawa batu ini lalu meletakkannya untuk Ibrahim agar boleh naik di atasnya sementara Ismail memberikan batu-batu. Keduanya bekerja sambil mengucapkan kalimah doa: “Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”. Keduanya terus saja membangun hingga mengelilingi Baitullah dan keduanya terus saja membaca doa: “Rabb kami, terimalah (amal) dari kami sesungguhnya Engkau Maha Mendengar dan Maha Mengetahui” (Al-Baqarah ayat 127). (Sahih Bukhari, no. 3113)
Dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah di suatu hari Jumaat berdiri di atas sebatang pohon atau pohon kurma lalu ada seorang wanita atau seorang laki-laki Ansar berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau kami buatkan mimbar untuk baginda?” Beliau menjawab: “Silakan, bila kalian kehendaki.” Maka mereka membuatkan untuk beliau sebuah mimbar. Ketika hari Jumaat beliau naik ke atas mimbar lalu batang pohon kurma tadi berteriak bagaikan teriakan bayi. Maka kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam turun menghampiri batang pohon tersebut lalu memeluknya sehingga teriakannya melemah hingga bagaikan rintihan bayi yang akhirnya diam dengan sendirinya. Beliau bersabda: “Batang kayu itu menangis kerana mendengar zikir di sekelilingnya”. (Sahih Bukhari, no. 3319)
Dari Abu Musa dia meriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat dalam mimpiku bahawa aku akan berhijrah dari Makkah ke suatu tempat yang padanya tumbuh pepohonan kurma lalu aku menduga bahawa itu adalah negeri Yamamah atau Hajar (tempat hijrah yang lain) yang ternyata adalah Madinah, kota Yathrib. Dan aku melihat dalam mimpiku ini bahawa aku mengayun-ayunkan pedang lalu menjadi patah pada bahagian pangkalnya yang ternyata itu merupakan isyarat yang akan menimpa Kaum Mukminin pada perang Uhud, lalu aku mengayun-ayunkan kembali pedang tersebut, lalu pedang itu kembali menjadi utuh seperti sedia kala, itu bererti apa yang Allah akan datangkan berupa kemenangan dan bersatunya Kaum Mukminin, dan aku melihat pula dalam mimpiku itu seekor sapi, yang demi Allah sangat bagus bentuknya, itu bererti Kaum Mukminin pada perang Uhud yang akan mendapatkan kebaikan seperti yang Allah datangkan dari kebaikan dan pahala, sebagai janji yang benar yang telah Allah berikan kepada kita pada perang Badar”. (Sahih Bukhari, no. 3352)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Wahai Rasulullah, bagaimanakah sekiranya anda singgah di suatu lembah, dan di dalam lembah itu terdapat pohon yang buahnya telah dimakan, lalu anda mendapatkan satu pohon yang buahnya belum dimakan, maka pada pohon manakah anda akan menambatkan unta anda?” Beliau pun menjawab: “Pada pohon yang belum dijamah.” Maksudnya, adalah bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam belum pernah menikahi gadis selainnya. (Sahih Bukhari, no. 4687)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah disihir hingga seakan-akan beliau telah mendatangi para isterinya, padahal beliau tidak mendatanginya, -Sufyan mengatakan: “Bahawa keadaan seperti ini termasuk sihir yang paling berat- Kemudian beliau bersabda: “Wahai Aisyah, apakah kamu mengetahui bahawa Allah telah memberikan fatwa (menghukumi) dengan apa yang telah aku fatwakan (hukumi)? Dua orang laki-laki (malaikat) telah datang kepadaku, lalu salah seorang dari keduanya duduk di atas kepalaku dan satunya lagi di kakiku. Kemudian seorang yang berada di kepalaku berkata kepada yang satunya: “Kenapa laki-laki ini?” Temannya menjawab: “Terkena sihir.’ Salah seorang darinya bertanya: “Siapakah yang menyihirnya?” Temannya menjawab: “Lubid bin Al A’sham, laki-laki dari Bani Zuraiq, seorang munafik dan menjadi sekutu orang-orang Yahudi.” Salah seorang darinya bertanya: “Dengan benda apakah dia menyihir?” Temannya menjawab: “Dengan rambut yang terjatuh ketika disisir.” Salah seorang darinya bertanya: “Di manakah benda itu diletakkan?” Temannya menjawab: “Di mayang kurma yang diletakkan di bawah batu dalam sumur Dzarwan.” Aisyah berkata: “Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi sumur tersebut hingga beliau dapat mengeluarkan barang tersebut, lalu beliau bersabda: “Ini adalah sumur yang diperlihatkan padaku, seakan-akan airnya berubah bagaikan rendaman pohon inai dan seakan-akan pohon kurmanya bagaikan kepala syaitan.” Abu Hisyam berkata: “Apakah beliau meminta barangnya dikeluarkan?” Aisyah berkata: Lalu aku bertanya: “Apakah anda tidak meruqyahnya?” Beliau bersabda: “Tidak, sesungguhnya Allah telah menyembuhkanku dan aku hanya tidak suka memberikan kesan buruk kepada orang lain dari peristiwa itu.” (Sahih Bukhari, no. 5323)
Dari Abu Qatadah bin Rib’i Al Anshari, ia menceritakan bahawasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah dilalui jenazah, kemudian beliau bersabda: “Telah tiba gilirannya seorang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa maksud anda ada orang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman?” Jawab Nabi: “seorang hamba yang mukmin akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, (maka) manusia, negara, pepohonan atau haiwan menjadi nyaman kerana kematiannya.” (Sahih Bukhari, no. 6031)
Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat. (1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang. (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (kerana pakaiannya terlalu minima, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang lelaki kerana sebahagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disanggul) bagaikan punuk (bonggol) unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk syurga, bahkan tidak dapat mencium bau syurga. Padahal bau syurga itu dapat tercium dari (jarak) begini dan begini.” (Sahih Muslim, no. 3971, no. 5098)
Dari Aisyah dia berkata: “(Suatu ketika) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk, maka kami mendengar suara hiruk pikuk dan suara anak-anak kecil, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, ternyata seorang budak wanita Habsyah sedang menari dan bermain, sedangkan di sekitarnya ada beberapa anak-anak kecil, maka beliau bersabda: “Kemarilah wahai Aisyah dan lihatlah.” Aku pun datang, sambil menaruh daguku di atas bahu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku melihat pertunjukan itu -iaitu antara bahu sampai kepala beliau-, maka beliau bersabda kepadaku: “Apakah kamu sudah puas, apakah kamu sudah puas?” Jawabku: “Belum.” Kerana aku masih ingin berada dekat beliau, tiba-tiba Umar muncul, Aisyah berkata: “Maka orang-orang (yang ada di situ) sama berlarian.” Aisyah berkata: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku telah melihat syaitan dari jenis jin dan manusia telah lari dari Umar.” Aisyah berkata: “Lalu aku pun kembali.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3624, hasan sahih gharib)
Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari permukaan bumi, kemudian Abu Bakar kemudian Umar, kemudian aku datang kepada penghuni Baqi’, hingga akhirnya mereka dikumpulkan bersamaku, lalu aku menunggu penduduk Makkah sehingga mereka di kumpulkan di antara Haramain (Tanah Haram).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3625, hasan gharib)
Dari Abdullah bin Mas’ud bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang kepada kalian seseorang dari penghuni syurga.” Ternyata yang muncul adalah Abu Bakar, kemudian beliau bersabda: “Akan datang kepada kalian seseorang dari penghuni syurga.” Ternyata yang muncul adalah Umar.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3627, gharib)
Anas bin Malik berkata, ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Akan muncul kepada kalian seorang laki-laki penghuni syurga”, lalu muncul seorang laki-laki Ansar yang janggutnya masih bertitisan air sisa wudhu’, sambil menggantungkan kedua seliparnya pada tangan kirinya. Esok harinya Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda seperti itu juga, lalu muncul laki-laki itu lagi seperti yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda seperti itu juga dan muncul laki-laki itu kembali seperti keadaan dia yang pertama. Ketika Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam berdiri, Abdullah bin Amru bin Al-Ash Radhiallahu ‘anhu mengikuti laki-laki tersebut dengan berkata: “Kawan, saya ini sebenarnya sedang bertengkar dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari, jika boleh, izinkan saya tinggal di tempatmu hingga tiga malam.” “Tentu”, jawab laki-laki tersebut. Anas bin Malik berkata, Abdullah Radhiallahu ‘anhu bercerita: Aku tinggal bersama laki-laki tersebut selama tiga malam, anehnya tidak pernah aku temukannya mengerjakan solat malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari tempat tidurnya, lalu berzikir kepada Allah ‘azza wajalla dan bertakbir sampai ia mendirikan solat fajar, selain itu juga saya tidak pernah mendengar dia berkata kecuali yang baik baik saja, maka ketika berlalu tiga malam dan hampir-hampir saja saya menganggap biasa amalannya, saya berkata: “Wahai kawan, sebenarnya antara saya dengan ayahku sama sekali tidak ada pergaduhan dan saling mendiamkan seperti yang telah saya katakan, akan tetapi saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda tentang dirimu tiga kali: “Akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni syurga.” Lalu kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa yang membuat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam sampai mengatakan engkau ahli syurga?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat”, maka tatkala aku berpaling, laki-laki tersebut memanggilku dan berkata: “Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku, rasa ingin menipu terhadap siapa pun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah merasa iri dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikurniakan oleh Allah kepada seseorang.” Maka Abdullah Radhiallahu ‘anhu berkata: “Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada darjat yang tidak boleh kami lakukan.” (Musnad Ahmad, no. 12236)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahawa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di gua Hira’ bersama Abu Bakar, Umar, Uthman, Ali, Thalhah dan Zubair, tiba-tiba batu besar (yang mereka injak) bergegar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tenanglah, kerana yang bersamamu adalah seorang Nabi, dan As-Siddiq (Abu Bakar), serta dua Syahid (Umar dan Uthman).” (Sahih Muslim, no. 4438, Sunan At-Tirmidzi, no. 3629, sahih, no. 3630, hasan sahih)
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari datuknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian menikah atau membeli budak (hamba) maka hendaknya ia memegang ubun-ubunnya dan berdoa untuk mendapatkan berkat pada wanita dan budak (seraya) mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَمِنْ شَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan sesuatu yang Engkau ciptakan dia padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan sesuatu yang Engkau ciptakan dia padanya.”
Dan apabila ia membeli unta maka hendaknya ia memegang bonggolnya dan mengucapkan seperti itu! (Sunan Abu Daud, no. 1845, Kitab Nikah)
Dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapanya dari datuknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Apabila salah seorang dari kalian hendak mengambil manfaat dari seorang isteri (bersetubuh), atau pembantu, atau haiwan, hendaklah ia pegang ubun-ubunnya sambil mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جُبِلَتْ عَلَيْهِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan yang telah Engkau berikan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya.” (Sunan Ibnu Majah, no. 1908, Kitab Nikah)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila salah seorang di antara kalian hendak mendatangi isterinya (mengaulinya) hendaknya mengucapkan (doa):
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkan kami dari syaitan dan jauhkan syaitan dari anak yang Engkau rezekikan kepada kami.”
Kemudian (jika) ditakdirkan mereka berdua memiliki anak dari hubungan tersebut, maka anak tersebut tidak akan diganggu syaitan selamanya. (Sahih Bukhari, no. 138, Kitab Wudhu’, no. 3031, Kitab : Permulaan penciptaan makhluk, Sahih Muslim, no. 2591, Kitab Nikah, Sunan Abu Daud, no. 1846, Kitab Nikah)
Dari Ibnu Abu Al Mu’alla dari ayahnya bahawa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkhutbah, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang diberi pilihan oleh Rabbnya Azza wa jalla untuk memilih antara hidup di dunia sesuka hati, ia boleh makan di dunia sesuka hati atau memilih berjumpa dengan Rabbnya, maka ia pun memilih berjumpa dengan Rabbnya (peristiwa hampir wafatnya beliau).” Abu Al Mu’ala berkata: “Lalu Abu Bakar menangis.” Maka para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Tidakkah kalian hairan dengan orang tua ini (Abu Bakar), ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki soleh yang disuruh Rabnya memilih antara (perhiasan) dunia atau berjumpa dengan Rabbnya namun ia memilih berjumpa dengan Rabbnya.” Abu Al Mu’alla berkata; “Abu Bakar adalah orang yang paling mengerti maksud dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antara para sahabat yang lain, maka Abu bakar berkata; “Bahkan kami akan menebus anda dengan harta dan anak-anak kami wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak seorang pun di antara manusia yang lebih berbuat baik kepada kami dalam persahabatannya dan apa yang telah diberikannya melebihi imannya Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar), seandaianya aku boleh menjadikan khalil (kekasih sebagai seorang Nabi) tentulah aku menjadikan Ibnu Abi Quhafah (Abu Bakar) sebagai khalil, akan tetapi ia sangat menyukai persaudaraan dan keimanan (yang tulus) -beliau mengatakannya hingga dua kali-. Ketahuilah sesungguhnya sahabat kalian ini (Abu Bakar) adalah khalilullah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3592, hasan gharib, Musnad Ahmad, no. 15357)
Dari Abu Sa’id Al Khudri bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di atas mimbar, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menawarkan pada hamba-Nya antara perhiasan dunia sesuai yang ia kehendaki dan apa yang ada di sisi-Nya, namun hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya (peristiwa hampir wafatnya beliau).” Maka Abu Bakar berkata; “Bahkan kami akan menebus anda dengan bapa-bapa kami dan anak-anak kami wahai Rasulullah.” Abu Sa’id berkata; “Kami pun kehairanan.” Lantas orang-orang (para sahabat) berkata; “Lihatlah kepada syaikh (orang tua yakni Abu Bakar) ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhabarkan tentang seorang hamba yang disuruh memilih antara diberi perhiasan dunia sekehendak hatinya dengan apa yang ada di sisi-Nya, jesteru ia berkata; Bahkan kami akan menebus anda dengan bapa-bapa kami dan anak-anak kami.” Abu Sa’id berkata; “Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba yang diberi pilihan tersebut, sedangkan Abu Bakar adalah orang yang lebih mengetahui hal itu. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik orang terhadapku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar, jika saja aku boleh menjadikan kekasih selain Allah, nescaya akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, namun persaudaraan Islam (sebagai kecintaan), tidaklah tersisa seberkas cahaya di dalam masjid kecuali melainkan cahaya Abu Bakar.” (Sahih Bukhari, no. 446, Sunan At-Tirmidzi, no. 3593, hasan sahih)
Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada tangan seorang pun di sisi kami kecuali telah kami cukupkan melainkan Abu Bakar, kerana bagiku ia memiliki tangan yang Allah cukupkan baginya pada hari Kiamat, dan tidak ada harta seorang pun yang dapat memberiku manfaat sebagaimana harta Abu Bakar memberi manfaat kepadaku, sekiranya aku di perbolehkan mengambil seorang kekasih, sungguh aku akan mengambil Abu Bakar sebagai khalil (kekasih), dan ketahuilah bahawa sahabat kalian ini adalah khalilullah (kekasih Allah).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3594, hasan gharib)
Dari Ali bin Abi Talib dia berkata; “Kami bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba Abu Bakar dan Umar muncul (di hadapan kami), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua orang ini adalah penghulu penduduk syurga yang berusia dewasa dari orang pertama hingga yang terakhir selain para Nabi dan para Rasul, jangan beritahu kepada keduanya wahai Ali.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3598, hasan gharib)
Dari Aisyah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Suruhlah Abu Bakar menjadi (imam solat) dengan orang-orang.” Maka Aisyah berkata; “Wahai Rasulullah sesungguhnya apabila Abu Bakar mengimami manusia, mereka tidak akan mendengar (ucapannya) kerana tangisannya, oleh kerana itu, suruhlah Umar untuk mengimami manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia.” Aisyah berkata; maka aku berkata kepada Hafsah; “Katakan pada beliau, sesungguhnya apabila Abu Bakar mengimami manusia, mereka tidak akan mendengarnya kerana tangisannya, maka suruhlah Umar untuk mengimami manusia.” Lalu Hafsah pun melaksanakannya, namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya kalian seperti sahabat Yusuf (suka mengingkari), suruhlah Abu Bakar untuk mengimami manusia.” Lalu Hafsah berkata kepada Aisyah; “Sungguh aku tidak mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3605, hasan sahih)
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak layak bagi suatu kaum yang terdapat di di tengah mereka Abu Bakar untuk menjadikan Imam selainnya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3606, hasan gharib)
Umar bin Khattab berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada kami untuk bersedekah, bertepatan dengan itu, aku mempunyai harta, aku berkata (dalam hati): “Pada hari ini, aku lebih unggul dari pada Abu Bakar jika aku lebih dulu.” Umar berkata: “Lalu aku datang dengan setengah dari hartaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa yang kamu tinggalkan buat keluargamu?” Jawabku; “Sepertinya itu (setengah).” Lalu Abu Bakar datang dengan membawa seluruh (harta) yang ia punyai. Beliau bertanya: “Apa yang kamu tinggalkankan buat keluargamu?” Dia menjawab; “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Maka aku (Umar) berkata; “Demi Allah. Aku tidak pernah boleh mendahuluinya (Abu Bakar) terhadap sesuatu pun selamanya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3608, hasan sahih, Sunan Ad-Darimi, no. 1601)
Dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang Nabi melainkan ia memiliki dua orang wazir (orang kepercayaan) dari penduduk langit dan penduduk bumi, sedangkan dua wazirku dari penduduk langit adalah Jibril dan Mikail, sedangkan dua wazirku dari penduduk bumi adalah Abu Bakar dan Umar.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3613, hasan gharib)
Dari Uqbah bin Amir dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya sepeninggalku ada seorang Nabi, maka itu adalah Umar bin Khattab.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3619, hasan gharib, Musnad Ahmad, no. 16764)
Dari Anas bahawa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku masuk syurga, tiba-tiba aku berada di istana yang terbuat dari emas, aku bertanya: “Untuk siapakah istana ini?” (Para malaikat) menjawab: “Untuk seorang pemuda Quraisy.” Aku mengira bahawa akulah orangnya. Maka aku bertanya: “Siapakah dia?” Mereka mengatakan: “Dia adalah Umar bin Khattab.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3621, hasan sahih)
Dari Jabir bin Abdullah mengatakan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku masuk syurga, tak tahunya aku berada di sebuah istana emas. Maka aku bertanya: ‘Milik siapakah ini?’ Mereka (malaikat) menjawab; ‘Milik seseorang dari Quraisy (Umar).’ Dan tiada yang menghalangiku untuk memasukinya hai (Umar) Ibnu Khattab selain kerana aku tahu kecemburuanmu.” Maka Umar menjawab: ‘Apakah terhadapmu aku cemburu (akan) ya Rasulullah?’ (Sahih Bukhari, no. 6506)
Dari Abu Buraidah dia berkata: Pada suatu pagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Bilal lalu bersabda: “Hai Bilal, dengan apa kau mendahuluiku ke syurga, tidaklah aku masuk ke syurga sama sekali kecuali aku mendengar bunyi tapak kasutmu dihadapanku. Tadi malam aku masuk ke syurga lalu aku mendengar bunyi tapak kasutmu, lalu aku mendatangi istana emas yang tinggi dan menjulang, aku bertanya: “Untuk siapakah ini?” Mereka (para Malaikat) menjawab: “Untuk seseorang dari bangsa Arab.” Aku berkata: “Aku orang Arab, untuk siapakah istana ini?” Mereka menjawab: “Untuk seorang laki-laki dari umat Muhammad.” Aku berkata: “Aku Muhammad, untuk siapakah istana ini?” Mereka menjawab: “Untuk Umar bin Al Khattab.” Maka Bilal berkata: “Wahai Rasulullah, tidaklah aku mendengar azan melainkan setelah itu aku menunaikan solat (sunnah) dua rakaat, dan tidaklah aku berhadas melainkan aku lekas bersuci (wudhu’) kerananya, dan saya berpendapat bahawa Allah menetapkan dua rakaat atasku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dengan kedua amalan itulah (kamu mendahuliku ke syurga.” Sedangkan makna hadith: “Sesungguhnya tadi malam aku masuk syurga adalah aku bermimpi seakan-akan aku masuk syurga.” Dari Ibnu Abbas bahawa dia berkata: “Mimpinya para Nabi adalah wahyu.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3622, hasan sahih gharib, Musnad Ahmad, no. 21918)
Dari Abdullah berkata: Seorang Yahudi mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam lalu berkata: Hai Muhammad, sesungguhnya Allah menahan langit dengan satu jari, bumi dengan satu jari, gunung dengan satu jari, para makhluk dengan satu jari lalu berfirman: Akulah Raja. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau, beliau bersabda: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan” (Az-Zumar: 67). (Sahih Bukhari, no. 6865, Sunan At-Tirmidzi, no. 3162)
Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Mina, kemudian bulan terbelah menjadi dua belah, sebelah dari balik gunung dan sebelah di depan gunung. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada kami: Saksikanlah! ‘Iaitu telah dekat datangnya hari kiamat dan telah terbelah bulan’ (Al-Qamar: 1). (Sahih Muslim, no. 5011, Sunan At-Tirmidzi, no. 3207)
Dari At Thufail bin Ubay bin Ka’ab dari ayahnya bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan antara diriku dengan para Nabi yang lain seperti seseorang yang membangun bangunan, lalu ia membaguskan, menyempurnakan dan menghiasinya, namun masih kurang satu bahagian pada bangunan tersebut. Lalu orang-orang mengelilingi bangunan itu dengan kehairanan seraya berkata; “Sekiranya lubang bata tersebut sempurna!” Maka kedudukanku bagi para Nabi tersebut ibarat tempat lubang bata itu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat kelak, aku akan menjadi imamnya para Nabi dan jurubicara mereka serta pemberi syafa’at mereka, bukannya untuk membanggakan diri.” (Sahih Muslim, no. 4240, Sunan At-Tirmidzi, no. 3546)
Dari Ibnu Abbas dia berkata; “Beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk sambil menunggu beliau. Lalu beliau keluar, ketika beliau mendekati mereka, beliau mendengarkan percakapan mereka, sebagian dari mereka berkata dengan penuh ketakjuban bahawa Allah telah memilih Ibrahim di antara makhluknya sebagai Khalil (kekasih), dan sebahagian yang lain berkata; “Apa ada yang lebih istimewa dari pada Musa, kerana Allah telah berbicara langsung kepadanya.” Dan sebahagian yang lain berkata: “Isa adalah Kalimatullah (tercipta dengan ucapan; “kun, fa yakuun (jadilah, maka jadi)” dan roh-Nya.” Sebahagian lagi mengatakan; “Adamlah yang telah Allah pilih”. Maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah keluar kepada mereka dan mengucapkan salam seraya bersabda: “Sungguh aku telah mendengar pembicaraan kalian dan rasa takjub kalian, sesungguhnya Ibrahim adalah Khalil (kekasih)-Nya dan dia seperti yang kalian katakan. Begitu juga Musa, ia merupakan orang yang diajak bicara langsung oleh Allah dan dia memang seperti itu, dan Isa, dia adalah Kalimatullah dan roh-Nya dan dia memang seperti itu, dan Adam yang telah Allah pilih dan dia memang seperti itu, sementara aku adalah kesayangan Allah bukannya membanggakan diri, akulah pembawa bendera pujian pada hari Kiamat, dan bukan bermaksud membanggakan diri, dan aku adalah orang yang pertama kali memberikan syafaat dan yang pertama kali diberi syafaat oleh Allah pada hari kiamat, dan bukan bermaksud membanggakan diri, dan aku adalah orang yang pertama kali menggerakkan rantai syurga maka Allah membuka pintu syurga dan memasukkan aku kedalamnya bersama orang fakir dari orang-orang yang beriman bukannya bermaksud untuk membanggakan diri, dan aku adalah orang yang paling mulia dari generasi awal hingga akhir disisi Allah bukannya bermaksud untuk membanggakan diri.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3549, Sunan Ad-Darimi, no. 47)
Dari Aus bin Aus dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda: “Hari kalian yang paling utama adalah hari Jumaat (kerana) pada hari itu Nabi Adam dicipta, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu ditiupnya sangkakala (menjelang kiamat), dan pada hari (mereka) dijadikan pengsan. Maka perbanyaklah selawat kepadaku (kerana) selawat kalian disampaikan kepadaku.” Mereka (para sahabat) berkata; “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bagaimana mungkin selawat kami boleh disampaikan kepada engkau, sedangkan engkau telah meninggal -atau mereka berkata; “telah hancur (tulangnya)?”- Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu berkata: “Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi ‘Alaihimus Salam.” (Sunan An-Nasai, no. 1357)
Dari Sahal radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dalam syurga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari kiamat tidak akan ada orang yang masuk ke syurga melalui pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka: Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”. (Sahih Bukhari, no. 1763, Sunan An-Nasai, no. 2205)
Dari Abdullah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang memiliki harta yang ia tidak menunaikan hak hartanya (zakat), melainkan akan dijadikan untuknya ular botak sebagai kalung dilehernya, ia berlari tercirit-birit darinya namun ular tersebut terus mengikutinya.” Kemudian beliau membaca pembenarannya dari Kitabullah Azza wa Jalla, ‘Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari kurnia-Nya menyangka bahawa kebakhilan baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat…” (Ali Imraan: 180). (Sunan At-Tirmidzi, no. 2938, Sunan An-Nasai, no. 2398)
Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam: “(Pada hari kiamat nanti) akan datang seekor unta dalam bentuknya yang paling baik kepada pemiliknya yang ketika di dunia dia tidak menunaikan haknya (zakatnya). Maka unta itu akan menginjak-injaknya dengan kakinya. Begitu juga akan datang seekor kambing dalam bentuknya yang paling baik kepada pemiliknya yang ketika di dunia dia tidak menunaikan haknya (zakatnya). Maka kambing itu akan menginjak-injaknya dengan kakinya dan menyeruduknya dengan tanduknya”. Dan Beliau berkata: “Dan di antara haknya adalah memerah air susunya (lalu diberikan kepada faqir miskin)”. Beliau Shallallahu’alaihiwasallam melanjutkan: “Dan pada hari kiamat tidak seorang pun dari kalian yang datang membawa seekor kambing di pundaknya kecuali kambing tersebut terus bersuara, lalu orang itu berkata: “Wahai Muhammad!” Maka aku menjawab: “Aku sedikit pun tidak punya kekuasaan atasmu kerana aku dahulu sudah menyampaikan (masalah zakat ini). Dan tidak seorang pun dari kalian yang datang membawa seekor unta di pundaknya kecuali unta tersebut terus bersuara, lalu orang itu berkata: “Wahai Muhammad!” Maka aku berkata: “Aku sedikit pun tidak punya kekuasaan atasmu kerana aku dahulu sudah menyampaikan (masalah zakat ini)”. (Sahih Bukhari, no. 1314, Sunan An-Nasai, no. 2405)
Dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapanya dari datuknya bahawa seorang wanita dari negeri Yaman datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama puterinya yang mengenakan dua gelang ditangannya berukuran besar terbuat dari emas, lalu beliau bertanya: “Apakah kamu telah mengeluarkan zakat gelang ini?” Ia menjawab; ‘Tidak.’ Beliau bersabda: ‘Apakah kamu senang pada hari Kiamat nanti Allah Azza wa Jalla akan menggelangimu dengan dua gelang dari api neraka?’ Ibnu Amru berkata; ‘Maka ia segera melepas kedua gelang tersebut dan melemparkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya berkata; ‘Kedua gelang itu untuk Allah dan Rasul-Nya.’ (Sunan An-Nasai, no. 2434)
Dari Abu Hurairah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat di satu tanah lapang kemudian Dia mendatangi mereka, Dia berfirman: Ingat, setiap manusia mengikuti apa yang pernah disembahnya. Lalu penyembah salib diperlihatkan penjelmaan salibnya, penyembah patung diperlihatkan penjelmaan patungnya dan penyembah api diperlihatkan penjelmaan apinya lalu mereka mereka mengikuti yang pernah mereka sembah dan kaum muslimin tetap tinggal. Setelah itu Rabb semesta alam mendatangi mereka, Dia bertanya: Apa kau tidak mengikuti mereka? Mereka berkata: Kami berlindung diri kepada Allah darimu, kami berlindung diri kepada Allah darimu, Rabb kami, ini adalah tempat kami hingga kami melihat Rabb kami. Dia memerintah mereka dan meneguhkan mereka kemudian bersembunyi, setelah itu datang dan bertanya: Apa kau tidak mengikuti mereka? Mereka berkata: Kami berlindung diri pada Allah darimu, kami berlindung diri pada Allah darimu, Rabb kami, ini adalah tempat kami hingga kami melihat Rabb kami. Dia memerintah mereka dan meneguhkan mereka.” Mereka bertanya: Apakah kita melihatNya, wahai Rasulullah? Beliau balik bertanya: “Apakah kalian (menghadapi) kesulitan saat melihat rembulan di malam purnama?” Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian tidaklah (menghadapi) kesulitan melihat-Nya saat itu. Setelah itu Dia bersembunyi lalu muncul, lalu Dia mengenalkan diri-Nya kepada mereka, Dia berfirman: Aku Rabb kalian, ikutilah aku. Kaum muslimin berdiri, kemudian (titian) sirat diletakkan. Mereka pun melintasinya seperti kuda-kuda terbaik dan pengendara, kata-kata mereka saat berada di atas sirat: Selamatkan, selamatkan. Setelah itu yang tersisa hanyalah penghuni neraka, di antara mereka ada segolongan besar dilemparkan ke neraka, setelah itu neraka di tanya: Apa kau sudah penuh? Neraka menjawab: Apakah ada yang lain? Setelah itu yang tersisa penghuni neraka, di antara mereka ada segolongan besar dilemparkan ke neraka, setelah itu neraka ditanya: Apa kau sudah penuh? Neraka menjawab: Apakah ada yang lain? Hingga setelah mereka semua di periksa, Allah Yang Maha Pemurah meletakkan kaki-Nya di neraka dan menghimpitkannya satu sama lain. Dia bertanya: Sudah cukupkah? Neraka menjawab: Cukup, cukup. Setelah Allah memasukkan penghuni syurga ke syurga dan penghuni neraka ke neraka, kematian didatangkan dengan diseret kemudian didirikan di atas benteng antara penghuni syurga dan penghuni neraka, setelah itu dikatakan kepada penghuni syurga: Hai penghuni syurga! Mereka melihat dalam keadaan takut. Dan dikatakan kepada penghuni neraka: Wahai penghuni neraka! Mereka melihat dalam keadaan senang, mereka berharap mendapatkan syafaat. Lalu dikatakan kepada penghuni syurga dan penghuni neraka: Apa kalian mengetahui ini? Mereka menjawab: Kami mengetahuinya, itu adalah kematian yang diserahi untuk (mencabut nyawa) kami. Ia dibaringkan lalu disembelih di atas benteng antara syurga dan neraka, setelah itu dikatakan: Wahai penghuni syurga, sekarang tiba saatnya (hidup) berkekalan, tiada lagi kematian dan wahai penghuni neraka, kalian juga kekal tiada kematian.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2480)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari kiamat nanti, ada leher keluar dari neraka, ia memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar dan lisan yang berbicara, ia berkata: Aku diberi kuasa pada setiap orang (penguasa) sombong lagi membangkang, pada orang yang menyeru tuhan lain bersama Allah dan pada orang-orang yang membuat gambar (makhluk bernyawa).” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2497, Musnad Ahmad, no. 8076)
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Gigi (geraham) orang kafir pada hari kiamat seperti gunung Uhud, pehanya seperti gunung al Baidha’, dan tempat duduknya dari api neraka sejarak tiga (malam) seperti ar Rabadzah.” Abu Isa berkata; Kalimah, ‘Seperti ar Rabadzah’ adalah seperti jarak antara Madinah dan ar Rabazdah. Kata ‘Al Baidha’ adalah nama gunung sebagaimana Uhud. (Sunan At-Tirmidzi, no. 2501, Musnad Ahmad, no. 7995)
Abdullah bin Amru bin al Ash berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan menyelamatkan seorang laki-laki dari umatku di hadapan manusia pada hari kiamat, lalu dia membuka buku catatan besar di hadapannya, setiap buku catatan besar lebarnya seperti sepanjang mata memandang, kemudian Allah berfirman; ‘Apakah kamu mengingkari sesuatu dari ini? Apakah para penulisku (malaikat) yang menjaga (amal manusia) menzalimimu?’ Dia menjawab; ‘Tidak wahai Rabbku.’ Allah bertanya; ‘Apakah kamu mempunyai alasan dalih (bagi amal burukmu)?’ Dia menjawab; ‘Tidak wahai Rabbku.’ Allah berfirman; ‘Tidak demikian, sesungguhnya kamu mempunyai kebaikan di sisi Kami, kerana itu tidak ada kezaliman atasmu pada hari ini’. Lalu keluarlah buku amal kebaikan, yang di dalamnya tercatat bahawa; ‘Saya bersaksi bahawa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan saya bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan RasulNya.’ Lalu Allah berfirman; ‘Hadirkan amal timbanganmu!’ Dia berkata; ‘Wahai Rabbku, apa (ertinya) satu buku amal ini (bila) dibandingkan buku catatan besar ini?’ Allah berfirman; ‘Sesungguhnya kamu tidak akan dizalimi.’ Nabi melanjutkan; ‘Lalu diletakkan buku catatan besar pada satu sisi, sedangkan buku amal diletakkan pada sisi lainnya, maka buku catatan besar itu ringan (timbangannya) sedangkan buku amal itu berat, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dibandingkan nama Allah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2563)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: Pada hari kiamat seluruh manusia akan dikumpulkan menjadi tiga golongan; satu golongan berjalan kaki, satu golongan berkendaraan, dan golongan terakhir (berjalan) dengan wajah mereka. Beliau ditanya: Bagaimana mereka berjalan dengan wajah mereka? Beliau menjawab: Sesungguhnya Zat yang (menjadikan mereka) berjalan dengan kakinya, berkuasa untuk menjadikan mereka berjalan dengan wajahnya. Ingat, sesungguhnya mereka melalui setiap tanjakan dan duri dengan wajah mereka. (Sunan At-Tirmidzi, no. 3067, Musnad Ahmad, no. 8293)
Dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku pemimpin anak cucu Adam pada hari kiamat dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri, ditanganku ada bendera pujian, dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri, dan tidaklah seorang Nabi pun selain Adam kecuali berada di bawah benderaku saat itu, aku adalah orang pertama yang bumi dibelah untukku, dan itu bukannya aku membangga-banggakan diri.” Beliau bersabda: “Manusia mengalami tiga ketakutan (besar), mereka mendatangi Adam, mereka berkata: Engkau ayah kami Adam, berilah kami syafaat kepada Rabbku. Ia berkata: Aku melakukan suatu dosa, aku diturunkan ke bumi, datangilah Nuh. Mereka mendatangi Nuh, Nuh berkata: Sesungguhnya aku menyerukan suatu seruan kepada penduduk bumi lalu mereka dibinasakan, datangilah Ibrahim. Mereka mendatangi Ibrahim, Ibrahim berkata: Aku berdusta tiga kali -Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Tidak ada satu dusta pun yang diucapkan Ibrahim melainkan dibolehkan demi agama Allah”- Ibrahim berkata: Datangilah Musa. Mereka mendatangi Musa, Musa berkata: Aku dulu membunuh seseorang, datangilah Isa. Mereka mendatangi Isa, Isa berkata: Sesungguhnya aku disembah selain Allah, datangilah Muhammad. Mereka mendatangiku lalu aku pergi bersama mereka.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Aku meraih tali pintu syurga lalu menggoyang-goyangnya. Dikatakan padaku: Siapa itu? Ada yang menjawab: Muhammad. Mereka membukakan untukku, mereka menyambut lalu berkata: Selamat datang. Aku pun tersungkur sujud lalu Allah mewahyukan pujian dan sanjungan padaku. Dikatakan padaku: Angkatlah kepalamu, mintalah nescaya kau akan diberi, berilah syafaat pasti kau akan diberi syafaat dan berkatalah nescaya akan didengar. Itulah tempat terpuji yang difirmankan Allah: ‘Mudah-mudahan Rabb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Al Israa’: 79). (Sunan At-Tirmidzi, no. 3073)
Atha’ bin Abu Rabah dia berkata, Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku; “Mahukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk syurga?” Jawabku: “Tentu.” Dia berkata; “Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Sesungguhnya aku menderita sawan dan auratku sering tersingkap (ketika sedang dirasuk), maka berdoalah kepada Allah untukku.” Beliau bersabda: “Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu syurga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu.” Ia berkata; “Baiklah aku akan bersabar.” Wanita itu berkata lagi; “Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap.” Maka beliau mendoakan untuknya.” (Sahih Bukhari, no. 5220 , Sahih Muslim, no. 4673)
Umar Ibnu Khattab berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Musa berkata, “Wahai Rabb, perlihatkanlah kepadaku Adam, orang yang telah mengeluarkan kami dan dirinya dari syurga.” Lalu Allah memperlihatkan Adam kepadanya, Musa pun berkata, “Engkau Adam bapa kami!” Adam menjawab, “Benar.” Musa berkata lagi, “Engkaukah orang yang telah ditiupkan roh oleh Allah, diberikan pengetahuan tentang nama-nama segala sesuatu, dan Allah memerintahkan para malaikat untuk sujud, lalu mereka sujud kepadamu?” Adam menjawab, “Benar.” Musa bertanya, “Lalu apa yang mendorongmu untuk mengeluarkan kami serta dirimu dari syurga?” Adam balik bertanya, “Lalu kamu sendiri siapa?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa.” Adam bertanya, “Kamukah Nabi dari kalangan Bani Israil yang Allah telah mengajakmu berbicara dari balik tabir tanpa ada seorang perantara?” Musa menjawab, “Benar.” Adam bertanya, “Tidakkah engkau mengerti bahawa itu semua sudah ditentukan oleh Allah dalam kitab-Nya (Al Lauhul Mahfudh) sebelum aku diciptakan?” Musa menjawab, “Benar.” Adam bertanya, “Lalu kenapa engkau menyalahkanku atas sesuatu yang telah ditentukan Allah sebelum aku (diciptakan)?” Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Adam mengalahkan Musa, Adam mengalahkan Musa.” (Sunan Abu Daud, no. 4080)
Dari Ali ia berkata: Pada perang Badar, dikatakan kepada Abu Bakar dan Ali: “Bersama salah satu dari kalian berdua Jibril, sedangkan Mika’il bersama yang lainnya, dan Israfil malaikat yang besar ikut menyaksikan peperangan.” Atau Ali berkata; “ikut bergabung dengan barisan perang.” (Musnad Ahmad, no. 1192)
Dari Aisyah Radhiallahu anha, dia berkata: Ada seorang wanita Yahudi menemuiku seraya berkata: ‘Sesungguhnya siksa kubur itu dari air kencing (yang tidak sempurna disucikan).’ Lalu aku berkata: ‘Kamu telah berdusta.’ Lalu dia berkata: ‘Benar, sungguh kami akan memotong kain dan kulit darinya.’ Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam keluar setelah melakukan solat sedang suara kami meninggi. Beliau bersabda: ‘Ada apa ini?’ Lalu aku mengkhabarkan kepadanya mengenai apa yang dia (wanita Yahudi) katakan. Lalu beliau bersabda: ‘Dia benar.’ Aisyah berkata: ‘Tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam solat pada suatu hari kecuali beliau membaca pada akhir solatnya, ‘Ya Allah, Tuhan Jibril, Mika’il dan Israfil, lindungilah aku dari panasnya neraka dan dari siksa kubur.’ (Sunan An-Nasai, no. 1328, Musnad Ahmad, no. 23188)
Dari Anas, bahawasanya Ummu Haritsah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang ketika itu anaknya, Haritsah, gugur di perang Badar kerana terkena panah yang menyasar. Ia berujar; ‘Wahai Rasulullah, engkau tahu kedudukan Haritsah dalam lubuk hatiku, kalaulah dia di syurga, aku tidak akan menangisinya, sebaliknya kalaulah tidak, engkau akan melihat apa yang akan aku lakukan.” Nabi bersabda: “Apakah engkau beranggapan bahawa syurga hanyalah satu tingkatan, sungguh dalam syurga terdapat sekian banyak tingkatan, dan Haritsah berada di syurga Firdaus yang paling tinggi.” (Sahih Bukhari, no. 6082, no. 6068, Musnad Ahmad, no. 12723)
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata; Ketika Al Fadhal membonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang wanita dari suku Khats’am sehingga Al Fadhal memandangnya dan wanita itu pun memandang kepadanya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengalihkan wajah Al Fadhal ke arah yang lain. Wanita itu berkata: “Sesungguhnya kewajiban yang telah Allah tetapkan sampai kepada bapaku ketika dia sudah berusia lanjut sehingga dia tidak mampu untuk menempuh perjalanannya, apakah boleh aku menghajikannya?” Beliau menjawab: “Ya”. Peristiwa ini terjadi pada Haji Wada’. (Sahih Bukhari, no. 1722)
Dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata, ‘Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah!, Ya Rabb, segumpal daging!’ Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya, ‘Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rezeki dan ajalnya?’ Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya.” (Sahih Bukhari, no. 307, no. 3086)
Dari Rifa’ah bin Rafi’ Az Zuraqi berkata, “Pada suatu hari kami solat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: ‘Sami’allahu liman hamidah (Semoga Allah mendengar pujian orang yang memuji-Nya)’. Kemudian ada seorang laki-laki yang berada di belakang beliau membaca: ‘Rabbanaa wa lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiih (Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala pujian, aku memuji-Mu dengan pujian yang banyak, yang baik dan penuh berkat)’.” Selesai solat beliau bertanya: “Siapa orang yang membaca kalimat tadi?” Orang itu menjawab, “Saya.” Beliau bersabda: “Aku melihat lebih dari tiga puluh Malaikat berebut siapa di antara mereka yang lebih dahulu untuk menuliskan kalimah tersebut.” (Sahih Bukhari, no. 757)
Abdurrahman bin Abi Laila berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bila seseorang datang terlambat beberapa rakaat mengikuti solat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang rakaat yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan rakaat yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam solat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal datang lambat, lalu orang-orang mengisyaratkan kepadanya tentang jumlah rakaat solat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk dalam solat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai solat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selesai solat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sesungguhnya Mu’adz telah menunjukkan satu sunnah kepada kalian, maka lakukanlah yang demikian.” (Sunan Abu Daud, no. 426, Musnad Ahmad, no. 21023)
Dari Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tasbih dalam solat adalah untuk laki-laki dan tepukan tangan adalah untuk wanita”. (Musnad Ahmad, no. 14330)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam diberi daging lalu lengan diangkat pada beliau, beliau memakannya dan lengan itu membuat beliau senang, beliau lalu menggigitnya, setelah itu beliau bersabda: “Aku pemimpin manusia pada hari kiamat, tahukah kalian kenapa? Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama hingga yang akhir dalam satu tanah lapang, penyeru memperdengarkan mereka, pandangan menembus mereka dan matahari mendekat, duka dan kesusahan manusia sampai pada batas yang tidak mereka mampu dan tidak mampu mereka pikul. Orang-orang saling berkata satu sama lain: Apa kalian tidak melihat yang telah menimpa kalian, apakah kalian tidak melihat siapa yang memberi kalian syafaat kepada Rabb kalian. Orang-orang saling berkata satu sama lain: Hendaklah kalian menemui Adam. Mereka menemui Adam lalu berkata: Engkau adalah nenek moyang manusia, Allah menciptakanmu dengan tangan-Nya, meniupkan roh-Nya padamu dan memerintahkan para malaikat lalu mereka sujud padamu, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Adam berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu Dia melarangku mendekati pohon tapi aku derhaka, diriku, diriku, diriku. Pergilah pada selainku, pergilah ke Nuh. Mereka mendatangi Nuh lalu berkata: Hai Nuh, engkau adalah rasul pertama untuk penduduk bumi, Allah menyebutmu hamba yang sangat bersyukur, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Nuh berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah berdoa keburukan untuk kaumku, diriku, diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke Ibrahim. Mereka mendatangi Ibrahim lalu berkata: Wahai Ibrahim, engkau Nabi Allah dan kekasihNya dari penduduk bumi, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Ibrahim berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah berdusta tiga kali, diriku, diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke Musa. Mereka menemui Musa lalu berkata: Wahai Musa, engkau utusan Allah, Allah melebihkanmu dengan risalah dan kalam-Nya atas seluruh manusia, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Musa berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dulu aku pernah membunuh jiwa padahal aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya, diriku, diriku, diriku, pergilah kepada selainku, pergilah ke Isa. Mereka mendatangi Isa lalu berkata: Hai Isa, engkau adalah utusan Allah, kalimat-Nya yang disampaikan ke Maryam, roh dari-Nya, engkau berbicara pada manusia saat masih berada dalam buaian, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami? Isa berkata kepada mereka: Rabbku saat ini benar-benar marah, Dia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, ia tidak menyebut dosa, diriku, diriku, diriku, pergilah ke selainku, pergilah ke Muhammad. Mereka mendatangi Muhammad lalu berkata: Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah, penutup para nabi, dosamu yang telah lalu dan yang kemudian telah diampuni, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat keadaan kami. Lalu aku pergi hingga sampai di bawah ‘Arsy, aku tersungkur sujud pada Rabbku lalu Allah memulai dengan pujian dan sanjungan untukku yang belum pernah disampaikan pada seorang pun sebelumku, lalu ada suara: Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah pasti kau diberi, berilah syafaat nescaya kau diizinkan untuk memberi syafaat. Lalu aku mengangkat kepalaku, aku berkata: Wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku, wahai Rabb, ummatku. Dia berkata: Hai Muhammad, masukkan orang yang tidak dihisab dari ummatmu melalui pintu-pintu syurga sebelah kanan dan mereka adalah sekutu semua manusia selain pintu-pintu itu.” Setelah itu beliau bersabda: “Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, jarak antara dua daun pintu-pintu syurga seperti jarak antara Makkah dan Hajar dan seperti jarak antara Makkah dan Bashrah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2358)
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan solat tanpa membaca Ummul Quran (Surah Al-Fatihah) di dalamnya, maka solatnya masih mempunyai hutang, tidak sempurna” Beliau mengatakan sebanyak tiga kali. Ditanyakan kepada Abu Hurairah, “Kami berada di belakang imam?” Maka dia menjawab, “Bacalah Ummul Quran dalam dirimu, kerana aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Allah berfirman, ‘Aku membahagi solat antara Aku dengan hambaKu, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiku.’ Selanjutnya Dia berkata, ‘HambaKu menyerahkan urusannya kepadaKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Hanya kepadaMulah aku menyembah dan hanya kepadaMulah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hambaKu. Dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, iaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, ‘Ini untuk hambaKu, dan hambaKu mendapatkan sesuatu yang dia minta’.” (Sahih Muslim, no. 598, Sunan Abu Daud, no. 699)
Dari Ar Rabi’ bin Sabrah Al Juhani bahawa ayahnya telah menceritakan kepadanya bahawa dia pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (dalam Fathu Makkah), beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya saya pernah mengizinkan kepada kalian nikah mut’ah terhadap wanita, dan sesungguhnya (mulai saat ini) Allah telah mengharamkannya sampai Hari Kiamat, oleh kerana itu barangsiapa yang masih memiliki (wanita yang dimut’ah), maka ceraikanlah dia dan jangan kamu ambil kembali apa yang telah kamu berikan padanya.” (Sahih Muslim, no. 2502, no. 2509, Sunan Ibnu Majah, no. 1952, Musnad Ahmad, no. 14809)
Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah menjamin bagi orang yang berperang di jalan-Nya, tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali kerana ingin jihad di jalan-Ku, ia beriman dengan Aku dan membenarkan para rasul-Ku, maka Aku menjamin akan memasukkannya ke dalam syurga atau mengembalikannya pulang ke rumahnya dengan membawa kemenangan berupa pahala dan ghanimah. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seseorang pun yang terluka dalam perang fi sabilillah, melainkan kelak di hari Kiamat ia akan datang dalam keadaan luka seperti semula, warna-warna darah dan baunya bau minyak kasturi. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum Muslimin, sungguh selamanya aku tidak ingin tertinggal di belakang ekspedisi berperang menegakkan agama Allah, namun saya tidak mampu untuk menanggung biaya mereka, sedangkan mereka juga tidak memiliki kelapangan, padahal mereka merasa kecewa tidak ikut berperang bersamaku. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada ditangan-Nya, sesungguhnya saya ingin sekali berperang fi sabilillah, kemudian saya terbunuh, lalu saya berperang lagi lalu saya terbunuh, setelah itu saya berperang lagi dan terbunuh.” (Sahih Bukhari, no. 35, Sahih Muslim, no. 3484)
Dari Abu Hurairah, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat ialah seseorang yang mati syahid, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, lantas Dia bertanya: ‘Apa yang telah kamu lakukan di dunia wahai hamba-Ku? Dia menjawab: ‘Saya berjuang dan berperang demi Engkau ya Allah sehingga saya mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Dusta kamu, sebenarnya kamu berperang bukan kerana untuk-Ku, melainkan agar kamu disebut sebagai orang yang berani. Kini kamu telah menyandang gelar tersebut.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan didatangkan pula seseorang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas, Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat?’ Dia menjawab, ‘Saya telah belajar ilmu dan mengajarkannya, saya juga membaca Al Quran demi Engkau.’ Allah berfirman: ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu belajar ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al Quran agar dikatakan seorang yang mahir dalam membaca, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu, kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka. Dan seorang laki-laki yang diberi keluasan rezeki oleh Allah, kemudian dia menginfakkan hartanya semua, lalu diperlihatkan kepadanya kenikmatan sehingga ia mengetahuinya dengan jelas.’ Allah bertanya: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengannya?’ Dia menjawab, ‘Saya tidak meninggalkannya sedikit pun melainkan saya infakkan harta benda tersebut di jalan yang Engkau redhai.” Allah berfirman: ‘Dusta kamu, akan tetapi kamu melakukan hal itu supaya kamu dikatakan seorang yang dermawan, dan kini kamu telah dikatakan seperti itu.’ Kemudian diperintahkan kepadanya supaya dia dicampakkan dan dilemparkan ke dalam neraka.” (Sahih Muslim, no. 3527, Sunan An-Nasai, no. 3086)
Dari Tsauban bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku kelak akan berada di telagaku untuk memberi minum kepada orang-orang baik. Lalu aku akan pukulkan tongkatku, sehingga air telaga memancar kepada mereka.” Seseorang bertanya kepada beliau tentang luas telaga itu, maka beliau menjawab: ‘Luasnya antara tempat dudukku sampai ke Amman.’ Lalu seseorang bertanya tentang airnya, maka beliau menjawab: ‘Airnya lebih putih dari pada susu, dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya ada dua saluran yang memancarkan air dari syurga. Satu saluran terbuat dari emas dan yang satu lagi terbuat dari perak.’ (Sahih Muslim, no. 4256)
Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang diturunkan Allah kepada jin, manusia, haiwan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Ada pun sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Kerana Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang soleh pada hari kiamat kelak.” (Sahih Muslim, no. 4944, no. 4945, no. 4946, Sunan Ibnu Majah, no. 4283, Musnad Ahmad, no. 22605, Sahih Bukhari, no. 5988)
Dari Sahal bin Sa’d mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akulah pertama yang mendatangi telaga (Kautsar), siapa yang menuju telagaku akan minum, dan siapa yang meminumnya tak akan haus selama-lamanya, sungguh akan ada beberapa kaum yang mendatangiku dan aku mengenalnya dan mereka juga mengenaliku, kemudian antara aku dan mereka dihalangi.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Mereka adalah golonganku!’ Tetapi dijawab kepada beliau; ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!’ Maka aku berkata; ‘Menjauh, menjauh, bagi orang yang mengubah (agama) sepeninggalku.’ (Sahih Bukhari, no. 6097)
Dari Anas radhiyallahu’anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat Allah mengumpulkan seluruh manusia, mereka berujar; ‘Duhai sekiranya kita meminta syafaat kepada Tuhan kita sehingga Dia boleh meringankan penderitaan kita di tempat kita ini.’ Maka mereka menemui Adam dan mengutarakan hajat mereka; ‘Engkaulah manusia yang Allah cipta dengan tangan-Nya dan Dia tiupkan roh-Nya kepadamu, dan Dia perintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu, maka tolonglah engkau meminta syafaat kepada Tuhan kami!’ Namun Adam menjawab; ‘Di sini bukan tempatku untuk meringankan kalian’, Adam lalu menyebut-nyebut kesalahannya dan berujar; ‘Datangilah Nuh, rasul pertama yang Allah utus’. Maka mereka mendatangi Nuh. Namun ternyata Nuh juga menjawab; ‘Di sini bukan tempatku untuk memberi pertolongan’, lantas Nuh menyebut-nyebut kesalahannya dan berujar; ‘Datanglah kalian kepada Ibrahim yang telah Allah jadikan sebagai kekasih-Nya.’ Mereka pun mendatanginya, tetapi ia juga berujar; ‘Di sini bukan tempatku untuk meringankan kalian’, dan ia sebut-sebut kesalahannya seraya berujar; ‘Datanglah kalian kepada Musa yang Allah telah mengajaknya bicara.’ Mereka pun mendatangi Musa, namun Musa juga mengatakan; ‘Saya tak berhak meringankan kalian’, dan Musa menyebut-nyebut kesalahan pribadinya, seraya berujar; ‘Datanglah kalian kepada Isa.’ Mereka pun mendatangi Isa, dan Isa juga mengatakan; ‘Saya tak berhak meringankan kalian’, sambil berujar; ‘Datanglah kepada Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, sebab dosanya yang dahulu dan yang akan datang telah mendapat ampunan.’ Mereka pun mendatangiku dan aku meminta izin kepada Rabbku. Ketika aku melihat-Nya, aku langsung tersungkur sujud dan Dia meninggalkanku sekehendak Allah, lantas ada suara memanggil-manggil; ‘Angkat kepalamu, mintalah, kamu akan diberi, utarakan angan-anganmu, kamu akan didengar, mintalah syafaat, kamu akan diberi!’ Langsung aku angkat kepalaku dan aku memuji Rabbku dengan pujian yang Dia ajarkan kepadaku. Lantas aku memberi syafaat dan Dia memberiku batasan, kemudian aku keluarkan mereka dari neraka dan ku masukkan syurga, kemudian aku kembali dan tersungkur sujud semisalnya pada kali ketiga, keempat hingga tak tertinggal di neraka selain yang ditahan oleh Al-Quran. (Sahih Bukhari, no. 6080)
Dari Abu Hurairah bahawasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari kiamat tidak akan tiba hingga api keluar dari tanah Hijaz yang boleh menyinari leher unta di Bushra (sebuah kota di Syam).” (Sahih Bukhari, no. 6585, Sahih Muslim, no. 5164)
Dari Abu Hurairah, bahawasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga dua kelompok besar (berperang) dan terjadi pembunuhan besar-besaran padahal ajakan keduanya satu (sama); hingga muncul para pendusta (Dajjal) yang kurang lebihnya tiga puluh, kesemuanya mengaku ia utusan Allah; hingga ilmu diangkat; banyak kegoncangan (gempa); zaman terasa singkat; fitnah muncul dimana-mana; dan banyak alharaj, iaitu pembunuhan; hingga ditengah-tengah kalian harta melimpah ruah dan berlebihan, sehingga pemilik harta mencari-cari orang yang mahu menerima sedekahnya, sampai ia menawar-nawarkan sedekahnya, namun orang yang ditawari mengelak seraya mengatakan ‘Aku tak memerlukan sedekahmu’; sehingga manusia berlumba-lumba meninggikan bangunan; sehingga seseorang melalui kuburan seseorang dan mengatakan ‘Aduhai sekiranya aku menggantikannya’; hingga matahari terbit dari sebelah barat, padahal jika matahari telah terbit dari sebelah barat dan manusia melihatnya, mereka semua beriman, pada saat itulah sebagaimana ayat ‘Ketika itu tidak bermanfaat lagi bagi seseorang keimanannya, yang ia belum beriman sebelumnya atau belum mengerjakan kebaikan dengan keimanannya.’ (Al An’am:158); dan hari kiamat terjadi ketika dua orang telah menyerahkan kedua bajunya tetapi keduanya tidak jadi melakukan jual beli, keduanya tidak jadi melipatnya; dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah pulang membawa susu sapinya tetapi tidak jadi ia meminumnya; dan hari kiamat terjadi ketika seseorang memperbaiki kolam (tempat minum) nya tetapi dia tak jadi meminumnya; dan hari kiamat terjadi sedang seseorang telah mengangkat suapannya tetapi dia tidak jadi menyantapnya.” (Sahih Bukhari, no. 6588)
Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap Nabi mempunyai doa yang telah dikabulkan, sedang aku insyaAllah terus akan menyimpan doaku sebagai syafaat untuk umatku di hari kiamat nanti.” (Sahih Bukhari, no. 6920, Sahih Muslim, no. 293)
Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kita (umat Muhammad) adalah orang-orang yang datang terkemudian, namun kita (umat Muhammad) yang terlebih dahulu ke syurga pada hari kiamat.” (Sahih Bukhari, no. 6941, Sahih Muslim, no. 1412)
Anas bin Malik berkata, “Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceritakan kepada kami, beliau bersabda: “Jika hari kiamat tiba, maka manusia satu sama lain saling berdesak-desakan. Mereka kemudian mendatangi Adam dan berkata, ‘Tolonglah kami agar mendapat syafaat Tuhanmu.’ Namun Adam hanya menjawab, ‘Aku tak berhak untuk itu, namun datangilah Ibrahim sebab dia adalah khalilurrahman (Kekasih Arrahman).’ Lantas mereka mendatangi Ibrahim, namun sayang Ibrahim berkata, ‘Aku tak berhak untuk itu, cuba datangilah Musa, sebab dia adalah nabi yang di ajak bicara oleh Allah (kaliimullah).’ Mereka pun mendatangi Musa, namun Musa berkata, ‘Saya tidak berhak untuk itu, cuba mintalah kepada Isa, sebab ia adalah roh Allah dan kalimah-Nya.’ Maka mereka pun mendatang Isa. Namun Isa juga berkata, ‘Maaf, aku tak berhak untuk itu, namun cubalah kalian temui Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Mereka pun mendatangiku sehingga aku pun berkata: “Aku kemudian meminta izin Tuhanku dan aku diizinkan, Allah mengilhamiku dengan puji-pujian yang aku pergunakan untuk memanjatkan pujian terhadap-Nya, yang jika puji-pujian itu menghadiriku sekarang, aku tidak melafazkan puji-pujian itu. Aku lalu tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah berfirman ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah, engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, mintalah keringanan engkau akan diberi keringanan.’ Maka aku menghiba ‘Wahai tuhanku, umatku-umatku.’ Allah menjawab, ‘Berangkat dan keluarkanlah dari neraka siapa saja yang dalam hatinya masih terdapat sebiji gandum keimanan.’ Maka aku mendatangi mereka hingga aku pun memberinya syafaat. Kemudian aku kembali menemui tuhanku dan aku memanjatkan puji-pujian tersebut, kemudian aku tersungkur sujud kepada-Nya, lantas ada suara ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu dan katakanlah engkau akan didengar, dan mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.’ Maka aku berkata, ‘Umatku, umatku.’ Maka Allah berkata, ‘Pergi dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada sebiji sawi keimanan.’ Maka aku pun pergi dan mengeluarkannya. Kemudian aku kembali memanjatkan puji-pujian itu dan tersungkur sujud kepada-Nya, lantas Allah kembali berkata, ‘Hai Muhammad, angkatlah kepalamu, katakanlah engkau akan didengar, mintalah engkau akan diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.’ Maka aku berkata, ‘Wahai tuhanku, umatku, umatku.’ Maka Allah berfirman: ‘Berangkat dan keluarkanlah siapa saja yang dalam hatinya masih ada iman meskipun jauh lebih kecil daripada sebiji sawi.’ Maka aku pun berangkat dan mengeluarkan mereka dari neraka.” Nabi berkata: “Kemudian aku kembali untuk keempat kalinya, dan aku memanjatkan dengan puji-pujian itu kemudian aku tersungkur sujud dan diserukan, ‘Wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, ucapkanlah engkau didengar, mintalah engkau diberi, dan mintalah syafaat engkau akan diberi syafaat.’ Maka aku berkata, ‘Wahai Tuhanku, izinkanlah bagiku untuk orang-orang yang mengucapkan La Ilaaha Illallah!’ Maka Allah menjawab, ‘Demi kemuliaan, keagungan dan kebesaran-Ku, sungguh akan Aku keluarkan siapa saja yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.” (Sahih Bukhari, no. 6956, Sahih Muslim, no. 286)
Dari Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adam dan Musa berdebat pada hari kiamat, Musa berkata kepada Adam, ‘Engkaulah penyebab yang mengeluarkan anak cucumu dari syurga! ‘ Sedang Adam berkata, ‘Engkau Musa, yang Allah telah memilihmu dengan risalah-Nya dan kalam-Nya, engkau mencelaku atas sesuatu yang telah ditakdirkan bagiku empat puluh tahun sebelum Dia menciptakanku!’ Maka Adam lah yang mengalahkan Musa.” (Sahih Bukhari, no. 6961, Sahih Muslim, no. 4793)
Dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Binatang melata akan keluar dengan membawa cincinnya Sulaiman bin Daud dan tongkatnya Musa bin Imran ‘Alaihimas salam, kemudian ia menandai wajah setiap orang mukmin dengan tongkat dan memukul hidung orang kafir dengan cincin. Sehingga orang-orang yang rumahnya berada di dekat air berkumpul, lalu binatang tersebut berkata, ‘Ini adalah mukmin’ dan berkata, ‘Ini adalah kafir’.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3111, Sunan Ibnu Majah, no. 4056)
Abdullah bin Buraidah dari ayahnya dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bepergian denganku ke suatu perkampungan dekat kota Makkah -ternyata ia adalah tanah tandus dan di sekitarnya hanya bebatuan kecil-, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Binatang malata akan muncul dari tempat ini yang ternyata (tanahnya) lembek dengan kedalaman sejengkal.” Ibnu Buraidah berkata, “Setelah beberapa tahun, saya melaksanakan haji dan kami melihat tongkat milik beliau seperti tongkatku ini seperti ini dan ini.” (Sunan Ibnu Majah, no. 4057, Musnad Ahmad, no. 21945)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga matahari terbit dari sebelah barat. Apabila matahari itu telah terbit, dan orang-orang melihatnya maka mereka semua segera beriman. Itulah maksud firman Allah: Pada hari datangnya ayat (tanda) dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. (Al An’am 158). (Sahih Bukhari, no. 4269, Sunan Ibnu Majah, no. 4058)
Dari Abu Zur’ah ia berkata, “Beberapa orang datang menemui Marwan di Madinah, mereka mendengar Marwan menceritakan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat. Bahawa pertama kali yang akan muncul adalah Dajjal.” Abu Zur’ah berkata, “Aku lantas menemui Abdullah bin Amru dan aku ceritakan hal itu kepadanya. Abdullah lalu berkata, “Perkataan Marwan tidak dianggap, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tanda hari kiamat pertama yang akan muncul adalah terbitnya matahari dari arah barat, atau keluarnya binatang melata kepada manusia di waktu dhuha. Mana pun dari keduanya muncul pertama kali, maka yang lain akan segera menyusul.” Abdullah berkata -sambil membaca buku-, “Aku kira yang pertama kali akan muncul adalah terbitnya matahari dari arah terbenamnya.” (Sunan Abu Daud, no. 3756, Sunan Ibnu Majah, no. 4059)
Dari Shafwan bin ‘Assal dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dari arah tenggelamnya matahari (barat) ada suatu pintu yang terbuka, yang luasnya tujuh puluh tahun. Dan pintu itu akan tetap terbuka untuk bertaubat sehingga matahari terbit dari arah itu. Maka jika ia telah terbit dari arah itu, tidaklah berguna lagi keimanan seseorang yang sebelumnya tidak beriman atau yang telah melakukan amal kebaikan dalam keimanannya.” (Sunan Ibnu Majah, no. 4060, Musnad Ahmad, no. 17399)
Dari Sa’id bin Zaid ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang terbunuh kerana membela hartanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh kerana membela agamanya maka ia syahid, barangsiapa yang terbunuh kerana membela darahnya (jiwanya) maka ia syahid dan barangsiapa yang terbunuh kerana membela keluarganya maka ia syahid.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 1341, Sunan Abu Daud, no. 4142, Sunan An-Nasai, no. 4027)
Dari Salim Bin Abul Ja’d dia berkata; Uthman memanggil salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan di antara mereka Amar Bin Yasir, kemudian Uthman berkata; “Sesungguhnya aku bertanya kepada kalian, dan sesungguhnya aku suka kalian jujur kepadaku, aku bersumpah kepada kalian dengan nama Allah, apakah kalian tahu bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih mengutamakan orang-orang Quraisy dari semua orang dan lebih mengutamakan Bani Hasyim dari seluruh orang Quraisy?” Maka para sahabat terdiam, kemudian Uthman berkata; “Seandainya kunci Syurga di tanganku maka pasti akan aku berikan kepada Bani Umaiyah sampai orang yang paling terakhir dari mereka memasukinya.” Maka diutuslah kepada Thalhah dan Zubair, kemudian Uthman berkata kepada keduanya; “Mahukah aku ceritakan kepada kalian berdua tentang dia iaitu Ammar, suatu ketika aku datang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil beliau memegang tanganku dan kami jalan-jalan di Bathha’, ketika kami sampai kepada bapa dan ibunya dan keduanya sedang disiksa, maka bapa Amar berkata; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sepanjang masa (ujian akan) begini?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Sabarlah!” Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah ampunilah keluarga Yasir, dan aku telah berbuat.” (Musnad Ahmad, no. 412)
Al-Baihaqi, dengan sanadnya, meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahawa Rasulullah berlalu di dekat Ammar dan keluarganya yang sedang menerima siksaan. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Bergembiralah wahai keluarga Ammar dan Yasir, sesungguhnya telah dijanjikan syurga untuk kalian semua.” (Riwayat Al-Hakim)
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata; “Yang pertama kali menampakkan keIslamannya ada tujuh orang; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, ‘Ammar dan ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan Al Miqdad. Ada pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah melindunginya dengan pakciknya, Abu Talib. Abu Bakar dilindungi Allah dengan kaumnya. Sementara yang lainnya, kaum musyrikin telah menyiksa mereka dengan mengenakan baju besi serta menyiksa mereka di bawah terik matahari. Tidak ada seorang pun dari mereka kecuali dibunuh sesuai dengan keinginan mereka kecuali Bilal, ia menganggap dirinya hina di hadapan Allah dan dihinakan pula oleh kaumnya. Bilal pun diserahkan kepada anak-anak lalu mereka mengaraknya keliling jalan-jalan Makkah, sementara dirinya tetap mengatakan; “Ahad Ahad.” (Sunan Ibnu Majah, no. 147, Musnad Ahmad, no. 3640)
Dari Abu Sumayyah berkata: Saya bertemu Jabir bin Abdullah. Lalu saya berkata: Kami berselisih dalam masalah wurud (menyeberangi neraka jahannam) tersebut, lalu berkata: Sebahagian dari kami berkata: Orang mukmin tidak akan memasukinya, sedangkan sebahagian yang lain berkata: Mereka semua akan masuk tanpa terkecuali. Lalu (Jabir bin Abdullah Radliyallahu’anhuma) menaruh jari-jarinya pada kedua telinganya dan berkata: Sumbatlah kedua telingamu jika saya tidak mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Al wurud (menyeberangi neraka jahannam) adalah semuanya masuk tidak akan tersisa, orang baik mahupun orang berdosa akan mamasukinya namun bagi orang mukmin itu menjadi kesejukan dan keselamatan sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim, sampai Neraka atau Jahannam menjadi gaduh kerana sejuknya tersebut lalu Allah memanggil orang yang bertakwa dan meninggalkan orang-orang zalim dalam keadaan duduk. (Musnad Ahmad, no. 13995)
Hammad bin Zaid telah menceritakan kepada kami Budail dari Abdullah bin Syaqiq dari Abu Hurairah berkata: Apabila roh orang mukmin telah keluar dari jasadnya, ia akan ditemui oleh dua malaikat yang akan membawanya naik, lalu Hammad berkata dan menyebutkan baunya yang harum seraya berkata: Baunya seperti minyak wangi, dan para penghuni langit berkata: Telah datang roh yang baik dari bumi, semoga Allah mendoakanmu dan mendoakan jasad yang telah kau tinggali. Lalu ia dibawa menghadap Rabbnya ‘azza wajalla. Kemudian ia berkata: Bawalah ia sampai ke tempat yang paling akhir (yakni Sidratul Muntaha). Dan sesungguhnya orang kafir apabila rohnya telah keluar daripadanya. Hammad berkata: Ia menyebutkan baunya yang busuk dan cercaan yang ditujukan kepadanya, lalu para penghuni langit berkata: Telah datang satu roh yang buruk dari bumi. Ia berkata: Lalu dikatakan: Bawalah ia hingga sampai ke tempat yang paling akhir (yakni sijjin). Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan kain tipis yang ada padanya pada hidung beliau seperti ini. (Sahih Muslim, no. 5119)
Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Ketika aku diangkat menuju Sidratul Muntaha, aku melewati empat sungai, dua sungai telah nampak olehku sementara dua lainnya belum nampak, dua sungai yang nampak olehku adalah sungai nil dan sungai efrat, sedangkan dua sungai yang tidak nampak olehku adalah sungai yang berada di syurga, lalu aku diberi tiga mangkuk, satu mangkuk bersisi susu, satu mangkuk lagi berisi madu dan satu mangkuk lainnya berisi khamar, maka aku mengambil mangkuk yang berisi susu dan meminumnya, lalu diberitahukan kepadaku; “Kamu dan ummatmu telah memilih fitrah.” (Sahih Bukhari, no. 5179)
Dari Malik bin Sha’sha’ah radliallahu ‘anhuma berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sedar”. Lalu Beliau menyebutkan, iaitu: “Ada seorang laki-laki di antara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa bekas terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan dan iman lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman. Kemudian aku diberi seekor haiwan tunggangan putih yang lebih kecil daripada baghal namun lebih besar dibanding keldai bernama al-Buraq. Maka aku berangkat bersama Jibril Alaihissalam, hingga sampai di langit dunia. Lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang, sebaik-baik orang yang datang telah tiba”. Kemudian aku menemui Adam Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “(Ucapan) selamat datang bagimu dari anak keturunan dan nabi”. Kemudian kami naik ke langait kedua lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui ‘Isa dan Yahya Alaihissalam lalu keduanya berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Kemudian kami naik ke langit ketiga lalu ditanyakan; “Siapakah ini?” Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Yusuf Aalihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Kemudian kami naik ke langit keempat lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baik kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Idris Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Kemudian kami naik ke langit kelima lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Lalu aku menemui Harun Alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Kemudian kami naik ke langit keenam lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Musa ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Ketika aku sudah selesai, tiba-tiba dia menangis. Lalu ditanyakan; “Mengapa kamu menangis?” Musa menjawab; “Ya Rabb, anak ini yang diutus setelah aku, ummatnya akan masuk syurga dengan kedudukan lebih utama dibanding siapa yang masuk syurga dari ummatku”. Kemudian kami naik ke langit ketujuh lalu ditanyakan; “Siapakah ini”. Jibril menjawab; “Jibril”. Ditanyakan lagi; “Siapa orang yang bersamamu?” Jibril menjawab; “Muhammad”. Ditanyakan lagi; “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab; “Ya”. Maka dikatakan; “Selamat datang baginya dan ini sebaik-baiknya kedatangan orang yang datang”. Kemudian aku menemui Ibrahim ‘alaihissalam dan memberi salam kepadanya lalu dia berkata; “Selamat datang bagimu dari saudara dan nabi”. Kemudian aku ditampakkan al-Baitul Ma’mur. Aku bertanya kepada Jibril, lalu dia menjawab; “Ini adalah al-Baitul Ma’mur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat mendirikan solat disana. Jika mereka keluar (untuk pergi solat) tidak ada satu pun dari mereka yang kembali”. Kemudian diperlihatkan kepadaku Sidratul Muntaha yang ternyata bentuknya seperti kubah dengan daun jendelanya laksana telinga-telinga gajah. Di dasarnya ada empat sungai yang berada di dalam (disebut Bathinan) dan di luar (Zhahiran)”. Aku bertanya kepada Jibril, maka dia menjawab; “Ada pun Bathinan berada di syurga sedangkan Zhahiran adalah an-Nail dan al-Furat (dua nama sungai di dunia)”. Kemudian diwajibkan atasku solat lima puluh kali. Aku menerimanya hingga datang Musa ‘alaihissalam menemuiku dan bertanya; “Apa yang telah kamu lakukan?” Aku jawab: “Aku diwajibkan solat lima puluh kali”. Musa berkata; “Akulah orang yang lebih tahu tentang manusia daripada kamu. Aku sudah berusaha menangani Bani Isra’il dengan sungguh-sungguh. Dan ummatmu tidak akan sanggup melaksanakan kewajiban solat itu. Maka itu kembalilah kamu kepada Rabbmu dan mintalah (keringanan)”. Maka aku meminta keringanan lalu Allah memberiku empat puluh kali solat lalu (aku menerimanya dan Musa kembali menasihati aku agar meminta keringanan lagi), kemudian kejadian berulang seperti itu (nasihat Musa) hingga dijadikan tiga puluh kali, lalu kejadian berulang seperti itu lagi hingga dijadikan dua puluh kali, kemudian kejadian berulang lagi hingga menjadi sepuluh lalu aku menemui Musa dan dia kembali berkata seperti tadi hingga dijadikan lima waktu, lalu kembali aku menemui Musa dan dia bertanya; “Apa yang kamu dapatkan?”. Aku jawab; “Telah ditetapkan lima waktu”. Dia berkata seperti tadi lagi. Aku katakan; “Aku telah menerimanya dengan baik”. Tiba-tiba ada suara yang berseru: “Sungguh AKu telah putuskan kewajiban dariKu ini dan Aku telah ringankan buat hamba-hambaKu dan aku akan balas setiap satu kebaikan (solat) dengan sepuluh balasan (pahala)”. (Sahih Bukhari, no. 2968)
Dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, ‘Bukalah’. Malaikat penjaga langit berkata, ‘Siapa Ini?’ Jibril menjawab, ‘Ini Jibril’. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, ‘Apakah kamu bersama orang lain?’ Jibril menjawab, “Ya, bersamaku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Penjaga itu bertanya lagi, ‘Apakah dia diutus sebagai Rasul?’ Jibril menjawab, ‘Benar.’ Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, ‘Selamat datang Nabi yang soleh dan anak yang soleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, “Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah roh-roh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli syurga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.’ Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka’.” Anas berkata, “Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahawa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, ‘Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi selawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahawa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.” Anas melanjutkan, “Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang soleh dan saudara yang soleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, ‘Dialah Idris.’ Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang soleh dan saudara yang soleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, ‘Dialah Musa.’ Kemudian aku berjalan melewati ‘Isa, dan ia pun berkata, ‘Selamat datang saudara yang soleh dan Nabi yang soleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, ‘Dialah ‘Isa.’ Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, ‘Selamat datang Nabi yang soleh dan anak yang soleh.’ Aku bertanya kepada Jibril, ‘Siapakah dia?’ Jibril menjawab, ‘Dialah Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian aku dimi’rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian Allah ‘azza wajalla mewajibkan kepada ummatku solat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, ‘Apa yang Allah perintahkan buat umatmu?’ Aku jawab: ‘Solat lima puluh kali.’ Lalu dia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, kerana umatmu tidak akan sanggup!’ Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu kerana umatmu tidak akan sanggup.’ Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.’ Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, ‘Kembalilah kepada Rabbmu, kerana umatmu tetap tidak akan sanggup.’ Maka aku kembali menemui Allah Ta’ala, Allah lalu berfirman: ‘Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku!’ Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, ‘Kembailah kepada Rabb-Mu!’ Aku katakan, ‘Aku malu kepada Rabb-ku.’ Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam syurga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kasturi.” (Sahih Bukhari, no. 336)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika sahabat-sahabat kalian meninggal pada perang Uhud, Allah azza wa jalla menjadikan roh-roh mereka di dalam rongga burung-burung hijau, yang berterbangan di sepanjang sungai-sungai syurga, makan dari buah-buahannya dan kembali ke lampu-lampu dari emas di bawah bayangan ‘Arsy. Ketika mendapatkan lazatnya makanan dan minuman serta tempat tinggalnya yang baik, mereka berkata: ‘Duhai sekiranya saudara-saudara kami mengetahui apa yang diperbuat Allah bagi kami, tentulah mereka tidak akan zuhud (menolak) terhadap jihad dan tidak menjadi pengecut dalam peperangan.’ Maka Allah azza wa jalla berfirman; ‘Aku akan menyampaikan perkataan kalian pada mereka.’ Lalu Allah azza wa jalla menurunkan ayat-ayat tersebut kepada Rasul-Nya: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Musnad Ahmad, no. 2267, Sunan Abu Daud, no. 2158)
Dari Ibnu Abbas katanya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara zohor dan asar, maghrib dan isyak di Madinah, bukan kerana ketakutan dan bukan pula kerana hujan.” Dalam hadis Waki’, katanya; aku tanyakan kepada Ibnu Abbas; “Mengapa beliau lakukan hal itu?” Dia menjawab; “Beliau ingin supaya tidak memberatkan umatnya.” (Sahih Muslim, no. 1151)
Dari Ibnu Abbas katanya; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah solat zohor dan asar semuanya, dan antara Maghrib dan Isyak, semuanya bukan kerana ketakutan dan tidak pula ketika safar.” (Sahih Muslim, no. 1146)
Dari Ibnu Abbas ia berkata; “Di Madinah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjamak antara solat zohor dan asar, serta antara maghrib dan isyak, bukan kerana takut atau hujan.” Sa’id berkata; “Dikatakan kepada Ibnu Abbas, “Apa yang beliau kehendaki dari hal itu?” Ia menjawab, “Beliau tidak ingin mempersulit rakyatnya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 172)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bercerita bahawa dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga orang dari Bani Israil yang menderita sakit. Yang pertama menderita penyakit kusta, yang kedua berkepala botak dan yang ketiga buta. Kemudian Allah Ta’ala menguji mereka dengan mengutus malaikat menemui mereka. Pertama, malaikat mendatangi orang yang berpenyakit kusta lalu bertanya kepadanya; “Apa yang paling kamu sukai?” Orang ini menjawab; “Warna kulit dan kulitku yang bagus kerana sekarang ini manusia menjauh dariku”. Beliau melanjutkan: “Maka malaikat itu mengusap kulitnya hingga hilang dan berganti dengan warna dan kulit yang bagus”. Lalu malaikat bertanya lagi; “Harta apa yang paling kamu sukai?” Orang itu menjawab; “Unta”. Maka dia diberi puluhan unta, lalu malaikat berkata; “Semoga pada unta-unta itu ada keberkatan buatmu”. Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang berkepala botak dan bertanya kepadanya; “Apa yang paling kamu sukai?” Orang ini menjawab; “Tumbuh rambut yang bagus dan penyakit ini pergi dariku kerana sekarang ini manusia menjauh dariku”. Beliau melanjutkan: “Maka malaikat itu mengusap kepala orang ini hingga hilang dan berganti dengan rambut yang bagus”. Lalu malaikat bertanya lagi; “Harta apa yang paling kamu sukai?” Orang itu menjawab; “Sapi”. Maka dia diberi seekor sapi yang sedang bunting lalu malaikat berkata; “Semoga pada sapi itu ada keberkatan buatmu”. Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang buta lalu bertanya kepadanya; “Apa yang paling kamu sukai?” Orang ini menjawab; “Seandainya Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku sehingga dengan penglihatan itu aku dapat melihat manusia”. Beliau melanjutkan: “Maka malaikat itu mengusap mata orang ini hingga Allah Ta’ala mengembalikan penglihatannya”. Lalu malaikat bertanya lagi; “Harta apa yang paling kamu sukai?” Orang itu menjawab; “Kambing”. Maka dia diberi seekor kambing yang bunting”. Maka kedua orang yang pertama tadi haiwan-haiwannya berkembang biak dengan banyak begitu juga orang yang ketiga, masing-masing mereka memiliki lembah untuk mengembalakan unta-unta, lembah untuk mengembalakan sapi-sapi dan lembah untuk mengembalakan kambing-kambing. Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang tadinya berpenyakit kusta dalam bentuk keadaan seperti orang yang berpenyakit kusta lalu berkata; “Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi orang yang telah memberimu warna dan kulit yang bagus berupa seekor unta, apakah kamu mau memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini? Maka orang ini berkata; “Sesungguhnya hak-hak sangat banyak (untuk aku tunaikan)”. Lalu Malaikat bertanya kepadanya; “Sepertinya aku mengenal anda. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit kusta dan manusia menjauhimu dan kamu dalam keadaan faqir lalu Allah Ta’ala memberimu harta?” Orang ini menjawab; “Aku memiliki ini semua dari harta warisan turun menurun”. Maka malaikat berkata; “Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula”. Kemudian malaikat itu mendatangi orang yang dahulunya berkepala botak dalam bentuk keadaan orang yang berkepala botak, lalu malaikat berkata sebagaimana yang dikatakan kepada orang pertama tadi lalu orang yang dahulunya berkepala botak ini menjawab seperti jawaban orang yang dahulunya berpenyakit kusta lalu malaikat berkata; “Seandainya kamu berdusta, semoga Allah Ta’ala mengembalikanmu kepada keadaanmu semula”. Lalu malaikat mendatangi orang yang dahulunya buta dalam bentuk sebagai orang buta lalu berkata; “Saya orang miskin yang bekalku sudah habis dalam perjalananku ini dan tidak ada yang menyampaikan aku hidup hingga hari ini kecuali Allah Ta’ala. Maka aku memohon kepadamu demi Zat yang telah mengembalikan penglihatanmu berupa seekor kambing, apakah kamu mahu memberiku bekal agar aku dapat meneruskan perjalananku ini? Maka orang ini menjawab; “Dahulu aku adalah orang yang buta lalu Allah Ta’ala mengembalikan penglihatanku dan aku juga seorang yang faqir lalu Dia memberiku kecukupan, maka itu ambillah sesukamu. Demi Allah, aku tidak akan menghalangimu untuk mengambil sesuatu selama kamu mengambilnya kerana Allah Ta’ala”. Maka malaikat itu berkata; “Peganglah hartamu. Sesungguhnya kalian sedang diuji dan Allah Ta’ala telah redha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu”. (Sahih Bukhari, no. 3205, Sahih Muslim, no. 5265)
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Suatu ketika tiga orang laki-laki sedang berjalan, tiba-tiba hujan turun hingga mereka berlindung ke dalam suatu gua yang terdapat di gunung. Tanpa diduga sebelumnya, ada sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung mereka di dalamnya. Kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya yang lain; ‘Ingat-ingatlah amal soleh yang pernah kalian lakukan hanya kerana mengharap redha Allah semata. Setelah itu, berdoa dan memohonlah pertolongan kepada Allah dengan perantaraan amal soleh tersebut (tawassul), mudah-mudahan Allah akan menghilangkan kesulitan kalian. Kemudian salah seorang dari mereka berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia. Selain itu, saya juga mempunyai seorang isteri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Saya menafkahkan mereka dengan menggembala ternak. Apabila pulang dari menggembala, saya pun segera memerah susu dan saya dahulukan untuk kedua orang tua saya. Lalu saya berikan air susu tersebut kepada kedua orang tua saya sebelum saya berikan kepada anak-anak saya. Pada suatu ketika, saya ke tempat penggembalaan yang jauh, hingga saya baru pulang pada petang hari. Ternyata saya dapati kedua orang tua saya sedang tertidur nyenyak. Lalu, seperti biasa, saya segera memerah susu. Saya berdiri dekat keduanya kerana tidak mahu membangunkan dari tidur mereka. Akan tetapi, saya juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anak saya sebelum diminum oleh kedua orang tua saya, meskipun mereka, anak-anak saya, telah berkerumun di telapak kaki saya untuk meminta minum kerana rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut saya dan anak-anak saya jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahawa saya melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap redha-Mu, maka bukakanlah celah (batu) untuk kami hingga kami dapat melihat langit!’ Akhirnya Allah membuka celah lubang gua tersebut, hingga mereka dapat melihat langit. Orang yang kedua dari mereka berdiri sambil berkata; ‘Ya Allah, dulu saya mempunyai seorang sepupu perempuan (anak perempuan pakcik) yang saya cintai sebagaimana cintanya kaum laki-laki yang berkobar-kobar terhadap wanita. Pada suatu ketika saya pernah mengajaknya untuk berbuat zina, tetapi ia menolak hingga saya dapat memberinya wang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan wang seratus dinar, akhirnya saya pun mampu memberikan wang tersebut kepadanya. Ketika saya berada di antara kedua pehanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; ‘Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu.’ Lalu saya bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah, sesungguhnya Engkau pun tahu bahawa saya melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan redha-Mu. Oleh kerana itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!’ Akhirnya Allah membukakan sedikit celah lubang lagi untuk mereka bertiga. Seorang lagi berdiri dan berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, dulu saya pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawah saya dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata; ‘Berikanlah hak saya kepada saya! ‘ Namun saya tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, saya pun menanami sawah saya sendiri hingga hasilnya dapat saya kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak saya berikan datang kepada saya dan berkata; ‘Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain!’ Lalu saya berkata kepada orang tersebut; ‘Pergilah ke beberapa ekor sapi beserta para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu!’ Orang tersebut menjawab; ‘Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olok saya!’ Kemudian saya katakan lagi kepadanya; ‘Sungguh saya tidak bermaksud mengolok-olokmu. Oleh kerana itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahawa apa yang telah saya lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari redha-Mu. Oleh kerana itu, bukalah bahagian pintu gua yang belum terbuka!’ Akhirnya Allah pun membukakan sisanya untuk mereka.” (Sahih Bukhari, no. 5517, Sahih Muslim, no. 4926)
Dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapanya; Ketika tembok runtuh menimpa kuburan Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pada masa kekhilafahan Al Walid bin Abdul Malik, orang-orang mulai membangun kembali. Saat itu mereka menemukan sebuah kaki yang terputus, mereka mengira bahawa itu adalah kaki Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Mereka tidak menemui seseorang yang mengetahui hal itu, hingga akhirnya ‘Urwah berkata kepada mereka: “Demi Allah itu bukanlah kaki Nabi Shallallahu’alaihiwasallam, itu adalah kaki Umar radliallahu ‘anhu. (Sahih Bukhari, no. 1303)
Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahawa ia berwasiat kepada ‘Abdullah bin Az Zubair radliallahu ‘anhuma: “Janganlah kamu mengubur aku bersama mereka (Nabi, Abu Bakar dan Umar), namun kuburkanlah aku bersama para isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Baqi’ agar aku tidak dikeramatkan seorangpun selama-lamanya”. (Sahih Bukhari, no. 1304)
Dari ‘Amru bin Maimun Al Audiy berkata: “Aku melihat Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu berkata: “Wahai ‘Abdullah bin Umar temuilah Ummul Mukminin Aisyah radliallahu ‘anha lalu sampaikan bahawa Umar bin Al Khattab menyampaikan salam kepadamu, kemudian mintalah agar aku dikubur bersama kedua temanku. Aisyah berkata; “Aku dulu menginginkan tempat itu untukku, namun sekarang aku lebih mengutamakannya daripada diriku. Ketika ia pulang, Umar berkata kepadanya: “Jawaban apa yang kamu bawa?” Ia menjawab; “Engkau telah mendapat izin wahai Amirul Mukminin, lalu ia berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada tempat berbaring itu, dan jika aku sudah meninggal, bawalah aku kepadanya lalu sampaikan salam dan katakan bahawa Umar bin Al Khattab telah meminta izin, dan jika diizinkan maka kuburkanlah aku disana, dan jika tidak, maka kuburlah aku di perkuburan kaum muslimin. Sebab aku tidak mengetahui seseorang yang lebih berhak pada perkara ini daripada mereka, orang-orang yang ketika beliau meninggal maka Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah meredhai mereka, maka barangsiapa yang menggantikan aku setelahku dialah khalifah, wajib dengar dan taatlah padanya. Lalu ia menyebut nama Uthman, Ali, Thalhah, Az Zubair, Abdur Rahman bin Auf, Saad bin Abi Waqqas. Kemudian seorang pemuda Ansar datang kepadanya, ia berkata: “Wahai Amirul Mukminin, berilah khabar gembira yang diberikan Allah kepadamu kerana masuk Islam pertama kali seperti yang telah engkau ketahui, lalu engkau diangkat menjadi khalifah dan setelah ini semua engkau akan mati syahid?” Dia menjawab: “Barangkali cukuplah yang engkau katakan itu wahai anak saudaraku, aku berwasiat kebaikan kepada khalifah setelahku terhadap orang-orang yang pertama berhijrah, agar ia mengerti hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka, dan aku berwasiat kebaikan kepadanya terhadap orang-orang Ansar, yang mereka telah menempati Madinah dan beriman kepada Allah Ta’ala, agar ia terima orang-orang yang baik di antara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk di antara mereka, dan aku berwasiat kepadanya akan tanggungan Allah dan RasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam agar ia menepati perjanjian dengannya, dan ia berperang di belakangnya, serta tidak membebani mereka dengan apa yang tidak mereka mampu”. (Sahih Bukhari, no. 1305)
Dari ‘Amru bin Maimun berkata; “Aku berdiri dan tidak ada seorang pun antara aku dan Umar kecuali ‘Abdullah bin ‘Abbas pada Subuh hari saat Umar terkena musibah. Subuh itu, Umar hendak memimpin solat dengan melalui barisan saf lalu berkata; “Luruskanlah saf”. Ketika dia sudah tidak melihat lagi pada jemaah ada celah-celah dalam barisan saf tersebut, maka Umar maju lalu bertakbir. Sepertinya dia membaca surah Yusuf atau an-Nahl atau seperti surah itu pada rakaat pertama hingga memungkinkan semua orang bergabung dalam solat. Ketika aku tidak mendengar sesuatu darinya kecuali ucapan takbir, tiba-tiba terdengar dia berteriak; “Ada orang yang membunuhku”, atau katanya; “Seekor anjing telah menerkamku”. Rupanya ada seseorang yang menikamnya dengan sebilah pisau bermata dua. Penikam itu tidaklah melalui orang-orang di sebelah kanan atau kirinya melainkan dia menikamnya pula hingga dia telah menikam sebanyak tiga belas orang yang mengakibatkan tujuh orang di antaranya meninggal dunia. Ketika seseorang dari kaum muslimin melihat kejadian itu, dia melemparkan bajunya dan tepat mengenai si pembunuh itu. Dan ketika dia menyedari bahawa dia pasti tertangkap (tak lagi boleh menghindar), dia bunuh diri. Umar memegang tangan ‘Abdur Rahman bin ‘Auf lalu menariknya ke depan. Siapa saja orang yang berada dekat dengan Umar pasti dapat melihat apa yang aku lihat. Ada pun orang-orang yang berada di sudut-sudut masjid, mereka tidak mengetahui peristiwa yang terjadi, selain hanya tidak mendengar suara Umar. Mereka berkata; “Subhaanalah, Subhaanalah (maha suci Allah)”. Maka ‘Abdur Rahman melanjutkan solat jemaah secara ringkas. Setelah solat selesai, Umar bertanya; “Wahai Ibnu ‘Abbas, lihatlah siapa yang telah membunuhku”. Ibnu ‘Abbas berkeliling sesaat lalu kembali dan berkata; “Budaknya Al Mughirah”. Umar bertanya; “Oh, si budak yang pandai membuat pisau itu?” Ibnu ‘Abbas menjawab; “Ya benar”. Umar berkata; “Semoga Allah membunuhnya, sungguh aku telah memerintahkan dia berbuat ma’ruf (kebaikan). Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku beragama Islam. Sungguh dahulu kamu dan bapamu suka bila orang kafir bukan arab banyak berkeliaran di Madinah. ‘Abbas adalah orang yang paling banyak memiliki budak. Ibnu ‘Abbas berkata; “Jika anda menghendaki, aku akan kerjakan apa pun. Maksudku, jika kamu menghendaki kami akan membunuhnya”. Umar berkata; “Kamu berbohong, (sebab mana boleh kalian membunuhnya) padahal mereka telah terlanjur bicara dengan bahasa kalian, solat menghadap qiblat kalian dan naik haji seperti haji kalian”. Kemudian Umar dibawa ke rumahnya dan kami ikut menyertainya. Saat itu orang-orang seakan-akan tidak pernah terkena musibah seperti hari itu sebelumnya. Di antara mereka ada yang berkata; “Dia tidak apa-apa”. Dan ada juga yang berkata; “Aku sangat mengkhuatirkan nasibnya”. Kemudian Umar diberikan anggur lalu dia memakannya namun makanan itu keluar dari perutnya. Kemudian diberi susu lalu dia pun meminumnya namun susu itu keluar melalui lukanya. Akhirnya orang-orang menyedari bahawa Umar segera akan meninggal dunia. Maka kami pun masuk menjenguknya lalu diikuti oleh orang-orang yang datang dan memujinya. Tiba-tiba datang seorang pemuda seraya berkata; “Berbahagialah anda, wahai Amirul Mukminin dengan khabar gembira dari Allah untuk anda kerana telah hidup dengan mendampingi (menjadi sahabat) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan yang terdahulu menerima Islam berupa ilmu yang anda ketahui. Lalu anda diberi kepercayaan menjadi pemimpin dan anda telah menjalankannya dengan adil lalu anda mati syahid”. Umar berkata; “Aku sudah merasa senang jika masa kekhilafahanku berakhir neutral, aku tidak terkena dosa dan juga tidak mendapat pahala.” Ketika pemuda itu berlalu, tampak pakaiannya menyentuh tanah, maka Umar berkata; “Bawa kembali pemuda itu kepadaku”. ‘Umar berkata kepadanya; “Wahai anak saudaraku, angkatlah pakaianmu kerana yang demikian itu lebih baik dan lebih membuatmu taqwa kepada Rabbmu. Wahai ‘Abdullah bin Umar, lihatlah berapa jumlah hutang yang menjadi kewajibanku”. Maka mereka menghitungnya dan mendapatan hasilnya bahawa hutangnya sebesar lapan puluh enam ribu atau sekitar itu. Umar berkata; “Jika harta keluarga Umar mencukupi bayarlah hutang itu dengan harta mereka. Namun apabila tidak mencukupi maka mintalah kepada Bani ‘Adiy bin Ka’ab. Dan apabila harta mereka masih tidak mencukupi, maka mintalah kepada masyarakat Quraisy dan jangan mengatasi mereka dengan meminta kepada selain mereka lalu lunasilah hutangku dengan harta-harta itu. Temuilah Aisyah, Ummul Mukminin radliallahu ‘anha, dan sampaikan salam dari Umar dan jangan kalian katakan dari Amirul Muminin kerana hari ini bagi kaum mukminin aku bukan lagi sebagai pemimpin dan katakan bahawa Umar bin Al-Khattab meminta izin untuk dikuburkan di samping kedua sahabatnya”. Maka ‘Abdullah bin Umar memberi salam, meminta izin lalu masuk menemui Aisyah radliallahu ‘anha. Ternyata ‘Abdullah bin Umar mendapatkan Aisyah radliallahu ‘anha sedang menangis. Lalu dia berkata; “Umar bin Al-Khattab menyampaikan salam buat anda dan meminta izin agar boleh dikuburkan disamping kedua sahabatnya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar radliallahu ‘anhu)”. Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu untuk diriku namun hari ini aku tidak akan lebih mementingkan diriku”. Ketika ‘Abdullah bin Umar kembali, dikatakan kepada Umar; “Ini dia, ‘Abdullah bin Umar sudah datang”. Maka Umar berkata; “Angkatlah aku”. Maka seorang laki-laki datang memapahnya. Umar bertanya: “Berita apa yang kamu bawa?” Ibnu Umar menjawab; “Berita yang anda sukai, wahai Amirul Mukminin. Aisyah telah mengizinkan anda”. Umar berkata; “Alhamdulillah. Tidak ada sesuatu yang paling penting bagiku selain hal itu. Jika aku telah meninggal, bawalah jasadku kepadanya dan sampaikan salamku lalu katakan bahawa Umar bin Al-Khattab meminta izin. Jka dia mengizinkan maka masukkanlah aku (kuburkan) namun bila dia menolak maka kembalikanlah jasadku ke kuburan Kaum Muslimin. Kemudian Hafsah, Ummul Mukminin datang dan beberapa wanita ikut bersamanya. Tatkala kami melihatnya, kami segera berdiri. Hafsah kemudian mendekat kepada Umar lalu dia menangis sejenak. Kemudian beberapa orang laki-laki meminta izin masuk, maka Hafsah masuk ke bilik kerana ada orang yang mahu masuk. Maka kami dapat mendengar tangisan Hafsah dari balik bilik. Orang-orang itu berkata; “Berilah wasiat, wahai Amirul Mukminin. Tentukanlah pengganti anda”. Umar berkata; “Aku tidak menemukan orang yang paling berhak atas urusan ini daripada mereka atau segolongan mereka yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat beliau redha kepada mereka. Maka dia menyebut nama Ali, Uthman, Az Zubair, Thalhah, Sa’ad dan ‘Abdur Rahman. Selanjutnya dia berkata; “Abdullah bin Umar akan menjadi saksi atas kalian. Namun dia tidak punya peranan dalam urusan ini, dan tugas itu hanya sebagai bentuk penghibur baginya. Jika kepemimpinan jatuh ke tangan Sa’ad, maka dialah pemimpin urusan ini. Namun apabila bukan dia, maka mintalah bantuan dengannya. Dan siapa saja di antara kalian yang diserahi urusan ini sebagai pemimpin maka aku tidak akan memecatnya kerana alasan lemah atau berkhianat”. Selanjutnya Umar berkata; “Aku berwasiat kepada khalifah sesudahku agar memahami hak-hak kaum Muhajirin dan menjaga kehormatan mereka. Aku juga berwasiat kepadanya agar selalu berbuat baik kepada Kaum Ansar yang telah menempati negeri (Madinah) ini dan telah beriman sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin) agar menerima orang baik, dan memaafkan orang yang keliru dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar berbuat baik kepada seluruh penduduk kota ini kerana mereka adalah para pembela Islam dan telah menyumbangkan harta (untuk Islam) dan telah bersikap keras terhadap musuh. Dan janganlah mengambil dari mereka kecuali harta lebih mereka dengan kerelaan mereka. Aku juga berwasiat agar berbuat baik kepada orang-orang Arab Badwi kerana mereka adalah nenek moyang bangsa Arab dan perintis Islam, dan agar diambil dari mereka bukan harta pilihan (utama) mereka (sebagai zakat) lalu dikembalikan (disalurkan) untuk orang-orang fakir dari kalangan mereka. Dan aku juga berwasiat kepadanya agar menunaikan perjanjian kepada ahlu Dzimmah (Warga bukan muslim yang wajib terkena pajak), iaitu orang-orang yang di bawah perlindungan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam (asalkan membayar pajak) dan mereka (ahlu dzimmah) yang berniat memerangi harus diperangi, mereka juga tidak boleh dibebani selain sebatas kemampuan mereka”. Ketika Umar sudah menghembuskan nafas, kami keluar membawanya lalu kami berangkat dengan berjalan. ‘Abdullah bin Umar mengucapkan salam (kepada Aisyah radliallahu ‘anha) lalu berkata; “Umar bin Al-Khattab meminta izin”. Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Masukkanlah”. Maka jasad Umar dimasukkan ke dalam liang lahad dan diletakkan berdampingan dengan kedua sahabatnya. Setelah selesai menguburkan jenazah Umar, orang-orang (yang telah ditunjuk untuk mencari pengganti khalifah) berkumpul. ‘Abdur Rahman bin ‘Auf berkata; “Jadikanlah urusan kalian ini kepada tiga orang di antara kalian. Maka Az Zubair berkata; “Aku serahkan urusanku kepada Ali. Sementara Thalhah berkata; “Aku serahkan urusanku kepada Uthman. Sedangkan Sa’ad berkata; “Aku serahkan urusanku kepada ‘Abdur Rahman bin ‘Auf. Kemudian ‘Abdur Rahman bin ‘Auf berkata; “Siapa di antara kalian berdua yang mahu melepaskan urusan ini maka kami akan serahkan kepada yang satunya lagi, Allah dan Islam akan mengawasinya sungguh seseorang dapat melihat siapa yang terbaik di antara mereka menurut pandangannya sendiri. Dua pembesar (Uthman dan Ali) terdiam. Lalu ‘Abdur Rahman berkata; “Apakah kalian menyerahkan urusan ini kepadaku. Allah tentu mengawasiku dan aku tidak akan semena-mena dalam memilih siapa yang terbaik di antara kalian”. Keduanya berkata; “Baiklah”. Maka ‘Abdur Rahman memegang tangan salah seorang dari keduanya seraya berkata; “Engkau adalah kerabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari kalangan pendahulu dalam Islam (senior) sebagaimana yang kamu ketahui dan Allah akan mengawasimu. Seandainya aku serahkan urusan ini kepadamu tentu kamu akan berbuat adil dan seandainya aku serahkan urusan ini kepada Uthman tentu kamu akan mendengar dan mentaatinya”. Kemudian dia berbicara menyendiri dengan Uthman dan berkata sebagaimana yang dikatakannya kepada Ali. Ketika dia mengambil perjanjian bai’ah, ‘Abdur Rahman berkata; “Angkatlah tanganmu wahai Uthman”. Maka Abdur Rahman membai’ah Uthman lalu Ali ikut membai’ahnya kemudian para penduduk masuk untuk membai’ah Uthman”. (Sahih Bukhari, no. 3424)
Dari Ma’dan Bin Abu Thalhah Al Ya’mari bahawa Umar Bin Al-Khathab berdiri di atas mimbar pada hari Jumaat, kemudian memuji dan mengagungkan Allah lalu menyebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu bakar, kemudian berkata; “Aku bermimpi dan aku menganggapnya itu adalah pertanda akan tibanya ajalku, aku bermimpi seakan-akan seekor ayam jantan mematukku dua kali.” Ma’dan berkata; dia (Umar) menyebutkan bahawa ayamnya berwarna merah, kemudian aku ceritakan kepada Asma’ Binti Umais isteri Abu Bakar, maka dia berkata; “Seorang lelaki asing/selain arab akan membunuhmu.” Umar berkata; “Sesungguhnya orang-orang menyuruhku untuk mengangkat seorang pengganti, dan sesungguhnya Allah tidak akan menngsia-siakan agama dan kekhilafahanNya, yang telah mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengusungnya, dan jika ajal menjemputku maka urusan ini diserahkan di dalam Syura’ (musyawarah) di antara enam orang yang ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal beliau redha kepada mereka, maka siapa saja di antara mereka yang kalian bai’ah hendaklah kalian dengar dan taati, dan sesungguhnya aku mengetahui akan ada orang-orang yang akan mengacaukan urusan ini, dan aku adalah yang akan memerangi mereka dengan tanganku atas dasar Islam, mereka itulah musuh musuh Allah, orang-orang kafir lagi sesat, demi Allah, aku tidak akan meninggalkan dari apa-apa yang telah Rabbku janjikan kepadaku kemudian menggantikanku dengan sesuatu yang lebih penting bagiku ketimbang Al Kalalah (seseorang yang meninggal dan tidak meninggalkan bapa serta anak), dan demi Allah, tidak pernah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan sesuatu kepadaku tentang sesuatu sejak aku menemani beliau melebihi ketegasannya kepadaku dalam masalah Kalalah sampai beliau menusukkan jarinya ke dadaku dan berkata: “Cukup bagimu ayat tentang shaif yang ada di akhir surah An-Nisa’, sesungguhnya jika aku hidup maka aku akan putuskan masalah itu dengan keputusan yang dapat diketahui oleh orang yang membaca dan orang yang tidak membaca, dan aku bersaksi kepada Allah atas pemimpin-pemimpin negeri, bahawasannya aku mengutus mereka supaya mereka mengajarkan kepada manusia perihal urusan agama mereka dan agar supaya mereka menjelaskan tentang sunnah Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengadukan kepadaku apa yang tidak mereka ketahui, kemudian sesungguhnya kalian wahai manusia, kalian memakan dua pohon yang tidak aku anggap kecuali keduanya adalah menjijikkan, iaitu bawang putih dan bawang merah ini, demi Allah aku telah melihat Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mencium bau keduanya dari seorang lelaki, beliau menyuruhnya sambil memegang tangannya untuk keluar dari masjid sehingga diletakkan di Baqi’, maka barangsiapa memakan keduanya hendaklah memasaknya hingga tidak ada baunya.” Ma’dan berkata; “Umar berkhutbah di hadapan manusia pada hari Jumaat dan terbunuh pada hari Rabu.” (Musnad Ahmad, no. 85)
Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah dia berkata; “Aku menjadi utusan bersama ayahku untuk menemui Mu’awiyah bin Abu Safyan, kemudian Abu Sufyan mempersilahkan kami masuk, lalu dia berkata; “Wahai Abu Bakrah, ceritakanlah kepadaku sesuatu yang telah kamu dengar dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam!” Ayahku menjawab; “Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kagum dengan mimpi yang baik, lalu beliau akan bertanya tentang mimpi tersebut, pada suatu hari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam bertanya: “Siapakah di antara kalian yang bermimpi?” Salah seorang laki-laki menjawab; “Saya wahai Rasulullah, aku bermimpi seakan-akan ada timbangan yang menggantung di langit, kemudian engkau ditimbang dengan Abu Bakar, maka timbangan engkau lebih berat dari Abu Bakar Radliyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu Abu Bakar radliallahu ‘anhu ditimbang dengan Umar radliallahu ‘anhu, ternyata timbangan Abu Bakar lebih berat dari Umar. Lalu Umar ditimbang dengan Uthman Radliyallahu Ta’ala ‘anhu, maka timbangan Umar lebih berat dari Uthman radliallahu ‘anhum. Kemudian timbangan itu diangkat.” Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam menayangkan mimpinya seraya bersabda: “Itulah khilafah Nubuwwah (kepemimpinan ala Nubuwwah), kemudian Allah Tabaraka Wata’ala memberikan kekuasaan kepada orang yang dikehendaki.” (Musnad Ahmad, no. 19547)
Dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Kami pernah duduk-duduk di dalam Masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Basyir menahan pembacaan hadithnya. Kemudian datanglah Abu Tsa’labah Al Khusyani dan berkata, “Wahai Basyir bin Sa’d, apakah kamu hafal hadith Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan Umara’ (para pemimpin)?” Kemudian Hudzaifah berkata, “Aku hafal khutbah beliau.” Maka Abu Tsa’labah pun duduk, kemudian Hudzaifah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Akan berlangsung Nubuwwah (kenabian) di tengah-tengah kalian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya (berakhir) bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kekhilafahan menurut sistim kenabian selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung kerajaan yang bengis selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian berlangsung pemerintahan yang menindas (diktator) selama kurun waktu tertentu yang Allah kehendaki lalu Dia mengangkatnya bila Dia menghendaki untuk mengakhirinya. Kemudian akan berlangsung kembali kekhalifahan menurut sistem kenabian. Kemudian beliau berhenti”. (Musnad Ahmad, no. 17680)
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya kulit orang kafir itu setebal empat puluh dua hasta, gigi gerahamnya seperti Jabal Uhud dan tempatnya di neraka Jahanam seluas antara Makkah dan Madinah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2500)
Dari Sa’ad bin Malik; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sekiranya satu timba nanah penduduk neraka dituang ke bumi, sungguh ia akan menjadikan seluruh penduduk bumi mencium bau busuknya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2509, Musnad Ahmad, no. 10799)
Dari Ibnu Abbas bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu sekalian meninggal melainkan kalian dalam keadaan muslim.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kalau seandainya setitis Zaqqum (nama pohon di neraka) menitis ke kampung dunia (bumi), nescaya akan merosakkan kehidupan penduduk dunia. Lalu bagaimana dengan (keadaan) orang-orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya?” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2510, Sunan Ibnu Majah, no. 4316)
Dari Abu Darda dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan dicampakkan kepada penghuni neraka rasa lapar yang sebanding dengan seksa yang mereka alami, lalu mereka memohon pertolongan, kemudian mereka ditolong dengan diberi makanan dari “dhari” (pohon yang berduri) yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar, kemudian mereka memohon diberikan makanan lalu mereka diberi makanan yang menyumbat di kerongkongan, kemudian mereka teringat bahawa dahulu di dunia mereka mengubati tersumbatnya kerongkongan mereka dengan minuman, maka mereka memohon untuk diberi minuman, lalu dituangkanlah air mendidih kepada mereka dengan “Al Kalalib” (besi yang bengkok hujungnya digunakan untuk mengangkat daging dari kendi) yang apabila telah dekat ke wajah mereka menjadi jatuhlah wajah mereka, dan apabila masuk ke dalam perut mereka nescaya akan memotong-motong organ yang ada dalam perut mereka. Lalu mereka berkata sesama mereka; ‘Memohonlah kepada penjaga neraka Jahannam.’ Namun mereka (penjaga neraka) membacakan ayat: “Bukankah kamu telah didatangi Rasul-rasul kamu dengan membawa keterangan-keterangan (yang menyatakan akibat perbuatan derhaka kamu)?” Mereka menjawab: “Ya, telah datang”. Malaikat itu berkata: “Jika demikian, maka berdoalah kamu sendiri. Dan doa permohonan orang-orang yang kafir pada saat ini hanya menyebabkan mereka berada dalam keadaan dukacita dan kecewa sahaja” (Ghafir:50). Rasulullah berkata; Dan mereka menyeru (ketua malaikat penjaga neraka, dengan berkata): “Wahai Malik! Biarlah hendaknya Tuhanmu mematikan kami (kerana kami tidak tahan menderita)!” Malik menjawab: “Sesungguhnya kamu tetap kekal di dalam azab” (Al-Zukhruf:77). -Al A’masy berkata; ‘Aku diberitahu bahawa jarak antara permohonan mereka dengan jawaban Malaikat Malik kepada mereka adalah seribu tahun’- Nabi berkata: “Lalu mereka saling berkata; ‘Mohonlah kepada Rabb kalian kerana tidak ada seorang pun yang lebih baik daripada Rabb kalian’. Lalu mereka memohon; ‘Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan dahulu kami adalah orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari padanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), maka sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim’ (Al-Mukminun:106-107). Nabi berkata: “Lalu Allah menjawab kepada mereka; ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku’ (Al-Mukminun:108). Nabi berkata: “Maka ketika itu mereka putus asa dari segala kebaikan, dan ketika itu juga mereka meringkik dan menyesal serta celaka.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2511)
Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai firman Allah: “Seperti besi yang mendidih.” (Al-ma’arij:8), Beliau bersabda: “Seperti kotoran minyak, Kemudian apabila Allah mendekatkan ke wajah orang yang diazab maka gugurlah kulit wajahnya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3244)
Dari Abu Sa’id al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan firmanNya: “Dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat.” Beliau bersabda: “Orang kafir dibakar oleh api neraka, maka bibir atasnya mengkerut (ke atas) sehingga mencapai pertengahan kepalanya, sedangkan bibir bawahnya menjulur hingga mendekati pusatnya.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2512, Musnad Ahmad, no. 11409)
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bara api neraka Jahannam itu dipanaskan selama seribu tahun sampai menjadi merah, kemudian dipanaskan lagi selama seribu tahun sampai menjadi putih, kemudian dipanaskan lagi selama seribu tahun sampai menjadi hitam, maka dia menjadi hitam gelap”. (Sunan At-Tirmidzi, no. 2516, Sunan Ibnu Majah, no. 4311)
Dari Jabir dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Segolongan orang dari ahli tauhid diazab di neraka sehingga mereka menjadi abu, kemudian mereka mendapatkan rahmat, lalu mereka dikeluarkan dan diletakkan di depan pintu syurga.’ Rasulullah berkata; ‘Lalu penduduk syurga menyiramkan air kepada mereka, maka mereka tumbuh kembali sebagaimana buih tumbuh dalam sesuatu yang dibawa aliran air, kemudian mereka masuk syurga.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2522, Musnad Ahmad, no. 14665)
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesunguhnya ada dua orang yang masuk ke dalam neraka, keduanya menjerit dengan suara kuat, maka Rabb ‘azza wajalla memerintahkan (kepada Malaikat Zabaniyah): ‘Keluarkanlah keduanya!’ Setelah keduanya dikeluarkan, maka Allah bertanya kepada keduanya: ‘Untuk apa kalian berdua menjerit dengan suara kuat?’ Keduanya menjawab; ‘Kami melakukan demikian agar supaya Engkau mengasihani kami.’ Kemudian Allah berfirman, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku untuk kalian berdua, hendaklah kalian berdua pergi lalu menceburkan diri kalian di tempat kalian dahulu berada dalam neraka.’ Maka keduanya pergi, dan salah seorang dari keduanya menceburkan dirinya ke dalam neraka, namun Allah menjadikannya dingin dan selamat atasnya, sedangkan yang lain tetap berdiri dan tidak menceburkan dirinya, kemudian Allah ‘azza wajalla bertanya kepadanya; ‘Apa yang menghalangimu untuk menceburkan dirimu sebagaimana temanmu telah menceburkan dirinya?’ Dia menjawab; ‘Wahai Rabbku sesungguhnya aku sangat mengharap agar supaya Engkau tidak mengembalikanku ke dalamnya (neraka) setelah Engkau keluarkan aku darinya.’ Maka Allah berfirman: ‘Kamu mendapatkan apa yang kamu harapkan.’ Kemudian keduanya masuk Syurga dengan rahmat Allah”. (Sunan At-Tirmidzi, no. 2524)
Dari Abu Sa’id berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Salam memasuki tempat solat lalu beliau melihat orang-orang, sepertinya mereka tertawa hingga terlihat gigi-giginya, beliau bersabda: “Ingat, sesungguhnya bila kalian banyak mengingat pemutus segala kenikmatan nescaya kalian tidak sempat melakukan (perkara) yang aku lihat (tertawa), kerana itu perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, sesungguhnya tidaklah ada suatu hari datang atas makam (pekuburan) melainkan ia berbicara; ‘Aku rumah pengasingan, aku rumah penyendirian, aku rumah tanah, aku rumah cacing.’ Bila seorang hamba mukmin dikuburkan, kubur berkata padanya: ‘Selamat datang, engkau adalah orang yang berjalan di atas punggungku yang paling aku sukai, kerana saat ini aku diberi kuasa menanganimu dan kau kembali kepadaku, kau akan melihat apa yang akan aku lakukan padamu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Lalu diluaskan baginya sejauh mata memandang dan dibukakan baginya pintu menuju syurga. Dan bila hamba keji atau kafir dikuburkan, kubur berkata padanya: ‘Tidak selamat datang, engkau adalah orang yang melintasi di atas punggungku yang paling aku benci, kerana saat ini aku diberi kuasa menanganimu dan kau kembali padaku, kau akan mengetahui apa yang akan aku lakukan padamu.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Lalu kubur menghimpitnya hingga mengenainya sehingga tulang-tulangnya tidak keruan,” -Rasulullah mengisyaratkan dengan memasukkan sebahagian jari-jemarinya ke sebahagian yang lain- Berkata Abu Sa’id: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Allah mendatangkan kepadanya tujuh puluh ular besar, andai satu di antaranya menghembus di bumi necaya tidak akan menumbuhkan apa pun selama dunia masih ada, lalu semua (ular) mengigit dan melukainya hingga ia sampai ke (hari) penghisaban.” Berkata Abu Sa’id: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya kubur adalah salah satu taman syurga atau salah satu lubang neraka.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2384)
Khalid ibnu Lajlaj menceritakan kepadanya, bahawa Lajlaj bapanya Khalid pernah memberitahunya; ia pernah duduk sambil bekerja di pasar lalu ada seorang wanita lalu dengan membawa anak kecil. Orang-orang mencela wanita itu, aku pun ikut mencela wanita tersebut. Aku lalu membawa wanita itu ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bertanya: “Siapa bapa dari anak yang kamu bawa ini?” Wanita itu diam. Seorang laki-laki yang ada di sisinya berkata, “Wahai Rasulullah, akulah bapanya.” Beliau kembali berpaling ke wanita itu dan bertanya: “Siapa bapa dari anak yang kamu bawa ini?” Pemuda itu terus saja menjawab, “Wahai Rasulullah, akulah bapanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menghadap ke khalayak ramai, beliau bertanya kepada mereka tentang pemuda itu, mereka menjawab, “Kami tidak mengenal pemuda itu kecuali orang yang baik-baik.” Beliau lalu bertanya kepada pemuda itu: “Apakah kamu telah menikah?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau lalu memerintahkan untuk merejamnya, maka ia pun direjam.” Lajlaj berkata, “Kami lalu membawa pemuda itu dan membuat lubang untuknya, kemudian kami melemparinya dengan batu hingga ia tidak bergerak lagi.” Setelah itu datanglah seorang laki-laki menanyakan perihal pemuda yang direjam itu, kami pun mengajaknya menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami katakan kepada Nabi, “Orang ini datang untuk menanyakan orang buruk itu (pemuda yang direjam). Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jesteru bersabda: “Sungguh di sisi Allah pemuda itu lebih harum dari minyak kasturi.” Dan ternyata laki-laki yang baru datang itu adalah bapa dari pemuda tersebut, kami lalu membantunya untuk memandikan, mengkafani dan menguburkannya. Namun aku tidak tahu, beliau ikut solat atau tidak.” (Musnad Ahmad, no. 15369, Sunan Abu Daud, no. 3848)
Dari Al Hasan berkata: Utbah bin Ghazwan berkhutbah di atas mimbar Bashrah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Sesungguhnya batu besar di lemparkan dari tepi neraka jahanam lalu jatuh ke dalamnya selama tujuh puluh tahun dan tidak juga sampai ke dasarnya.” Berkata Al Hasan: Ibnu Umar berkata: Sering-seringlah mengingat neraka kerana panasnya amat sangat, jurangnya jauh dan palu-palunya terbuat dari besi. (Sunan At-Tirmidzi, no. 2498)
Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Pada hari itu (hari kiamat), neraka Jahannam didatangkan, ia memiliki tujuh puluh ribu tali, pada tiap tali ada tujuh puluh ribu malaikat menyeretnya.” (Sahih Muslim, no. 5076, Sunan At-Tirmidzi, no. 2496)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui kami sementara di tangan beliau terdapat dua kitab. Kemudian beliau pun bertanya: “Apakah kalian tahu apakah kedua kitab ini?” Maka kami pun menjawab: “Tidak wahai Rasulullah, kecuali anda mengkhabarkannya pada kami.” Akhirnya beliau pun bersabda berkait dengan kitab yang berada pada tangan kanannya: “Ini adalah kitab yang berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya terdapat nama-nama penduduk syurga dan juga nama-nama orang tua serta kabilah mereka. Jumlahnya telah ditutup dengan orang yang terakhir dari mereka, dan tidak akan ditambah dan jumlah mereka tidak pula dikurangi lagi.” Kemudian beliau bersabda berkait dengan kitab yang berada di tangan kirinya: “Ada pun ini, ia adalah kitab yang juga berasal dari Rabb semesta alam. Di dalamnya telah tercantum nama-nama penghuni neraka, dan juga nama-nama bapa mereka serta kabilah mereka, dan telah dijumlah dengan orang yang terakhir dari mereka. Sehingga jumlah mereka tidak lagi akan bertambah dan tidak pula akan berkurang selama-lamanya.” Kemudian para sahabat pun berkata, “Kalau begitu, dimanakah letaknya amalan wahai Rasulullah jika memang perkara sudah habis (ditetapkan)?” Beliau menjawab: “Berusahalah dan mendekatilah, kerana sesungguhnya penduduk syurga akan ditutup dengan amalan penduduk ahli syurga, meskipun ia mengamalkan amalan apa saja. Dan sesungguhnya penduduk neraka akan ditutup pula dengan amalan penduduk neraka, meskipun ia mengerjakan amalan apa saja.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dengan kedua tangannya lalu menghempaskannya dan bersabda: “Sesungguhnya Allah telah selesai terhadap urusan para hamba-Nya. Satu golongan di dalam syurga dan satu kelompok pula di dalam neraka.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2067)
Dari Shuhaib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Dulu sebelum kalian, ada seorang raja, ia memiliki tukang sihir, saat tukang sihir sudah tua, ia berkata kepada rajanya: ‘Aku sudah tua, kirimlah seorang pemuda kepadaku untuk aku ajari sihir.’ Lalu seorang pemuda datang padanya, ia mengajarkan sihir kepada pemuda itu. Di jalan yang dilalui si pemuda setiap hari hendak pergi belajar sihir ada seorang rahib. Si pemuda selalu singgah ke tempat rahib tersebut dan menyemak ajaran-ajarannya. Ternyata ajaran rahib tersebut sangat dikagumi si pemuda. Apabila dia terlambat sampai ke tempat tukang sihir, dia dipukul oleh tukang sihir. Hal itu diadukannya kepada rahib. Kata rahib, ‘Jika engkau takut dimarahi tukang sihir katakan kepadanya bahawa engkau terlambat kerana halangan keluarga. Dan jika engkau takut dimarahi keluargamu, katakan bahawa engkau terlambat pulang kerana tukang sihir.’ Saat seperti itu, pada suatu hari ia mendekati sebuah haiwan yang besar yang menghalangi jalanan orang, ia berkata, ‘Hari ini aku akan tahu, apakah tukang sihir lebih baik ataukah rahib lebih baik.’ Ia mengambil batu lalu berkata: ‘Ya Allah, bila urusan si rahib lebih Engkau sukai dari pada tukang sihir itu maka bunuhlah binatang ini hingga orang boleh melalui jalan.’ Ia melemparkan batu itu dan membunuhnya, orang-orang pun boleh melalui jalan. Ia memberitahukan hal itu kepada si rahib. Si rahib berkata: ‘Anakku, saat ini engkau lebih baik dariku dan urusanmu telah sampai seperti yang aku lihat, engkau akan mendapat ujian, bila kau mendapat ujian jangan menunjukkan padaku.’ Si pemuda itu boleh menyembuhkan orang buta dan berbagai penyakit. Salah seorang teman raja yang buta lalu ia mendengarnya, ia mendatangi pemuda itu dengan membawa hadiah yang banyak, ia berkata: ‘Sembuhkan aku dan kau akan mendapatkan yang aku kumpulkan di sini.’ Pemuda itu berkata: ‘Aku tidak menyembuhkan seorang pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah, bila kau beriman padaNya, aku akan berdoa kepadaNya agar menyembuhkanmu.’ Teman si raja itu pun beriman lalu si pemuda itu berdoa kepada Allah lalu ia pun sembuh. Teman raja itu kemudian mendatangi raja lalu duduk didekatnya. Si raja berkata: ‘Hai fulan, siapa yang menyembuhkan matamu?’ Orang itu menjawab: ‘Rabbku.’ Si raja berkata: ‘Kau punya Rabb selainku?’ Orang itu berkata: ‘Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.’ Si raja menangkapnya lalu menyiksanya hingga ia menunjukkan pada pemuda itu lalu pemuda itu didatangkan. Raja berkata: ‘Hai anakku, sihirmu yang boleh menyembuhkan orang buta, sopak dan kau melakukan ini dan itu.’ Pemuda itu berkata: ‘Bukan aku yang menyembuhkan, yang menyembuhkan hanya Allah.’ Si raja menangkapnya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukkan kepada si rahib. Si raja mendatangi si rahib, rahib pun didatangkan lalu dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Si rahib tidak mahu lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terjatuh di tanah. Setelah itu teman si raja didatangkan dan dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Si rahib tidak mahu lalu si raja meminta gergaji kemudian diletakkan tepat ditengah kepalanya hingga sebelahnya terjatuh di tanah. Setelah itu pemuda didatangkan lalu dikatakan padanya: ‘Tinggalkan agamamu.’ Pemuda itu tidak mahu. Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: ‘Bawalah dia ke gunung ini dan ini, bawalah ia naik, bila ia mahu meninggalkan agamanya (biarkanlah dia) dan bila tidak mahu, lemparkan dari atas gunung.’ Mereka membawanya ke puncak gunung lalu pemuda itu berdoa: ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka sekehendakMu.’ Ternyata gunung menggoncang mereka dan mereka semua jatuh. Pemuda itu kembali pulang hingga tiba dihadapan raja. Raja bertanya: ‘Bagaimana keadaan tentera-tenteraku?’ Pemuda itu menjawab: ‘Allah menyelamatkanku dari mereka.’ Lalu si raja menyerahkannya ke sekelompok tentaranya, raja berkata: ‘Bawalah dia ke sebuah perahu lalu hantar ke tengah laut, bila ia mahu meninggalkan agamanya (bawalah dia pulang) dan bila ia tidak mahu meninggalkannya, lemparkan dia.’ Mereka membawanya ke tengah laut lalu pemuda itu berdoa: ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka sekehendakMu.’ Ternyata perahunya terbalik dan mereka semua tenggelam. Pemuda itu pulang hingga tiba di hadapan raja, raja bertanya: Bagaimana keadaan tentera-tenteraku? ‘ Pemuda itu menjawab: ‘Allah menyelamatkanku dari mereka.’ Setelah itu ia berkata kepada raja: ‘Kau tidak akan dapat membunuhku sebelum melakukan perintah ku.’ Raja bertanya: ‘Apa itu?’ Pemuda itu berkata: ‘Kumpulkan seluruh rakyat di suatu lapangan. Lalu salib aku di situ pada sebatang pohon. Kemudian ambil anak panah dari tempat panah ku dan letakkan di busur dengan membaca: Bismillahi rabbil ghulam (Dengan nama Allah, Tuhan Pemuda ini). Sesudah itu panahlah aku. Bila kau lakukan seperti itu maka kau akan berhasil membunuhku.” Maka dikumpulkannya seluruh rakyat di suatu lapangan. Lalu disalibnya si pemuda pada sebatang pohon. Kemudian diambilnya panah lalu dipasangnya pada busur dengan membaca: Bismillahi rabbil ghulam. Maka dipanahnya lah si pemuda, kena pelipisnya. Pemuda meletakkan tangannya ditempat yang terkena panah kemudian mati. Orang-orang berkata: ‘Kami beriman dengan Rabb pemuda itu! Kami beriman dengan Rabb pemuda itu! Kami beriman dengan Rabb pemuda itu!’ Kemudian didatangkan kepada raja dan dikatakan padanya: ‘Tahukah kamu akan sesuatu yang kau khuatirkan, demi Allah kini telah menimpamu. Orang-orang beriman seluruhnya.’ Si raja kemudian memerintahkan membuat parit di jalanan kemudian dinyalakan api. Raja berkata: ‘Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya, pangganglah didalamnya.’ Mereka melakukannya hingga datanglah seorang wanita bersama bayinya, sepertinya ia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam paritan api lalu si bayi itu berkata: ‘Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” (Sahih Muslim, no. 5327, Musnad Ahmad, no. 22805)
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau telah bersabda: “Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: Bayi (yakni) Isa bin Maryam, dan bayi dalam perkara Juraij.” Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan sentiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan solat sunat, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya; ‘Hai Juraij!’ Juraij bertanya dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan solatku ataukah memenuhi panggilan ibuku?’ Akhirnya ia pun meneruskan solatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan solat sunat. Kemudian ibunya memanggilnya; ‘Hai Juraij!’ Kata Juraij dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah solatku?’ Lalu Juraij tetap meneruskan solatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan solat sunat. Seperti biasa ibunya memanggil; ‘Hai Juraij!’ Kata Juraij dalam hati; ‘Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan solatku ataukah memenuhi seruan ibuku?’ Namun Juraij tetap meneruskan solatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah; ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!’ Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata; ‘Jika kalian menginginkan populariti Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun meneruskan sabdanya: ‘Maka mulailah pelacur itu menggoda dan memujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terpedaya dengan godaan pelacur tersebut. Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya sampai akhirnya hamil. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahawa; ‘Bayi ini adalah hasil perbuatan aku dengan Juraij.’ Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mendatangi rumah peribadatan Juraij dan bahkan menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Lalu Juraij bertanya kepada mereka; ‘Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku? ‘ Mereka menjawab; ‘Kami lakukan hal ini kepadamu karena kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.’ Juraij berseru; ‘Dimanakah bayi itu?’ Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya; ‘Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?’ Ajaibnya, bayi terus menjawab; ‘Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.’ Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkat darinya. Setelah itu mereka pun berkata; ‘Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.’ Namun Juraij menolak dan berkata; ‘Tidak perlu, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.’ Akhirnya mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula.Dan bayi ketiga, ada seorang bayi sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lalu seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian yang bagus pula. Lalu ibu bayi tersebut berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengenderai haiwan tunggangan itu!’ Ajaibnya, bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!’ Setelah itu, bayi tersebut terus menyusu kembali kepada ibunya. Abu Hurairah berkata; ‘Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan susuan bayi itu dengan memperagakan jari telunjuk beliau yang dihisap dengan mulut beliau.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneruskan sabdanya: ‘Pada suatu ketika, ada beberapa orang yang menyeret dan memukuli seorang wanita seraya berkata; ‘Kamu wanita tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri.’ Tetapi wanita itu tetap tegar dan berkata; ‘Hanya Allah lah penolongku. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolongku.’ Kemudian ibu bayi itu berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu! ‘Tiba-tiba bayi tersebut berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang wanita tersebut seraya berkata; ‘Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya!’ Demikian pernyataan ibu dan bayinya itu terus berlawanan, hingga ibu tersebut berkata kepada bayinya; ‘Celaka kamu hai anakku! Tadi, ada seorang laki-laki yang gagah dan menawan lalu di depan kita, lalu aku berdoa kepada Allah; ‘Ya Allah, jadikanlah anakku seperti laki-laki itu! Namun kamu malah mengatakan; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu! Kemudian tadi, ketika ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang wanita, sambil aku berkata; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu!’ Tetapi kamu malah berkata; ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!’ Mendengar pernyataan ibunya itu, bayi pun menjawab; ‘Sesungguhnya laki-laki yang gagah itu seorang diktator hingga aku mengucapkan; ‘Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!’ Sementara wanita yang dituduh mencuri dan berzina itu tadi sebenarnya adalah seorang wanita yang solehah, tidak pernah berzina, ataupun mencuri. Oleh kerana itu, aku pun berdoa; ‘Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!’ (Sahih Muslim, no. 4626)
Dari Abdillah bin Rafi’ berkata: “Aku berkata kepada Hurairah: “Mengapa kamu dipanggil Abu Hurairah?” dia berkata: “Apakah kamu takut kepadaku?” Aku berkata: “Tentu demi Allah sungguh aku takut kepadamu.” Dia berkata: “Aku pernah menggembala kambing keluargaku dan aku mempunyai seekor kucing kecil lalu aku letakkannya di malam hari di suatu pohon lalu apabila siang hari aku pergi bersamanya kemudian bermain bersamanya lalu mereka memanggilku Abu Hurairah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3775)
Dari Ibnu Abbas berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Hajar Aswad turun dari syurga dengan warna lebih putih dari susu kemudian berubah menjadi hitam karena dosa-dosa anak-anak Adam”. (Sunan At-Tirmidzi, no. 803)
Dari Abdullah bin ‘Amr berkata; Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim merupakan dua permata di antara permata syurga. Allah telah menghapus cahaya keduanya. Jika tidak Allah hapus, nescaya cahayanya akan menerangi jarak antara timur dan barat.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 804)
Dari ‘Aisyah berkata; “Dahulu, saya suka masuk ke Kaabah dan solat di dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menarik tanganku dan memasukanku ke Hijir Ismail, lantas memerintahkan: ‘Solatlah di Hijir, jika hendak masuk ke Kaabah. Kerana hijir adalah bahagian dari Kaabah namun kaummu melewatkannya ketika membangun Kaabah, mereka telah mengeluarkannya dari bangunan Kaabah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 802)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Abu Bakar, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Umar, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Abu ‘Ubadah bin Jarrah, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Usaid bin Hudlair, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Tsabit bin Qais bin Syammas, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Mu’adz bin Jabal, sebaik-baik orang (dari kaum laki-laki) adalah Mu’adz bin ‘Amru bin Al Jamuh.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3728)
Dari Anas bin Malik dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya syurga merindukan tiga orang, iaitu; Ali, ‘Ammar dan Salman.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3732)
Dari Abdullah bin Syaqiq dia berkata; saya berkata kepada Aisyah; “Siapakah di antara para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang paling beliau cintai?” Dia menjawab; “Abu Bakar.” Saya bertanya; “Kemudian siapa?” Dia menjawab; “Kemudian Umar.” Saya bertanya; “Kemudian siapa?” Dia menjawab; “Kemudian Abu ‘Ubaidah bin Al Jarrah.” Kataku; “Kemudian siapa?” Maka dia hanya terdiam.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3730)
Dari Umarah, dari Tsabit, dari Anas berkata; Ketika Aisyah berada di rumahnya tiba-tiba dia mendengar suara di Madinah, dia berkata; ada apa ini? Orang-orang berkata; Rombongan dagang Abdur Rahman bin Auf yang datang dari Syam dia membawa apa saja. (Anas bin Malik) berkata; Berupa tujuh ratus ekor unta. (Anas bin Malik) berkata; Hingga Madinah bergetar kerana suara gemuruh. Maka Aisyah berkata; Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sungguh saya melihat Abdur Rahman bin Auf masuk syurga dengan merangkak.” Lalu hal itu sampai kepada Abdur Rahman bin Auf hingga ia berkata; Jika saya boleh, saya ingin masuk syurga dengan berdiri. Selanjutnya ia menyumbangkan seluruh unta dan barang bawaannya di jalan Allah AzzaWaJalla.” (Musnad Ahmad, no. 23698) – dinilai sangat dhaif oleh sebahagian besar ulama’ dan ada juga ulama’ yang menilainya sebagai munkar dan maudhu’.
Dari ‘Ubaidullah bin Musa dari Israil dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Abidah dari ‘Abdullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia yang terakhir kali masuk syurga dan terakhir kali keluar dari neraka adalah seseorang yang keluar dengan merangkak, lantas tuhannya berkata, ‘Masuklah kamu dalam syurga.’ Orang tersebut kemudian berkata, ‘Wahai Tuhanku, syurga sudah sesak! Allah mengulangi firman-Nya hingga tiga kali, namun si hamba terus menjawabnya dengan mengatakan ‘Syurga sudah penuh’. Maka Allah berfirman: ‘Sesungguhnya syurga bagimu seperti dunia dikalikan sepuluhnya.’ (Sahih Bukhari, no. 6957)
Dari Jarir dari Manshur dari Ibrahim dari ‘Abidah dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku mengetahui penduduk neraka yang terakhir keluar darinya dan dia menjadi penduduk syurga yang terakhir kali masuk syurga, iaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dalam keadaan merangkak, lalu Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah, dan masuklah syurga. Lalu dia mendatanginya, lalu dikhayalkan kepadanya bahawa syurga telah penuh. Lalu dia kembali seraya berkata, ‘Wahai Rabbku, aku mendapatinya telah penuh.’ Maka Allah berfirman kepadanya, ‘Masuklah syurga.’ Lalu dia mendatanginya, lalu dikhayalkan kepadanya bahawa ia telah penuh. Lalu dia kembali seraya berkata, ‘Wahai Rabbku, aku mendapatinya telah penuh.’ Maka Allah berkata kepadanya, ‘Pergilah, lalu masuklah ke syurga, kerana kamu mendapatkan seperti dunia dan sepuluh kali lipat semisalnya, -atau kamu mendapatkan sepuluh kali lipat semisal dunia-.’ Dia berkata, ‘Apakah Engkau mengolok-olokku atau sedangkan Engkau adalah Raja’.” Perawi berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat.” Perawi melanjutkan: “Dan dikatakan bahawa dia adalah penduduk syurga yang paling rendah kedudukannya.” (Sahih Muslim, no. 272)
Dari Ibnu Abu Fudaik dari Musa bin Ya’qub dari ‘Umar bin Sa’id dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Sa’id bin Zaid pernah bercerita kepadanya mengenai beberapa orang (dikhabarkan masuk syurga), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sepuluh orang (akan) masuk syurga, iaitu; Abu Bakar masuk syurga, Umar masuk syurga, Uthman, Ali, Zubair, Thalhah, Abdurrahman, Abu Ubaidah dan Sa’ad bin Abi Waqash.” Humaid berkata, “Jumlah mereka baru sembilan, sedang yang kesepuluh Sa’id diam.” Maka sebahagian orang berkata; “Kami bersumpah atas nama Allah siapa yang kesepuluh wahai Abul A’war!”. Lalu Sa’id berkata; “Kalian telah bersumpah dengan nama Allah kepadaku, (ya) Abu A’war masuk dalam syurga.” Abu Isa berkata; “Abu A’war adalah Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3681)
Dari Syu’bah dari Al Hurri bin Ash Shayyah dari ‘Abdurrahman Ibnul Akhnas ketika itu ia sedang berada di masjid, lalu ada seorang laki-laki menyebutkan tentang Ali, maka Sa’id bin Zaid berdiri dan berkata, “Aku bersaksi atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahawa aku mendengar beliau bersabda: “Ada sepuluh orang (akan) masuk syurga (tanpa hisab). Nabi berada di syurga, Abu Bakar berada di syurga, Umar berada di syurga, Uthman berada di syurga, Ali berada di syurga, Thalhah berada di syurga, Az Zubair Ibnul Awwam berada di surga, Sa’d bin Malik berada di surga, ‘Abdurrahman bin Auf berada di syurga.” (Said bin Zaid berkata): Dan jika aku mahu maka akan aku sebutkan yang kesepuluh.” ‘Abdurrahman berkata, “Orang-orang lalu bertanya, “Siapa orangnya?” Sa’id diam. ‘Abdurrahman berkata, “Orang-orang bertanya lagi, “Siapa orangnya?” Sa’id menjawab, “Dia adalah Sa’id bin Zaid.” (Sunan Abu Daud, no. 4031)
Sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sangat lembut dan sayang kepada kepada Aisyah radhiyallaahu ‘anha daripada bapanya sendiri, Abu Bakar al-Shiddiq radhiyallaahu ‘anhu. Pernah terjadi perselisihan antara dirinya dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata: “Kamu yang berbicara atau saya yang bicara.” Maka datanglah Abu Bakar untuk menjadi penengah. Lalu Nabi Aisyah menjawab, “Bicaralah Engkau, dan jangan berkata kecuali yang benar.” Maka marahlah Abu Bakar dan menampar Aisyah sehingga keluar darah dari mulutnya dan berkata, “Apakah dia akan berkata yang tidak benar wahai musuh dirinya sendiri?” Maka bersembunyilah Aisyah di belakang punggung Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wasallam. Lalu seketika itu beliau berkata kepada Abu Bakar, “Sesungguhnya kami tidak mengundangmu untuk ini, dan kami tidak menghendaki ini darimu.” (HR. Al-Bukhari) | Suatu hari terjadi perselisihan di antara Nabi SAW dengan Aisyah RA sehingga Abu Bakar (bapa mertua NAbi SAW) turut campur tangan mahu memulihkannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah: Kamu yang bercakap atau aku dahulu? Kemudian Aisyah berkata: Kamu yang bercakap dan jangan kamu bercakap kecuali yang benar! Mendengar jawapan itu, Abu Bakar lalu menampar muka Aisyah (sehingga mulutnya berdarah) kemudian berkata kepada Aisyah: Apakah Rasulullah SAW bercakap selain kebenaran, wahai musuh dirinya sendiri? Kemudian Aisyah berlindung di belakang Rasulullah. Kemudian Nabi SAW bersabda: Kami tidak memanggilmu untuk melakukan ini atau mengharapkanmu melakukan seperti ini.” (Hadis Riwayat Imam Al-Bukhari)
Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika selesai menciptakan syurga, Allah berfirman kepada Jibril: “Pergi dan lihatlah syurga itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat syurga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali ia ingin memasukinya.” Kemudian Allah menutupi (merintangi) syurga dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh manusia). Lantas Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah syurga itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat syurga, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku khuatir tidak ada seorang pun yang hendak memasukinya.” Beliau bersabda: “Ketika selesai menciptakan neraka, Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka itu.” Jibril kemudian pergi dan melihat neraka, setelah itu ia kembali lagi seraya berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, tidak seorang pun yang mendengar tentangnya kemudian timbul keinginan untuk memasukinya.” Allah kemudian menutupi neraka dengan syahwat (kesenangan atau yang disukai manusia), lantas Allah berfirman: “Wahai Jibril, pergi dan lihatlah neraka.” kemudian Jibril pergi dan melihat neraka, setelah itu ia kembali lagi dan berkata, “Wahai Rabb, demi kemuliaan-Mu, aku khuatir tidak ada seorang pun yang bakal tersisa (selamat).” (Sunan Abu Daud, no. 4119)
Dari Muhammad bin Sa’d dari Ayahnya dia berkata; “Umar bin Khatthab radliallahu ‘anhu pernah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, (saat itu) di dekat beliau ada beberapa wanita Quraisy yang sedang berbicara panjang lebar dan bertanya kepada beliau dengan suara yang lantang. Ketika Umar meminta izin kepada beliau, mereka segera berhijab (bersembunyi di balik tabir), lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mempersilakan Umar untuk masuk. Ketika Umar masuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sehingga Umar berkata; “Demi ayah dan ibuku, apa yang membuat anda tertawa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda; “Aku hairan dengan mereka yang ada di sisiku, ketika mendengar suaramu mereka segera berhijab.” Umar berkata; “Anda adalah orang yang lebih patut untuk disegani wahai Rasulullah!” Kemudian Umar menghadapkan ke arah wanita tersebut dan berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi hawa nafsunya sendiri, apakah kalian segan denganku sementara kalian tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Kami pun menjawab; “Kerana kamu adalah orang yang lebih keras dan lebih kaku dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Biarlah wahai Ibnul Khatthab, demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, selamanya syaitan tidak akan bertemu denganmu di satu jalan yang kamu lalui melainkan syaitan akan melalui jalan selain jalanmu.” (Sahih Bukhari, no. 5621)
Dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Abu Bakar (semoga Allah merahmatinya) memohon izin untuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi ketika mahu masuk ia mendengar suara ‘Aisyah meninggi (seperti orang marah). Maka ketika Abu Bakar telah masuk ia memegang ‘Aisyah untuk memukulnya seraya berkata, “Kenapa aku melihat kamu mengeraskan suara di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menghalanginya hingga Abu Bakar keluar dengan membawa marah. Saat Abu Bakar keluar, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bagaimana pendapatmu ketika aku selamatkan kamu dari seorang laki-laki (murka Abu Bakar)?” Nu’man berkata, “Abu Bakar lalu berdiam diri di dalam rumah selama beberapa hari, setelah itu ia memohon izin lagi untuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ia mendapati keduanya telah berbaik. Lantas ia berkata kepada keduanya, “Sertakanlah aku dalam kedamaian kalian sebagaimana kalian telah menyertakanku dalam kemarahan kalian.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kami telah lakukan, kami telah lakukan.” (Sunan Abu Daud, no. 4347)
Dari An Nu’man bin Basyir ia berkata, “Abu Bakar datang minta izin untuk masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia mendengar Aisyah mengangkat suaranya di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat Beliau memberinya izin, maka ia masuk dan berkata, “Wahai puteri Ummu Ruman (seraya memegangnya), apakah kamu mengangkat suaramu di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” An Nu’man berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memisahkan antara Abu Bakar dan Aisyah. Ketika Abu Bakar keluar, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Aisyah meminta keredhaannya: “Tidakkah kamu melihat, bahawa aku telah menghalangi antara seorang laki-laki dan kamu?” An Nu’man berkata, “Kemudian Abu Bakar datang lagi dan meminta izin (untuk masuk), dan ternyata ia mendapati Beliau tertawa bersama Aisyah. Beliau lalu mengizinkannya dan Abu Bakar pun masuk, Abu Bakar lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ikutkanlah aku dalam ketenteraman dan kedamaian kalian berdua, sebagaimana kalian telah menyertakanku dalam perselisihan kalian.” (Musnad Ahmad, no. 17668)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman kepada seorang penduduk neraka yang paling ringan siksaannya: “Seandainya kamu memiliki sesuatu dari kekayaan bumi apakah kamu akan menggunakannya untuk menebus dirimu?” Orang itu menjawab; “Ya”. Maka Allah berfirman: “Sungguh Aku dahulu meminta darimu sesuatu yang lebih ringan dari itu, tepatnya saat kamu berada di dalam perut ibumu, iaitu agar kamu tidak menyekutukan Aku namun kamu enggan dan tetap berbuat syirik”. (Sahih Bukhari, no. 3087)
Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Neraka mengadu kepada Rabbnya seraya berkata; “Wahai Tuhanku, sebahagianku (api) saling memakan satu sama lain”. Maka neraka diizinkan untuk berhembus dua kali. Satu kali pada saat musim dingin dan satu kali lagi pada saat musim panas. Maka hawa panas yang kamu rasakan merupakan hawa panas dari hembusan api neraka dan hawa dingin yang kamu rasakan merupakan hawa dingin dari zamharir (hawa dingin) jahannam”. (Sahih Bukhari, no. 3020)
Dari Abu Sa’id Al Khudri berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya darjat penduduk syurga yang paling rendah darjatnya adalah seorang lelaki yang Allah palingkan wajahnya dari neraka ke arah syurga, dan dibentangkan baginya sebuah pohon yang mempunyai naungan, ia berkata; ‘Wahai Rabb, dekatkanlah aku ke pohon ini sehingga aku boleh berada di bawah naungannya.’ Lalu Allah berfirman; ‘Jangan-jangan jika Aku melakukannya kamu akan meminta yang lain?” Ia menjawab, ‘Demi kemulian-Mu, tidak.’ Lalu Allah pun mendekatkannya ke pohon tersebut. Kemudian Allah bentangkan lagi pohon yang memiliki naungan dan buah-buahan, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabb, dekatkanlah aku ke pohon ini sehingga aku boleh bernaung di bawahnya dan memakan buahnya.’ Maka Allah pun berfirman kepadanya; ‘Jangan-jangan jika Aku melakukannya kamu akan meminta yang lain?’ Ia menjawab; ‘Demi kemulian-Mu, tidak.’ Lalu Allah pun mendekatkannya ke pohon tersebut. Kemudian Allah bentangkan baginya sebuah pohon yang memiliki naungan, buah-buahan dan air, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabb, dekatkanlah aku ke pohon ini sehingga aku boleh bernaung di bawahnya, memakan buah dan meminum airnya.’ Lalu Allah pun berfirman kepadanya; ‘Jangan-jangan jika Aku melakukannya kamu akan meminta yang lain?’ Ia menjawab; ‘Demi kemuliaan-Mu, aku tidak akan meminta lagi.’ Kemudian Allah menampakkan baginya pintu syurga, lalu ia berkata; ‘Wahai Rabb, dekatkanlah aku ke pintu syurga sehingga aku boleh berada di bawah ambang pintunya dan melihat para penduduknya.’ Lalu Allah pun mendekatkannya ke ambang pintu syurga sehingga ia boleh melihat para penduduknya dan apa yang ada di dalamnya. Lalu ia berkata; “Wahai Rabb, masukkanlah aku ke dalam syurga.’ Beliau bersabda: “Lalu Allah pun memasukkannya ke dalam syurga.” Beliau bersabda: “Ketika ia telah masuk syurga, ia berkata; ‘Apakah ini untukku?’ Allah ‘azza wajalla berfirman kepadanya; “Berangan-anganlah.” Lalu ia berangan-angan, dan Allah selalu mengingatkannya untuk meminta ini dan itu hingga habislah semua permintaan dan angan-angannya. Allah lalu berfirman; ‘Itu untukmu dan sepuluh yang semisalnya.’ Beliau bersabda: “Lalu ia masuk ke dalam syurga dan masuk pula kepadanya dua isterinya dari golongan bidadari, mereka berkata kepada suaminya; ‘Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami dan menghidupkan kami untukmu.’ Ia pun berkata; ‘Tidak ada seorang pun yang diberikan sebagaimana yang diberikan kepadaku.’ Beliau bersabda: “Penduduk neraka yang paling rendah derajatnya adalah seorang yang dipakaikan sandal dari neraka, lalu otaknya mendidih kerana panasnya sandal tersebut.” (Musnad Ahmad, no. 10784)
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman ia berkata: Abdurrahman bin Abu Sa’id Al Khudri pernah lalu di hadapanku, maka aku pun bertanya padanya, “Bagaimana yang anda dengar dari bapa anda ketika menyebutkan Masjid yang dibangun di atas taqwa?” Ia menjawab: Bapaku berkata: Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah salah seorang dari isterinya, dan bertanya, “Ya, Rasulullah, masjid manakah di antara dua masjid (Makkah dan Madinah) yang dibangun di atas dasar taqwa?” Beliau mengambil segenggam pasir lalu dibuangnya kembali ke tanah, dan kemudian beliau bersabda: “Masjid kamu ini (Masjid Madinah).” Abu Salamah berkata: Maka aku pun berkata, “Saya bersaksi bahawa saya telah mendengar bapamu menyebutkan seperti itu.” (Sahih Muslim no. 2477)
Dari Muhammad bin Ibrahim bahawa Abu Salamah telah menceritakan kepadanya, bahawa antara dia dengan kaumnya terjadi persengketaan mengenai sebidang tanah, lalu dia menemui Aisyah dan mengemukakan hal itu kepadanya. Aisyah lalu berkata, Wahai Abu Salamah, jauhilah tanah sengketa tersebut, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka Allah akan menghimpitnya dengan tujuh lapis tanah (bumi).” (Sahih Muslim no. 3025)
Dari Mathar bin ‘Ukamis dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah telah menetapkan kematian seseorang bertempat di suatu negeri, maka Allah akan menjadikan ia memiliki keperluan di negeri itu.” (Sunan Al-Tirmidzi no. 2072)
Dari Anas bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk seorang anak muda menjelang kematiannya, beliau bertanya: “Bagaimana dirimu?” Pemuda itu menjawab; “Wahai Rasulullah, aku mengharap Allah, namun aku juga takut akan dosa-dosaku.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua hal (khauf dan raja’) terkumpul dalam jiwa seorang hamba pada keadaan seperti ini, kecuali Allah akan mengabulkan apa yang dia harapkan dan memberikan keamanan dari apa yang dia takutkan.” (Sunan Al-Tirmidzi no. 905)
Dari Sa`ibah bekas budak Al Fakih bin Al Mughirah, bahawa dia menemui Aisyah dan melihat di dalam rumahnya ada panah yang tergantung, maka ia pun bertanya, “Wahai Ummul Mukminin, apa yang kamu perbuat dengan benda ini?” Aisyah menjawab, “Untuk membunuh cicak, sebab Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengkhabarkan kepada kami bahawa ketika Ibrahim dilemparkan ke dalam kobaran api, tidak ada satu pun dari binatang melata yang tidak berusaha mematikan api, kecuali cicak. Bahkan ia berusaha menghembuskan agar api itu tetap menyala, maka itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami membunuhnya.” (Sunan Ibnu Majah no. 3222, Musnad Ahmad no. 23393)
Sa’id bin Jubair berkata; aku mengatakan kepada Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma; “Nauf Al Bakaly menganggap bahawa Musa teman Khidir bukanlah Musa Bani Isra’il, tapi Musa yang lain. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata: “Musuh Allah itu berdusta, sungguh telah bercerita kepada kami Ubay bin Ka’ab dari Nabi Shallallahu’alaihiwasallam: “Bahawa Musa tengah berdiri di hadapan Bani Isra’il memberikan khutbah lalu dia ditanya: “Siapakah orang yang paling ‘alim”. Beliau ‘Alaihissalam menjawab: “Aku”. Seketika itu pula Allah Ta’ala mencelanya kerana dia tidak diberi pengetahuan tentang itu. Lalu Allah Ta’ala mewahyukan kepadanya: “Ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di pertemuan antara dua lautan yang dia lebih ‘alim (pandai) darimu”. Lalu Musa berkata: “Wahai Rabb, siapa yang boleh kujadikan teman untuk bertemu? Sufyan meriwayatkan dengan kalimat yang lain; “Wahai Rabb, bagaimana caraku (agar boleh bertemu)? Allah berfirman: “Ambillah seekor ikan dan tempatkan dalam suatu keranjang dan bila saja kamu kehilangan ikan tersebut itulah tanda petunjuknya”. Sufyan juga meriwayatkan dengan kalimat lain; “Itulah tempat orang itu”. Maka Musa ambil ikan dan diaruhnya dalam keranjang, lalu berangkat bersama muridnya bernama Yusya’ bin Nun hingga ketika tiba pada batu besar, keduanya membaringkan kepalanya di batu itu hingga Musa tertidur. Kemudian ikan itu keluar dari keranjang diam-diam lalu melompat dan mengambil jalannya di laut (al-Kahfi ayat 61). Allah pun menahan aliran air yang dilalui ikan tersebut sehingga terbentuk seperti atap suatu bangunan atau membentuk suatu tanda. Maka Musa berkata; “Itulah tandanya yang bentuknya seperti atap”. Maka keduanya melanjutkan sisa malam dan hari perjalannannya. Hingga pada siang harinya, Musa berkata kepada muridnya; “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita sudah sangat lelah dalam perjalanan ini’ (al-Kahfi ayat 62). Tidaklah Musa merasakan kelelahan kecuali setelah sampai pada tempat yang dituju sebagaimana diperintahkan Allah Ta’ala. Maka muridnya berkata kepadanya: “Tahukah kamu ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, sesungguhnya aku lupa menceritakan ikan itu. Dan tidaklah yang melupakan aku ini kecuali syaitan”. Berkata Musa: “Itulah tempat yang kita cari. Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula” (al-Kahfi ayat 63). Saat itu, ikan tersebut mengambil jalannya sendiri di laut dan bagi keduanya ini suatu hal yang aneh. Musa berkata: “Itulah tempat yang kita cari”. Lalu keduanya kembali dan mengikuti jejak mereka semula” (al-Kahfi ayat 64). Keduanya berbalik lalu menyusuri jejak sebelumnya hingga sampai kembali di batu dan ternyata di sana sudah ada seorang dengan pakaiannya yang lebar lalu Musa memberi salam. Orang tua itu membalas salamnya Musa lau berkata; “Bagaimana cara salam di tempatmu? Musa menjawab: “Aku adalah Musa”. Orang tua itu balik bertanya: “Musa Bani Isra’il?” Jawab Musa: Ya, benar”. Kata Musa selanjutnya: “Aku datang menemuimu agar kamu mengajariku “ilmu yang benar dari ilmu-ilmu yang benar yang telah diajarkan kepadamu”. (al-Kahfi ayat 66). Orang tua itu berkata; “Wahai Musa, aku punya ilmu dari ilmu Allah yang telah Allah ajarkan kepadaku yang kamu tidak mengetahuinya dan begitu juga kamu punya ilmu dari ilmu Allah yang telah Allah ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya”. Musa berkata; “Bolehkah aku mengikutimu?” Dia menjawab: “Kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal itu”. Seterusnya hingga firman Allah “kesalahan yang besar” (al-Kahfi ayat 67 – 71). Kemudian keduanya berjalan kaki di tepi pantai hingga tiba-tiba ada perahu yang singgah, lalu mereka meminta untuk menumpangkan mereka, rupanya mereka kenal Khidir lalu mereka (pemilik perahu) membawanya tanpa meminta upah. Ketika keduanya berlayar dengan perahu tersebut, datang seekor burung kecil dan hinggap di sisi perahu lalu mematuk-matuk di air laut untuk minum satu atau dua kali patukan. Maka Khidir berkata kepadanya: “Wahai Musa, ilmuku dan ilmumu bila dibandingkan dengan ilmu Allah tidaklah seberapa kecuali seperti (air yang boleh terambil) dari patukan burung ini dengan paruhnya terhadap air lautan. Tiba-tiba Khidir mengambil kapak lalu merosakkan papan perahu. Kehairanan Musa belum hilang, hingga papan perahu itu sudah dicabutnya. Musa berkata kepadanya: “Apa yang kamu lakukan?”. Orang-orang ini telah menumpangkan kita ke dalam perahunya tanpa upah lalu kamu melubangi perahu mereka sehingga kamu menenggelamkan penumpangnya. Sungguh kamu telah berbuat kesalahan yang besar”. Khidir berkata: “Bukankah aku telah katakan; Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku kerana kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku” (al-Kahfi ayat 71-73). Pertanyaan yang pertama ini kerana Musa terlupa. Setelah keduanya meninggalkan laut, mereka bertemu seorang anak kecil yang sedang bermain dengan dua temannya. Lalu Khidir memegang kepala anak itu dan mematahkannya dengan tangannya. Sufyan, perawi memberi isyarat dengan jarinya seolah dia memelintir sesuatu. Maka Musa bertanya kepadanya: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan kerana dia telah membunuh orang lain? Sungguh kamu telah melakukan suatu kemungkaran. Khidir berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahawa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” Musa berkata: “Jika aku bertanya lagi tentang sesuatu kepadamu setelah ini maka silakan kamu tidak memperbolehkan aku untuk menyertaimu. Sungguh kamu telah cukup memberikan uzur kepadaku” (al-Kahfi ayat 74). Lalu keduanya berjalan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu oleh penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mahu menjamu mereka. Kemudian keduanya mendapati dinding rumah yang hampir roboh di negeri itu”. Perawi. ‘Ali bin ‘Abdullah berkata: Tembok itu senget. Sufyan memberi isyarat dengan tangannya seakan dia mengusap sesuatu ke atas dan aku tidak mendengar Sufyan menyebutkan senget kecuali sekali saja. Musa berkata; “Mereka adalah suatu kaum yang kita sudah mendatangi mereka namun tidak mereka memberi makan kita dan tidak juga menjamu kita, lalu mengapa kamu sengaja memperbaiki tembok mereka?”Jikalau kamu mahu, minta saja upah untuk itu”. Khidir menjawab: “Inilah saat perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan dari perbuatan-perbuatanku yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya” (al-Kahfi ayat 77-78). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kita sangat berharap seandainya Musa boleh lebih sabar lagi sehingga Allah akan mengisahkan lebih banyak cerita tentang keduanya”. Sufyan berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Semoga Allah merahmati Musa. Seandainya dia bersabar tentu akan diceritakan lebih banyak lagi tentang kisah keduanya”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma membaca (menjelaskan) ayat ini dengan; “Di hadapan mereka ada raja yang akan merampas setiap perahu yang baik secara curang. Sedangkan anak kecil yang dibunuh tadi adalah anak yang kafir sedang kedua orang tuanya adalah orang beriman”. (Sahih Bukhari, no. 3149)
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Saat Allah menciptakan Adam, Ia mengusap punggungnya lalu dari punggungnya berjatuhan setiap jiwa yang diciptakan Allah dari keturunan Adam hingga hari kiamat dan Ia menjadikan kilatan cahaya di antara kedua mata setiap orang dari mereka, kemudian mereka dihadapkan kepada Adam, ia bertanya: ‘Wahai Rabb, siapa mereka?’ Allah menjawab: ‘Mereka keturunanmu’. Adam melihat seseorang dari mereka dan kilatan cahaya di antara kedua matanya membuatnya kagum, Adam bertanya: ‘Wahai Rabb siapa dia?’ Allah menjawab: ‘Ia orang akhir zaman dari keturunanmu bernama Daud.’ Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, berapa lama Engkau menciptakan umurnya?’ Allah menjawab: ‘Enam puluh tahun.’ Adam bertanya: ‘Wahai Rabb, tambahilah empat puluh tahun dari umurku.’ Saat usia Adam ditentukan, malaikat maut mendatanginya lalu berkata: ‘Bukankah usiaku masih tersisa empat puluh tahun?’ Malaikat maut berkata: ‘Bukankah engkau telah memberikannya kepada anakmu, Daud?’ Adam membantah, lalu keturunannya juga membantah. Adam dibuat lupa, dan keturunannya juga dibuat lupa. Adam salah, dan keturunannya juga salah.” (Hadis Riwayat Tirmidzi no. 3002)
Dari Al Barra’ bin ‘Azib mengatakan, Kami berangkat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengiringi seorang jenazah Ansar. Lantas kami sampai perkuburan. Ketika tanah digali, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam duduk dan kami duduk di sekitarnya, seolah-olah kepala kami ada burung-burung sedang tangan beliau membawa dahan yang beliau pukulkan ke tanah. Beliau tengadahkan kepala beliau ke langit dan berkata “Mintalah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur (beliau mengucapkannya dua atau tiga kali). Kemudian beliau sabdakan “Seorang hamba mukmin jika berpisah dari dunia dan menghadapi akhirat, malaikat dari langit turun menemuinya dengan wajah putih seolah-olah wajah mereka matahari. Mereka membawa sebuah kafan dari kafan syurga dan minyak wangi dari minyak wangi syurga hingga duduk disisinya (yang besarnya malaikat tersebut) sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut alaihissalam datang hingga duduk di sisi kepalanya dan berucap “Wahai jiwa yang tenang, sambutlah olehmu keampunan Allah dan keredhaanNya. Kata Nabi, lantas jenazah tersebut mengalir sebagaimana titisan air mengalir dari mulut kendi dan malaikat mencabutnya. Jika malaikat mencabutnya, ia tidak membiarkannya di tangannya sekelip mata pun hingga ia cabut rohnya dan ia masukkan dalam kafan dan minyak wangi tersebut. Maka si mayat meninggal dunia sebagaimana halnya aroma minyak wangi paling harum yang ada di muka bumi. Kata Nabi, malaikat tersebut lantas membawa naik jenazah itu, hingga tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat selain mereka bertanya-tanya: “Oh, roh siapa sewangi ini? Para malaikat menjawab “Oh, ini roh si Fulan anak si Fulan, dan mereka sebut dengan nama terbaiknya yang manusia pergunakan untuk menyebutnya ketika di dunia, begitulah terus hingga mereka sampai ke langit dunia dan mereka meminta dibukakan pintu langit, lantas dibukakan. Para malaikat ahli taqarrub mengkhabarkan berita kematiannya kepada penghuni langit berikutnya hingga sampai ke langit ke tujuh, lantas Alllah ‘Azza Wajalla bertitah “Tulislah catatan hamba-Ku di ‘Iliyyin dan kembalikanlah ia ke bumi, sebab daripadanyalah Aku mencipta mereka dan ke dalamnya Aku mengembalikan, serta daripadanya Aku membangkitkan sekali lagi. Kata Nabi, lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya ‘Siapa Tuhanmu’. Ia menjawab ‘Tuhanku Allah’. Tanya keduanya “Apa agamamu? “Agamaku Islam” jawabnya. Keduanya bertanya “Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini? Si mayit menjawab “Oh, dia adalah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Keduanya bertanya “Dari mana kamu tahu? Ia menjawab “Aku membaca kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya. Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil “HambaKu benar, hamparkanlah syurga baginya dan berilah pakaian syurga, dan bukakanlah pintu baginya menuju syurga. Kata Nabi, maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi syurga dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakaiannya indah, wanginya semerbak, dan malaikat itu berucap “Bergembiralah dengan khabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu. Si mayit bertanya ‘Siapa kamu ini sebenarnya, rupanya wajahmu adalah wajah yang mendatangkan kebaikan! si laki-laki tampan menjawab ‘Oh, aku adalah amalan solehmu. Lantas hamba tadi meminta “Ya Rabbku, tolong jadikan kiamat sekarang juga sehingga aku boleh kembali menemui keluargaku dan hartaku. Sebaliknya si hamba kafir jika berpisah dari dunia (meninggal) dan menjemput akhirat, ia ditemui malaikat langit yang wajahnya buruk yang membawa kafan yang berwarna hitam legam terbuat dari rambut, mereka duduk di sisinya dan malaikat tersebut besarnya sejauh mata memandang. Lantas malaikat maut datang hingga duduk di kepalanya seraya membentak “Wahai roh yang busuk, jemputlah kepada kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Kata Nabi, lantas jasadnya tercarik-carik, dan malaikat tersebut mencabut rohnya bagaikan garu (atau gancu) bermata banyak yang mencarik-carik kain basah lantas mencabutnya. Jika malaikat telah mencabutnya, ia tidak membiarkannya sekelip mata pun hingga ia bungkus dalam kain hitam kelam dari rambut dan roh tersebut pergi dengan bau busuk paling menyengat di muka bumi. Para malaikat kemudian menaikkannya, dan tidaklah mereka membawanya ke sekawanan malaikat di langit selain malaikat langit berkata “Siapa roh busuk ini? Para malaikat yang membawanya menjawab ‘Ini adalah si Fulan anak si Fulan, dan mereka sebut nama terburuknya yang sering manusia pergunakan untuk memanggil di dunia hingga mayit tersebut sampai ke langit dunia dan langit dunia diminta dibukakan. Dan, langit dunia tidak dibuka. Kemudian Rasulullah Sallallahu’alaihiwasallam membaca ayat “Tidak sekali-kali akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk Syurga sehingga unta masuk di lubang jarum” (Al-A’raf:40), lantas Allah ‘Azza Wajalla berfirman ‘Catatlah catatannya dalam Sijjin di bumi paling rendah. Lalu rohnya dibuang sejauh-jauhnya, kemudian beliau membaca ayat “Dan sesiapa yang mempersekutukan sesuatu yang lain dengan Allah maka seolah-olah dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau dihumbankan oleh angin ke tempat yang jauh (yang membinasakan)” (Al-Hajj:31). Maka rohnya dikembalikan dalam jasadnya. Kedua malaikat lantas mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya “Siapa tuhanmu? Ia menajwab “Ahhh, saya tidak tahu!” Kedua malaikat itu bertanya lagi “Apa agamamu?” Ia menjawab “Ahhh, saya tidak tahu!” kedua malaikat bertanya lagi “Bagaimana pandanganmu mengenai laki-laki ini yang diutus untuk kalian?” Si mayit menjawab; “Saya tidak tahu!” Lantas ada Penyeru langit memanggil-manggil “Ia betul-betul telah dusta! Hamparkan baginya neraka! Maka malaikat membuka pintu neraka baginya dan ia mendatanginya dengan segala panasnya dan letupannya. Sedang kuburannya menyempitnya hingga tulang-tulangnya remuk. Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang wajahnya menyeramkan, pakaiannya lusuh, baunya busuk dan ia berkata; “Bergembiralah engkau dengan segala hal yang menyusahkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan bagimu. Lantas si mayit bertanya “Siapa kamu dengan wajahmu yang sedemikian menyeramkan dan membawa keburukan ini? Lantas si laki-laki itu menjawab; “Aku adalah amalan jahatmu.” Dan ia berdoa “Ya Rabb, jangan kiamat kau jadikan sekarang!” (Hadis Riwayat Ahmad no. 17803)
Dari ‘Aisyah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada dalam keadaan sihat wal afiat, beliau pernah bersabda: ‘Sesungguhnya seorang Nabi tidaklah diwafatkan hingga diperlihatkan kepadanya tempatnya di syurga lalu ia dipersilakan untuk memilih. ‘Aisyah berkata; “Ketika malaikat pencabut nyawa datang kepada Rasulullah, sementara kepala beliau berada di pangkuan saya, maka Rasulullah pengsan beberapa saat. Tak lama kemudian ia sedar kembali. Setelah itu, beliau menatap pandangannya ke atas sambil mengucapkan: Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku, Allah Yang Maha Tinggi! ‘Aisyah berkata; “Dengan demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memilih untuk hidup lebih lama lagi bersama kami.” Aisyah pernah berkata; “Saya teringat ucapan yang pernah beliau sampaikan kepada kami ketika beliau masih sihat; “Itulah kata-kata terakhir yang pernah beliau ucapkan, iaitu: ‘Ya Allah, pertemukanlah aku dengan kekasihku Yang Maha Tinggi.’ (H.R. Bukhari, no. 4104)
Dari An-Nawwas bin Sam’an r.a, berkata : Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, menyebut Dajjal pada suatu pagi, lalu beliau merendahkan di dalamnya dan juga meninggikannya, sehingga kami mengiranya berada di dalam rimbunan pohon kurma, lalu tatkala kami datang kepada beliau, beliau mengenali hal itu di dalam diri kami, lalu beliau bersabda : Apakah yang kalian inginkan?, kami berkata : Wahai Rasulullah, engkau telah menyebut Dajjal pada suatu pagi, lalu engkau merendahkan di dalamnya dan engkau juga meninggikannya, sehingga kami mengiranya berada dalam rimbunan pohon kurma, lalu beliau bersabda : “Bukan Dajjal yang aku takutkan atas kalian jika ia keluar sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian, maka akulah yang mengalahkannya tanpa kalian, dan jika ia keluar sedangkan aku tidak berada di tengah-tengah kalian, maka seseorang mengalahkan dirinya sendiri, dan Allah adalah penggantiku atas tiap-tiap orang Islam. Sesungguhnya ia (Dajjal) itu adalah seorang pemuda yang sangat keriting rambunya (kribo), matanya yang kiri menonjol keluar, seolah-olah aku menyerupakan ia dengan Abdul ‘Uzza bin Qothon, barangsiapa yang mendapatinya dari kalian, maka hendaklah ia membaca pembukaannya surah Al-Kahfi, sesungguhnya ia akan keluar di antara negeri Syam dan Iraq, lalu ia akan membuat kerosakan di kiri dan kanan. Wahai hamba Allah, tetaplah kalian!, kami berkata : Wahai Rasulullah!, berapa lamakah menetapnya ia di muka bumi?, beliau bersabda : “Empat puluh hari”, satu hari seperti satu tahun, dan satu hari seperti satu bulan, dan satu hari seperti satu Jumaat (seminggu), lalu sisanya hari-harinya itu seperti hari-hari kalian, kami berkata : Wahai Rasulullah!, itu satu hari yang seperti satu tahun, apakah solat sehari mencukupi kami di dalamnya?, beliau menjawab : “Tidak, kira-kirakanlah pada seukurannya! Kami berkata : Wahai Rasulullah! bagaimanakah kecepatannya di muka bumi?, beliau menjawab : seperti hujan yang diterpa angin, lalu ia mendatangi suatu kaum dan mengajak mereka, lalu mereka beriman kepadanya dan mereka memenuhi ajakannya, lalu ia memerintahkan langit, maka langsung turun hujan, dan ia memerintahkan bumi, maka langsung tumbuh tanaman lalu haiwan ternak mereka pergi ke padang rumput mereka yang lebih panjang dari pada punuknya dan air susunya melimpah, dan temboloknya penuh berisi makanan, kemudian ia datang kepada suatu kaum, lalu ia mengajak kepada mereka, lalu mereka menolak perkataannya kepadanya, lalu ia berpaling dari mereka, lalu mereka masuk waktu pagi dalam keadaan pucat, tidak ada di tangan mereka sesuatupun dari harta mereka, dan ia melewati lubang, lalu ia berkata kepada lubang itu : Keluarkanlah gudang hartamu!, lalu gudang harta itu mengikutinya seperti lebah mengikuti pejantannya. Kemudian ia memanggil seorang lelaki yang penuh dengan kemudahan, lalu ia memukulnya dengan pedang, lalu ia memotongnya menjadi dua bahagian sejauh lemparan anak panah, kemudian ia memanggilnya, lalu ia menghadap dan wajahnya bercahaya sedang tertawa, lalu tatkala ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah mengutus Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalaam, maka beliau turun dari atas menara putih sebelah Timur kota Damsyiq, di antara dua Mahrud dalam keadaan meletakkan kedua telapak tangannya di atas sayap kedua malaikat. Apabila ia menundukkan kepalanya maka menitiskan air, dan apabila ia mengangkat kepalanya maka bercucuran darinya berupa benih-benih air seperti mutiara, maka tidak halal bagi orang kafir yang mendapatkan bau dirinya melainkan ia akan mati, dan jiwanya akan habis sekiranya habis ujungnya, lalu beliau akan mencari Dajjal hingga beliau mendapatkannya di pintu Lud (Baitul Maqdis), lalu beliau akan membunuh Dajjal. Kemudian Nabi Isa bin Maryam akan mendatangi suatu kaum yang Allah telah menjaganya dari Dajjal, lalu beliau mengusap rasa ketakutan dari wajah-wajah mereka, kemudian beliau bercerita kepada mereka tentang darjat mereka di dalam syurga. Lalu tatkala beliau dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah memberikan wahyu kepada Nabi Isa ‘alaihissalaam, : “Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan beberapa hamba untuk-Ku, yang tidak kuasa seorang-pun untuk membunuh mereka, maka bentengilah hamba-hamba-Ku itu ke gunung Thur. Lalu Allah mengirimkan Ya’juj dan Ma’juj, sedangkan mereka dari tiap-tiap tempat yang tinggi akan meluncur dengan cepat. Lalu kelompok yang pertama dari mereka akan melewati Danau Tiberia, lalu mereka akan meminum apa-apa yang berada di dalamnya. Dan kelompok yang terakhir dari mereka akan melewatinya pula, lalu mereka akan berkata : Sungguh di sini pernah ada airnya. Sedangkan Nabi Isa dan teman-temannya akan dikurung, sehingga adanya satu kepala sapi jantan bagi mereka itu lebih baik dari pada seratus dinar bagi kalian pada hari itu. Lalu Nabi Isa dan teman-temannya memohon kepada Allah, maka Allah mengutus ulat atau cacing pita kepada mereka di dalam leher-leher mereka (Ya’juj dan Ma’juj), lalu pada waktu paginya mereka terkapar mati seperti kematianya satu jiwa. Kemudian Nabi Isa dan teman-temannya turun ke bumi, lalu mereka tidak mendapatkan di muka bumi satu tempat sejengkal-pun melainkan telah penuh dengan bau busuk mereka dan bau bangkai mereka. Lalu Nabi Isa dan teman-temannya memohon kepada Allah, lalu Allah mengutus seekor burung seperti leher unta, lalu burung itu membawa mereka, lalu melemparkannya di mana saja yang telah Allah kehendaki. Kemudian Allah mengirimkan hujan yang tidak ada dari suatu rumah yang terbuat dari tanah mahupun terbuat dari bulu, lalu Dia mencuci bumi sehingga meninggalkannya dalam keadaan bersih mengilap. Kemudian dikatakan kepada bumi : Tumbuhkanlah buah-buahanmu!, dan kembalikanlah keberkatanmu!, maka pada hari itu sekumpulan orang makan dari buah delima, dan mereka bernaung di bahagian dalam kulitnya, dan diberkati di dalam air susunya, sehingga satu puting susu unta mencukupi untuk sekumpulan besar dari manusia, dan satu puting susu dari sapi mencukupi satu kabilah dari manusia, dan satu puting susu dari kambing mencukupi satu keluarga dari manusia. Lalu tatkala mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Allah mengirimkan angin yang berbau harum, lalu angin itu mengambil mereka di bawah ketiak mereka, lalu dengan angin itu Allah mencabut nyawanya tiap-tiap orang yang beriman dan tiap-tiap orang Islam, lalu tersisalah seburuk-buruknya manusia, mereka bersetubuh di dalamnya dengan persetubuhannya keledai (seks bebas seperti layaknya persetubuhannya keledai), maka kepada merekalah terjadinya kiamat”. (H.R. Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a, berkata: Rasulullah Shollallaah ‘alaih wa sallam, telah berbicara kepada kami dengan suatu pembicaraan yang panjang tentang Dajjal, lalu beberapa yang beliau bicarakan kepada kami, bahawa beliau bersabda : “Dajjal akan datang, sedangkan diharamkan atasnya bila memasuki celah kota Madinah hingga pada sebahagian tanah yang nganggur yang berada di Madinah, lalu keluar kepadanya pada waktu itu seorang lelaki yang menjadi sebaik-baiknya manusia atau dari sebaik-baiknya manusia, lalu ia berkata: “Aku bersaksi sesungguhnya kamu adalah Dajjal yang Rasulullah SAW, telah membicarakannya tentang kamu”, lalu Dajjal berkata: “Apa pendapatmu jika aku mampu membunuh orang ini, kemudian aku akan menghidupkannya kembali?, apakah kalian masih ragu-ragu di dalam urusan ini?, lalu mereka berkata: “Tidak, lalu ia membunuh orang itu kemudian ia menghidupkannya kembali, lalu lelaki itu berkata tatkala Dajjal telah menghidupkannya: “Demi Allah, tidaklah aku sama sekali lebih yakin dari pada diriku pada hari ini bahawa sesungguhnya kamu adalah Dajjal”, lalu Dajjal berkata : Aku akan membunuhnya lagi, lalu Dajjal tidak dapat menguasai atas dirinya”. (H.R. Al-Bukhari, No Hadits : 1882, dan Muslim, No Hadits : 2938)
Imam Muslim berkata : Abu Ishaq telah berkata : dikatakan bahwa lelaki itu adalah Nabi Khidir ‘alaihissalaam.
Imam An-Nawawi rahimahullah, berkata : Ini adalah dalil yang jelas tentang Nabi Khidir ‘alaihissalam, bahawa sesungguhnya beliau itu masih hidup hingga saat ini, dan beliau akan bertemu dengan Dajjal.
Dari Fathimah binti Qais, aku mendengar penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyerukan solat jemaah. Aku keluar ke masjid lalu solat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam. Aku berada di saf kaum wanita yang berada di belakang kaum. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyelesaikan solat, beliau duduk di atas mimbar dan beliau tertawa, beliau bersabda: “Hendaklah setiap orang tetap berada ditempatnya.” Setelah itu beliau bertanya: “Tahukah kalian, kenapa aku mengumpulkan kalian?” mereka menjawab: Allah dan rasulNya lebih tahu. Beliau bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengumpulkanmu kerana harapan atau rasa takut, tapi aku mengumpulkan kalian kerana Tamim Ad Dari dulunya orang Nasrani lalu ia datang, berbaiah lalu masuk Islam.” Ia menceritakan suatu hadith padaku, sama seperti hadith yang aku ceritakan kepada kalian tentang Masih Dajjal. Ia menceritakan kepadaku bahawa tiga puluh orang dari Lakham dan Judzam naik perahu. Gelombang mempermainkan mereka di laut selama sebulan lalu mereka menepi ke suatu pulau di lautan hingga matahari tenggelam. Mereka duduk di dekat perahu lalu masuk ke pulau. Seekor binatang menemui mereka, banyak bulunya, mereka tahu mana kemaluannya dan mana duburnya kerana banyak bulunya. Mereka bertanya: Celakalah kau, apa kau ini? Ia menjawab: Aku adalah Jassaasah. Mereka bertanya: Apa itu Jassaasah? Ia berkata: Wahai kaum, pergilah ke orang itu di hujung kampung, dia merindukan khabar kalian. Saat ia menyebut nama seseorang pada kami, kami takut jangan-jangan ia syaitan. Kami segera pergi hingga memasuki perkampungan, ternyata di sana ada orang terbesar yang pernah kami lihat, paling kuat dan tangannya terbelenggu di leher, antara lutut dan mata kakinya terbelenggu besi. Kami berkata: Celakalah kamu, apa kau ini? Ia menjawab: Kalian telah mengetahuiku, maka beritahukan siapa kalian? Mereka menjawab: Kami dari arab, kami naik perahu. Saat gelombang menghebat, kami dipermainkan selama sebulan kemudian kami menepi ke pulaumu ini. Kami duduk di dekat perahu lalu kami masuk ke pulau. Seekor haiwan menemui kami, bulunya lebat, tidak jelas mana kemaluannya dan mana duburnya kerana banyaknya bulu. Kami bertanya: Celakalah kau, apa kau ini? Ia menjawab: Aku adalah Jassaasah. Kami bertanya: Apa itu Jassaasah? Ia berkata: Wahai kaum, pergilah ke orang itu di hujung kampung, dia merindukan khabar kalian. Lalu kami segera menujumu dan kami takut padamu, kami tidak aman jangan-jangan ia syaitan. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang kurma Baisan. Kami bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia berkata: Aku bertanya pada kalian tentang kurmanya, apakah sudah berbuah? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Ingat, ia hampir tidak membuahkan lagi. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang danau Thabari. Kami bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia menjawab: Apakah ada airnya? Mereka menjawab: Airnya banyak. Ia berkata: Ingat, airnya hampir akan habis. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang mata air Zughar. Mereka bertanya: Tentang apanya yang kau tanyakan? Ia berkata: Apakah di sana ada airnya dan apakah penduduknya bercucuk tanam dengan air itu? Kami menjawab: Ya, airnya banyak dan penduduknya bercucuk tanam dengan air itu. Ia berkata: Beritahukan padaku tentang Nabi orang-orang buta huruf, bagaimana keadaannya? Mereka menjawab: Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yathrib. Ia bertanya: Apakah orang-orang arab memeranginya? Kami menjawab: Ya. Ia bertanya: Apa yang mereka lakukan terhadapnya? Lalu kami memberitahunya bahawa beliau menang atas bangsa arab di sebelahnya dan mereka mentaatinya. Ia bertanya pada mereka: Itu sudah terjadi? Kami menjawab: Ya. Ia berkata: Ingat, sesungguhnya itu baik bagi mereka untuk mentaatinya. Aku akan beritahukan pada kalian siapa aku. Aku adalah Al-Masih (Dajjal) dan aku sudah hampir diizinkan untuk keluar lalu aku akan keluar. Aku melintasi bumi, aku tidak membiarkan satu perkampungan pun kecuali aku singgahi selama empat puluh hari kecuali Makkah dan Thaibah (Madinah), keduanya diharamkan bagiku. Setiap kali aku hendak memasuki salah satunya, malaikat membawa pedang kuat menghadangku, menghalangiku dari tempat itu dan di setiap jalannya terdapat malaikat-malaikat penjaga.” Fathimah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda seraya memukulkan tongkat pendek beliau ke mimbar: “Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah (maksud beliau Madinah)”. (H.R. Muslim, no. 5235)
Aisyah bertanya: Bagaimana harus aku katakan (doakan) kepada mereka (ahli kubur) wahai Rasulullah? Beliau menjawab, katakanlah: Semoga keselamatan dilimpahkan ke atas ahli kubur, dari kalangan orang Mukmin dan Muslim. Semoga Allah memberikan rahmat kepada orang telah meninggal dunia terdahulu atau terkemudian. Sesungguhnya, insyaAllah kami akan menyusul bertemu kamu semua. (Hadis Riwayat Muslim, 5/102, Kitab al-Jana’iz, no. 1619)
Dari Anas, Pernah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Ummu Sulaim Radiyallahu’anha untuk melihat wanita dan bersabda: “Ciumlah bau mulutnya dan amatilah tulang lunak diatas tumitnya (betisnya).” (H.R. Ahmad no. 12943)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus Ummu Sulaim melihat seorang wanita. Baginda menyuruh Ummu Sulaim memerhatikan hujung tumit dan mencium bau badannya. (H.R. Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Jangan seorang wanita bermusafir melainkan bersama dengan mahram. Dan jangan bersendirian seorang lelaki dengan seorang wanita melainkan bersama wanita itu mahramnya.” Tiba-tiba seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku akan keluar untuk berperang, dan isteriku pula hendak pergi menunaikan haji.” Lalu Rasulullah s.a.w menjawab: “Pergilah kamu bersama isterimu (menunaikan haji).” (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Hampir datang masanya wanita naik sekedup seorang diri tanpa bersama suaminya dari Hirah menuju Baitullah.” (H.R. Bukhari). Hadith ini merupakan pujian atas kejayaan Islam pada masa yang akan datang, sehingga keadaan sangat aman bagi wanita untuk bepergian jauh seorang diri. Maka janganlah kita hairan jesteru banyak ulama’ yang membolehkan wanita pergi seorang diri jika dalam keadaan aman dan jauh dari fitnah.
Imam Bukhari meriwayatkan bahawa ‘Aisyah dan Ummahatul Mukminin lainnya, pergi haji pada zaman khalifah Umar Al-Faruq tanpa mahram yang mendampinginya, jesteru ditemani oleh Abdurrahman bin Auf dan Uthman bin Affan. Dan tak satu pun sahabat lain yang menentangnya, sehingga kebolehannya ini dianggap sebagai ijma’ sahabat. (Fathul Bari, 4/445)
Aisyah r.a pernah berkata: Tatkala turun ayat “Dan hendaklah mereka melabuhkan tudung mereka hingga menutupi dada..” (An Nuur: 31). Maka mereka terus mengoyak kain-kain mereka dan menjadikannya sebagai tudung mereka. (Sahih Bukhari : 4387)
Dari Aisyah r.a, bahawasanya ia pernah berkata, “Semoga Allah merahmati wanita-wanita muhajirin (wanita-wanita yang berhijrah ke Madinah) yang terdahulu, ketika Allah menurunkan ayat: (Dan hendaklah mereka melabuhkan tudung mereka hingga menutupi dada..), mereka memotong (kain) lengan, Ibnu Shalih menyebutkan, “(Mereka memotong) kelebihan kain mereka untuk menutupi wajah mereka.” (Sunan Abu Daud : 3579)
Dari Abu Hurairah r.a, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: Salah seorang Nabi berperang, lalu ia berkata pada kaumnya: “Orang laki-laki yang telah nikah dengan seorang perempuan, sedang ia belum serumah dengan isterinya, tetapi ingin untuk serumah, janganlah mengikuti saya. Seorang yang mendirikan rumah, tetapi atapnya belum dipasangnya, janganlah mengikuti saya. Siapa yang membeli kambing yang bunting dan ia menantikan kambing itu beranak, janganlah mengikuti saya. Kemudian Nabi itu berperang, lalu ia mendekati suatu negeri pada waktu solat Asar atau hampir waktu itu, lalu ia berkata kepada matahari: “Engkau diperintah dan saya juga diperintah. Wahai Tuhan! Tahan matahari itu untuk kami!” Lalu ditahanlah matahari itu, sehingga Tuhan membukakan (memberi kemenangan). (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bahawasanya akan wujud (akan datang) para pemerintah yang berbohong dan berlaku zalim. Barangsiapa yang membenarkan pembohongan mereka dan membantu atas kezaliman mereka, maka (mereka) bukan daripada (golongan) kami dan aku bukan daripada (golongan) mereka, dan dia tidak akan menemuiku di haudh (telaga kauthar di akhirat kelak). (Sebaliknya) sesiapa yang tidak membenarkan pembohongan mereka dan tidak membantu atas kezaliman mereka, maka dia daripada (golongan) ku dan aku daripada (golongan) nya dan dia akan menemuiku di haudh (telaga kauthar di akhirat kelak). (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang diamanahkan oleh Allah untuk memimpin rakyat, lalu dia mati. Pada hari dia mati dalam keadaan dia menipu rakyatnya, maka Allah telah mengharamkan syurga untuknya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: “Mana-mana wanita yang kematian suami, setelah itu dia berkahwin lagi, maka wanita itu adalah untuk suaminya yang terakhir (ketika di dunia).”
Al-Imam al-Thabrani meriwayatkan bahawa Mu’awiyah bin Abi Sufian pernah meminang Ummu al-Darda’ selepas meninggalnya Abu al-Darda’. Lalu pinangan Mu’awiyah itu ditolak dan dijawab oleh Ummu al-Darda’ dengan berkata: “Sesungguhnya daku pernah mendengan Abu al-Darda’ berkata yang beliau pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: “Mana-mana wanita yang kematian suaminya, kemudian wanita itu berkahwin dengan suami yang lain, maka ia menjadi milik suaminya yang terakhir ketika di dunia. Maka aku tidak akan memilih engkau untuk menggantikan tempat Abu al-Darda’.” Lalu Mu’awiyah menjawab: “Jika demikian hendaklah kamu (wahai Ummu al-Darda’) membanyakkan berpuasa, kerana puasa itu menghilangkan keinginan syahwat nikah.” (al-Mu’jam al-Awsat 3/275)
Rasulullah s.a.w bersabda: Jika seseorang berkata kepada saudaranya “Jazaakallah khairan” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka ia telah memujinya dengan setinggi-tingginya. (H.R. Thabrani)
Dari Usamah bin Zaid r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: “Jazaakallahu khair” (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya. (H.R. Tirmidzi, An-Nasai, Al-Maqdisi, Ibnu Hibban, Al-Bazzar)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Dia menyukai sifat penyantun (lemah lembut). Allah akan memberikan sesuatu dalam sikap santun yang tidak diberikan pada sikap kasar dan sikap selain itu. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya sikap lemah lembut tidak akan berada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya (dengan kebaikan). Sebaliknya, jika lemah lembut itu dicabut dari sesuatu, melainkan ia akan membuatnya menjadi buruk. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bersikaplah pertengahan, bersikaplah pertengahan, nescaya kalian akan sampai (kepada maksud tujuan). (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Wajib bagi kalian berpegang dengan petunjuk yang pertengahan. Kerana siapa yang memberat-beratkan agama ini, nescaya dia akan dikalahkan olehnya. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya agama ini mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam menjalankan agama kecuali ia akan keberatan sendiri. Tepatilah kebenaran atau apa-apa yang mendekatinya, berilah khabar gembira, dan pergunakanlah waktu pagi, waktu petang dan malam hari untuk memudahkan perjalananmu. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Hati-hatilah kalian dari ghuluw (ekstrim) dalam agama kerana sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah ghuluw dalam agama. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w menceritakan tentang seorang lelaki yang telah lama berjalan kerana jauhnya perjalanan yang ditempuhnya sehingga rambutnya kusut masai dan berdebu. Orang itu menadah tangannya ke langit dan berdoa: “Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!”, padahal makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan dia diasuh dengan makanan yang haram. Maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya? (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa diperlakukan dengan baik, kemudian ia berkata kepada orang yang berbuat baik, “Jazakallah khairan (Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu)”, maka ia lebih daripada cukup dalam memuji. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan. Seorang sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru? Rasulullah menjawab: Ia mengatakan, “Aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan”, sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu. (H.R. Muslim)
Anas r.a berkata di sisi anak perempuannya: Telah datang seorang wanita kepada Rasulullah s.a.w lalu menawarkan dirinya (untuk menjadi isteri baginda). Berkatalah wanita itu: Adakah kamu tidak punya hajat kepadaku? Maka anak perempuan Anas menyampuk: Alangkah kurangnya malu si wanita itu dan amat malunya perbuatannya. Maka Anas menjawab: Dia lebih baik darimu, ia berkehendakkan Nabi s.a.w lalu menawarkan dirinya kepada baginda s.a.w. (H.R. Bukhari) [Imam Ibnu Hajar menegaskan tiada cacatnya wanita menawarkan dirinya untuk menjadi isteri kepada seorang lelaki. (Fathul Bari, 9/175)]
Rasulullah s.a.w bersabda: Beritahulah kepada orang ramai akan nikah ini dengan pukulan gendang dan rebana. (H.R. Ibnu Majah)
Dari Aisyah r.ha bahawasanya apabila Rasulullah s.a.w hendak tidur dalam keadaan junub, maka baginda berwudhu’ seperti wudhu’ untuk solat. Dan apabila baginda hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka baginda mencuci kedua tangannya kemudian baginda makan dan minum. (H.R. Abu Daud, an-Nasai’e, Ibnu Majah dan Ahmad)
Dari Ibnu Abbas r.a, Nabi s.a.w diberitahu tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haid. Lalu Nabi s.a.w bersabda: Hendaklah ia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar. (H.R. Abu Daud, an-Nasai’e, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan (kepada wanita) dengan pandangan lainnya kerana yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu. (H.R. Tirmidzi dan Abu Daud)
Rasulullah s.a.w terlihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian baginda mendatangi isterinya (iaitu Zainab r.ha) yang sedang membuat adonan roti. Lalu baginda melakukan hajatnya (berjimak dengan isterinya). Kemudian baginda bersabda: Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan (mengajak kepada hawa nafsu). Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Kerana yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya. (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad dan Baihaqi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu bertelanjang, maka sesungguhnya bersama kalian adalah para malaikat yang tidak pernah berpisah denganmu kecuali ketika di dalam bilik air dan sewaktu lelaki menggauli isterinya. Oleh itu malulah kalian pada mereka (malaikat) dan dan hormatilah mereka. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya seteruk-teruk manusia kedudukannya adalah seorang lelaki yang menyetubuhi isterinya kemudian dia menceritakannya (pada orang lain) pada waktu paginya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah seseorang kamu menjimak isterinya seperti haiwan, hendaklah ada antara antara keduanya utusan. Sahabat bertanya: Apakah utusan itu? Jawab Nabi s.a.w: Ciuman dan ucapan. (H.R. Baihaqi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah engkau berdoa buruk atas dirimu, jangan berdoa buruk atas anakmu, jangan berdoa buruk atas pembantumu, jangan berdoa buruk atas hartamu, kerana apabila lantunan doamu tepat pada saat yang dikabulkan Allah dan pada saat engkau meminta sesuatu permintaan, Allah akan mengabulkannya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Wanita paling utama di syurga adalah Khadijah binti Khuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiah binti Muzahim isteri Firaun. (H.R. Ahmad dan Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Fatimah adalah pemimpin wanita penghuni syurga. (H.R. al-Hakim)
Rasulullah pernah ditanya oleh seseorang: Siapakah orang yang paling engkau cintai? Baginda menjawab: Fatimah. (H.R. Bukhari, Muslim dan Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Solat yang paling berat bagi orang munafik adalah solat Isyak dan solat Fajar (Subuh). Andainya mereka tahu apa yang ada dalam kedua-dua solat itu, nescaya mereka menghadirinya sekalipun dengan merangkak. Dan sesungguhnya, aku mahu menyuruh (orang) mengerjakan solat, kemudian aku perintahkan seseorang untuk mengimami mereka, lalu aku pergi bersama orang-orang dengan membawa kayu kepada orang yang tidak hadir melaksanakan solat. Kemudian aku bakar rumah-rumah mereka. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang mengerjakan solat Isyak secara berjemaah, maka ia seperti bangun setengah malam (untuk solat malam) dan sesiapa yang solat Subuh secara berjemaah, maka ia seperti solat malam seluruhnya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di dalam syurga itu terdapat kamar-kamar atau gedung-gedung yang bahagian luarnya dapat dilihat dari bahagian dalamnya, dan bahagian dalamnya dapat dilihat dari bahagian luarnya, Allah s.w.t telah mempersiapkan buat orang yang gemar memberi makan orang miskin, lembut dalam berbicara, gemar berpuasa, dan mengerjakan solat di malam hari sewaktu manusia sedang tidur. (H.R. Tirmidzi)
Dari Anas bin Malik r.a, Nabi s.a.w bersabda: Seseorang itu tidak akan merasai kemanisan iman sehinggalah dia mengasihi seseorang hanya kerana Allah, sehinggalah dicampak ke dalam api lebih disukainya daripada kembali kufur selepas Allah menyelamatkannya, dan sehinggalah Allah dan RasulNya lebih dia cintai berbanding yang lain dari kedua-duanya. (H.R. Bukhari)
Dari Muawiyah al-Qusyairi, ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah s.a.w lalu saya bertanya, bagaimana pandanganmu ya Rasulullah tentang isteri-isteri kami? Sabdanya: Berilah mereka makan dari makanan yang kamu makan, berilah mereka pakaian dari pakaian yang kamu pakai, janganlah kamu pukul mereka dan jangan pula kamu buruk-burukkan mereka. (H.R Abu Daud)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah akan membangkitkan di setiap awal seratus tahun seorang yang akan memperbaharui agama umat ini. (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda, Allah berfirman: Kesombongan adalah selendangKu dan kebesaran adalah sarungKu. Maka sesiapa yang bersaing denganKu pada salah satu daripada keduanya, maka pasti akan Aku lemparkan ia ke dalam Jahannam. (H.R. Abu Daud)
Dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Ibadah umrah sampai umrah berikutnya sebagai kafarah (penghapus) untuk dosa di antara keduanya dan haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali syurga. (H.R. Muslim)
Dari Abdullah bin Zaid bin `Ashim r.a, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Mekah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku pun mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Mekah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha’ dan mudnya (timbangan/ukuran nilai) diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Mekah. (H.R. Muslim)
Dari ‘Ashim ia berkata: Aku bertanya kepada Anas bin Malik: Apakah Rasulullah s.a.w telah mengharamkan Madinah? Anas menjawab: Ya, iaitu antara gunung ini sampai gunung ini, maka barangsiapa yang berbuat bida’ah di Madinah, maka ia akan terkutuk oleh laknat Allah, para malaikat serta seluruh manusia dan Allah tidak akan menerima taubat dan tebusan darinya pada hari kiamat. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bergegar Arasy ar-Rahman kerana kematian Sa’ad bin Mu’adz. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Anas bin Malik r.a yang menuturkan dari sabda Rasulullah s.a.w: Aku masuk syurga lalu aku terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata aku sedang berhadapan dengan Al-Ghumaisya’ bintu Milhan. (Ummu Sulaim). (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda Suruhlah anak-anakmu mendirikan solat ketika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika tidak mahu menunaikan solat ketika berumur 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka (putera dan puteri). (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis di buku (catatan) sementara di sisiNya di atas ArasyNya, “RahmatKu mengalahkan murkaKu”. (Muttafaq ‘Alaih)
Dari Abu Hurairah r.a bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Kiamat tidak akan bermula sehingga tanah Arab sekali lagi akan menjadi padang rumput dan sungai. (H.R. Muslim)
Dari Ali r.a bahawasanya ketika aku akan menikahi Fatimah, aku berkata: Wahai Rasulullah, nikahkan aku dengan Fatimah. Sabda baginda: Berikan padanya sesuatu sebagai mas kahwin. Jawabku: Aku tidak mempunyai apa-apa. Tanya baginda: Di mana baju besimu dari Huthamiyah itu? Jawabku: Ada di rumah. Sabda baginda: Berikan baju besi itu padanya sebagai mas kahwin. (H.R. Nasai’e)
Rasulullah s.a.w bersabda: Jika berdiri salah seorang daripada kamu dari tempat duduknya lalu kembali lagi maka dia lebih berhak (daripada yang lain) untuk duduk di situ. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah seseorang duduk mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut, namun berilah kelonggaran dan keluasan. (Muttafaq ‘Alaih)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ucapan yang paling disukai Allah itu ada empat, engkau boleh memulainya dengan kalimat mana saja, iaitu Subhanallah (Maha suci Allah), Alhamdulillah (segala puji milik Allah), Laa ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah), dan Allahuakbar (Allah Maha besar). (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda, Allah berfirman: Aku selalu bersama hambaKu selama ia mengingatiKu dan kedua bibirnya bergerak menyebutKu. (H.R. Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka hal itu didengar, pada hari kiamat kedua telinganya akan dituangi dengan timah. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Perumpamaan orang yang mengambil balik sedekahnya itu seperti seekor anjing yang muntah kemudian ia kembali kepada muntahannya lalu memakannya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Telah ditulis oleh Allah takdir seluruh makhluk 50,000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Allah telah menetapkan 5 perkara bagi setiap hambaNya yakni ajalnya, rezekinya, umurnya, untung nasib buruk dan untung nasib baiknya. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Belum dikatakan beriman seseorang itu sehingga dia beriman kepada takdir (ketentuan Allah), baik mahupun buruk. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda dengan membawakan firman Allah dalam hadith Qudsi: Pandangan mata adalah panah beracun dari antara panah-panah Iblis. Barangsiapa meninggalkannya kerana takut kepadaKu maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya. (H.R. Al Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Madinah adalah tanah haram, letaknya antara Bukit Eir dan Bukit Tsur, sesiapa yang melakukan kezaliman (maksiat) atau melindungi orang yang melakukan kezaliman di dalamnya maka ke atasnya laknat Allah s.w.t, malaikat dan manusia seluruhnya dan semua amalan sama ada yang wajib atau sunat tidak diterima oleh Allah s.w.t daripadanya pada hari kiamat kelak. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas r.a berkata, Nabi s.a.w bersabda: Jangan menyendiri seorang lelaki dengan perempuan melainkan harus ada mahram yang menyertainya. Dan jangan berpergian seorang perempuan melainkan bersama mahramnya. Maka ada seseorang bertanya: Ya Rasulullah, isteriku pergi berhaji sedangkan aku telah tercatat untuk pergi berperang. Maka Nabi s.a.w bersabda: Pergilah engkau berhaji bersama istrimu. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.a, Orang Quraisy merasa tidak senang akan hukuman yang dijatuhkan kepada seorang perempuan suku Makhzum mencuri. Mereka berkata: Siapakah yang boleh menyampaikan kepada Rasulullah s.a.w supaya perempuan itu dibebaskan saja? Kata mereka: Siapakah yang berani selain Usamah bin Zaid, kesayangan Rasulullah s.a.w! Usamah lalu menyampaikannya kepada baginda. Rasulullah s.a.w. bersabda: Mengapa engkau memberikan pertolongan untuk membebaskan seseorang dari had (hukum) Allah? Kemudian baginda berdiri lalu berpidato, sebagai berikut: Orang-orang yang sebelum kamu dibinasakan, kerana kalau orang yang terhormat (mulia) mencuri, mereka biarkan saja. Tetapi kalau yang mencuri itu orang lemah, mereka jatuhi hukuman. Demi Tuhan! Kalau sekiranya Fatimah binti Muhammad mencuri, saya potong juga tangannya! (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Kekasihku Rasulullah s.a.w pernah berpesan kepadaku supaya berpuasa tiga hari setiap bulan, solat dhuha dua rakaat dan solat witir sebelum tidur. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Bagaimanakah pendapatmu seumpama ada sebuah sungai di muka pintu salah seorang dari kamu, lalu ia mandi daripadanya setiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Para sahabat menjawab: Tidak. Nabi s.a.w bersabda: Maka demikianlah solat lima waktu, Allah akan menghapuskan dosa-dosa dengannya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Mas’ud (Uqbah) bin ‘Amr al-Badri r.a berkata: Seseorang datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: Saya terpaksa berhenti dari solat jemaah Subuh kerana Fulan (Imam) memanjangkan bacaannya. Berkata Uqbah: Maka saya tidak pernah melihat Nabi s.a.w marah dalam suatu nasihat sebagaimana waktu itu. Nabi s.a.w bersabda: Hai sekalian manusia, seseungguhnya di antaramu ada orang-orang yang membenci orang lain. Maka barangsiapa di antaramu mengimami orang ramai, hendaklah ia meringkas (bacaan surahnya) kerana di belakangnya ada orang yang sudah lanjut usia, orang yang lemah dan orang yang mempunyai kepentingan (urusan). (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: Sungguh, sekiranya salah seorang dari kamu itu pergi mencari kayu dan dipikul di atas bahunya, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik diberi atau ditolak. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Ada dua orang lelaki dalam perjalanan, lalu datang waktu solat sedangkan air tidak ada, lantas keduanya bertayammum dengan debu yang suci dan solat, kemudian keduanya memperoleh air dan waktu solat masih ada. Seorang diantara keduanya lantas berwudhu’ dan mengulang solatnya dan yang lain tidak. Kemudian keduanya datang kepada Rasulullah s.a.w dan diterangkannyalah kejadian itu kepada Rasulullah s.a.w. Baginda lalu berkata kepada orang yang tidak mengulang solat: Benar engkau dan solatmu sah, dan kepada orang yang mengulang solat dengan berwudhu’ baginda berkata: Bagimu ganjarannya dua kali ganda. (H.R. An-Nasa’i dan Abu Daud)
Dari Anas r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seseorang masuk syurga ingin kembali ke dunia dan dia tidak mempunyai sesuatu pun di dunia kecuali orang yang syahid. Ia mengharap dapat kembali ke dunia untuk berperang dan terbunuh sampai sepuluh kali kerana kemuliaan yang ia peroleh. (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Daripada Ibnu Abbas, bahawa seorang lelaki berkata kepada Nabi: Wahai Rasulullah, aku ada memelihara seorang anak yatim perempuan. Dia dilamar oleh orang kaya dan orang miskin. Kami suka kalau dia memilih yang kaya, tetapi dia cinta kepada yang miskin. Maka berkata Rasulullah s.a.w: Kami tidak melihat perkara yang sesuai bagi orang yang saling menyintai itu kecuali kahwin. (H.R. Ibnu Majah, Thabrani, Al-Hakim; sahih mengikut syarat Imam Muslim dan Imam Baihaqi)
Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang lelaki pernah mengunjungi saudaranya di sebuah kampung. Maka Allah mengutus malaikat untuk memantaunya. Ketika ia tiba, malaikat bertanya: Mahu ke mana kamu? Ia menjawab: Aku akan mengunjungi saudaraku di kampung ini. Malaikat bertanya: Apakah kerana ada kenikmatan yang akan kamu peroleh darinya (hasil bumi)? Ia menjawab: Tidak, aku hanya mencintainya kerana Allah. Lalu malaikat berkata: Aku adalah utusan Allah untuk menyatakan kepadamu bahawa Allah mencintaimu sebagaimana kamu telah mencintai saudaramu kerana Dia. (H.R. Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Sekiranya seorang mukmin mengetahui siksaan Allah, nescaya tidak seorang pun yang tamak terhadap syurgaNya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat Allah, nescaya ia tidak putus asa dari syurgaNya. (H.R. Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis di buku (catatan) sementara di sisiNya di atas ArasyNya, “RahmatKu mengalahkan murkaKu”. (Muttafaq ‘Alaih)
Dari Anas bin Malik r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: Pada hari kiamat aku datang mengetuk pintu syurga. Kemudian penjaganya (malaikat) bertanya: Siapakah engkau? Muhammad jawabku. Lalu malaikat itu berkata: Aku dilarang oleh Allah untuk membuka pintu syurga ini kepada sesiapa pun sebelum engkau. (H.R. Muslim)
Dari Abi Abbas Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi r.a berkata: Seorang lelaki datang kepada Nabi s.a.w dan berkata: Wahai Rasulullah! Tunjukkilah aku pada suatu amal yang jika aku kerjakan, aku dicintai Allah dan dicintai manusia. Maka Rasulullah s.a.w bersabda: Zuhudlah engkau akan dunia, pasti Allah mencintai engkau. Zuhudlah engkau akan apa yang ada pada manusia, pasti manusia mencintai engkau. (H.R. Ibnu Majah)
Dari Abi Abdirrahman Abdillah bin Mas’ud r.a berkata: Bersabda Rasulullah s.a.w dan dialah yang selalu benar dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap kamu dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya empat puluh hari berupa nutfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (empat puluh hari), kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu juga, kemudian diutus kepadanya Malaikat maka ia meniupkan roh padanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezekinya, ajalnya, amalnya, ia celaka atau bahagia. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain dari padaNya, sungguh seorang di antara kamu ada yang melakukan pekerjaan ahli syurga sehingga tidak ada antara dia dan syurga itu kecuali sehasta saja maka dahululah atasnya takdir Allah, lalu ia lakukan pekerjaan ahli neraka maka ia pun masuk neraka. Dan sungguh salah seorang di antara kamu melakukan pekerjaan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka kecuali sehasta saja maka dahululah ketentuan Allah atasnya, lalu ia melakukan pekerjaan ahli syurga maka ia pun masuk ke dalam syurga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya perumpamaan sahabat yang baik dan sahabat yang buruk bagaikan pembawa misk (kasturi) dan peniup api. Maka pembawa misk itu ada kalanya memberi kepadamu atau engkau memberi kepadanya atau engkau mendapat bau harum daripadanya. Adapun peniup api maka kalau tidak membakar pakaianmu maka kau akan mendapatkan bau busuk daripadanya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika dunia berada hampir di penghujungnya, kamu dapati maksiat dilakukan secara terang-terangan. Zina dilakukan dengan sewenang-wenangnya persis seperti perilaku haiwan. Yang tinggal hanyalah manusia yang keji dan buruk perangainya. Ketika itulah berlakunya kiamat. (H.R. Muslim)
Dari Ali r.a, katanya: Pada suatu ketika, Rasulullah s.a.w mengirim sepasukan tentera (ke medan perang) dan melantik seorang lelaki menjadi komandan mereka. Setibanya di suatu tempat, komandan tersebut menyalakan api (unggun) dan memerintahkan anak buahnya melompat ke dalam unggun api tersebut. Sebahagian anak buahnya telah bersedia untuk melompat ke dalam unggun api tersebut tetapi yang lain berkata: Kita harus lari dari api itu. Peristiwa itu mereka laporkan kepada Rasulullah s.a.w. Maka baginda bersabda: Seandainya kamu melompat ke dalam api itu kamu akan sentiasa berada di dalamnya hingga hari kiamat nanti. Kemudian baginda bersabda pula kepada yang lain dengan lemah lembut: Tidak wajib taat kepada perintah untuk menderhakai Allah. Taat itu hanya wajib dalam rangka menegakkan kebajikan. (H.R. Muslim)
Dari Mu’adz r.a, ia berkata: Rasulullah s.a.w mengutus saya sebagai gabenor di negeri Yaman maka Rasulullah s.a.w berpesan kepadaku: Engkau akan menghadapi kaum ahli kitab maka ajaklah mereka kembali kepada kalimat syahadat bahawa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan aku adalah Rasulullah. Jika mereka telah menurut kepada ajakan itu, beritahukanlah bahawa Allah telah mewajibkan atas mereka mengerjakan solat lima kali sehari semalam dalam lima waktu. Jika mereka telah taat, beritahukanlah bahawa Allah mewajibkan mereka mengeluarkan zakat (sedekah) yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada fakir miskin. Jika mereka telah mentaati itu maka berhati-hatilah kamu dari kekayaan mereka terutama yang benar-benar mereka sayangi dan takutlah kamu dari doa orang yang teraniaya kerana tidak ada dinding antara doa itu dengan Allah. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang perempuan disiksa kerana kucing yang dikurungnya hingga mati, maka ia dimasukkan ke dalam neraka disebabkan ia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya dan tidak pula melepaskannya agar memakan binatang-binatang melata di bumi. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Tinggalkan tujuh dosa yang akan membinasakan. Sahabat bertanya: Apakah itu, ya Rasulullah? Nabi s.a.w menjawab: Menyekutukan Allah, sihir (menilik nasib), membunuh jiwa yang diharamkan Allah membunuhnya kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu perang, menuduh wanita mukminat yang sopan dengan tuduhan berzina. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Jundub bin Abdullah r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada orang lain maka Allah akan mempermalukannya di hari kiamat dan barangsiapa yang memperlihatkan amalnya kepada orang lain maka Allah akan membalas riya’nya itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah s.a.w bersabda: Orang yang berbuat kebaikan kepada janda dan orang miskin adalah bagaikan orang yang berjihad fi sabilillah bahkan seperti orang yang tidak pernah berhenti puasa dan bangun solat malam. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa r.a berkata: Rasulullah saw bersabda: Perumpamaan tuntunan hidayah dan ilmu yang diutuskan Allah kepadaku adalah bagaikan hujan yang turun ke bumi. Ada tanah yang subur menerima air dan menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak dan ada yang keras tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikianlah contoh orang yang mengerti agama Allah lalu belajar dan mengajar dan orang yang tidak dapat menerima sama sekali petunjuk ajaran Allah yang diutuskan kepadamu. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.a. berkata: Ketika Nabi s.a.w masuk ke rumah kami bertepatan dengan adanya seorang wanita maka Nabi s.a.w bertanya: Siapakah wanita itu? Jawab Aisyah: Ini Fulanah yang terkenal ibadah solatnya banyak sekali. Maka Nabi s.a.w bersabda: Ah (kata yang menyatakan kurang senang), hendaklah ia mengerjakan menurut kadar kemampuannya dengan tidak memaksakan diri maka Allah tidak akan jemu (bosan) menerima amalmu sehingga kamu sendiri yang jemu beramal dan perilaku agama yang disukai Allah ialah yang dikerjakan terus-menerus (istiqamah). (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila salah seorang kamu bersin, hendaknya ia mengucapkan: الْحَمْدُ لِلَّهِ Alhamdulillah. Dan hendaknya saudaranya atau sahabatnya mengucapkan kepadanya: يَرْحَمُك اللَّهُ Yarhamukallah. Maka apabila ia mengucapkan yarhamukallah kepadanya, hendaknya ia mengucapkan: يَهْدِيكُمْ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ Yahdikumullah wa Yuslihu Baalakum. (H.R. Bukhari)
Dari Sulaiman bin Shurad r.a. berkata: Ketika saya duduk bersama Rasulullah s.a.w, tiba-tiba ada dua orang saling memaki, sedang salah satu telah merah wajahnya dan tegang pula urat lehernya, maka Rasulullah s.a.w bersabda: Saya mengetahui suatu kalimat yang apabila kalimat itu dibaca, pasti hilang apa yang dirasakannya iaitu ‘A’udzubillahi minasysyaithoonir rajiim’. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap anggota badan manusia wajib atasnya sedekah, setiap hari bila terbit matahari engkau damaikan antara dua orang yang berselisih, itu adalah sedekah dan menolong orang berkenaan dengan kenderaannya, engkau mengangkatnya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kenderaannya, itu adalah sedekah dan setiap langkah untuk solat adalah sedekah. Dan menyingkirkan sesuatu rintangan dari jalan adalah sedekah. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Hak kewajiban seorang muslim atas muslim lainnya ada lima. Pertama menjawab salam. Kedua menjenguk yang sakit. Ketiga mengantar jenazah. Keempat memenuhi undangan. Kelima mendo’akan orang yang bersin. (Muttafaq ‘Alaih)
Dari Abdullah bin Abbas dan Anas bin Malik r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas pasti ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa yang bertaubat. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Berilah khabar gembira kepada orang-orang yang berjalan ke masjid-masjid di waktu gelap bahawa dia akan mendapat cahaya yang sempurna di akhirat kelak. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada seorang Nabi pun antara aku dan Isa dan sesungguhnya ia benar-benar akan turun (dari langit), apabila kamu telah melihatnya, maka ketahuilah; bahawa ia adalah seorang lelaki berperawakan tubuh sedang, berkulit putih kemerah-merahan. Ia akan turun dengan memakai dua lapis pakaian yang dicelup dengan warna merah, kepalanya seakan-akan menitiskan air walaupun ia tidak basah. (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sekelompok dari umatku akan tetap berperang dalam dalam kebenaran secara terang-terangan sampai hari kiamat, sehingga turunlah Isa Ibnu Maryam, maka berkatalah pemimpin mereka (Al-Mahdi): Kemarilah dan imamilah solat kami. Ia menjawab: Tidak, sesungguhnya sebahagian kamu adalah sebagai pemimpin terhadap sebahagian yang lain, sebagai suatu kemuliaan yang diberikan Allah kepada umat ini (umat Muhammad). (H.R. Muslim dan Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiba-tiba Isa sudah berada di antara mereka dan berkumandangkanlah solat, maka dikatakan kepadanya, majulah kamu (menjadi imam solat) wahai roh Allah. Ia menjawab: Hendaklah yang maju itu pemimpin kamu dan hendaklah dia yang mengimami solat kamu. (H.R. Muslim dan Ahmad)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Demi yang diriku berada ditanganNya, sesungguhnya Ibnu Maryam (Nabi Isa a.s) hampir akan turun di tengah-tengah kamu sebagai pemimpin yang adil, maka ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menolak juzyah (pajak yang diambil dari orang kafir yang berada di dalam perlindungan pemerintahan Muslim), melimpahkan harta sehingga tidak seorang pun yang mahu menerima pemberian (sedekah) dan sehingga satu kali sujud lebih baik dari dunia dan segala isinya. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasai’e dan Ibnu Majah)
Dari Abu Hurairah r.a, katanya: Ketika kami sedang duduk di samping Rasulullah s.a.w, tiba-tiba datang seorang lelaki lalu datang kepada baginda dan berkata: Ya Rasulullah! celaka aku. Jawab Nabi s.a.w: Kenapa engkau? Jawab orang itu: Aku bersetubuh dengan isteriku, padahal aku berpuasa. Rasulullah s.a.w bertanya: Adakah engkau memiliki hamba sahaya yang engkau boleh memerdekakan? Jawabnya: Tidak. Sabda Nabi s.a.w: Sanggupkah engkau berpuasa 2 bulan berturut-turut. Jawab lelaki itu: Tidak. Tanya Nabi s.a.w: Sanggupkah engkau memberi makan 60 orang miskin? Jawabnya: Tidak. Nabi s.a.w diam, sementara itu dibawakan orang kepada Nabi sebakul kurma. Lalu beginda bertanya: Di manakah orang tadi? Jawab orang itu: Saya ya Rasulullah. Sabda Nabi s.a.w: Ambillah kurma ini dan bersedekahlah dengannya. Kata orang itu: Apakah saya harus bersedekah kepada orang yang fakir seperti saya, ya Rasulullah? Demi Allah, tidak ada keluarga yang berada di antara dua perbatasan yang berbatu-batu (dari kota Madinah) yang lebih fakir dari keluarga saya. Mendengar itu Nabi s.a.w tertawa hingga nampak taring beliau. Kemudian baginda bersabda: Berilah makan untuk keluargamu. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tatkala Allah menciptakan Adam a.s, Dia berfirman: Pergilah dan ucapkanlah salam kepada para Malaikat yang sedang duduk, lalu perhatikanlah apa yang mereka akan jawab, sesungguhnya jawaban (para malaikat itu) adalah salam (penghormatan)mu dan anak keturunanmu. Maka Adam a.s berkata: Assalamu’alaikum, lalu mereka (para malaikat) menjawab: Assalamu’alaika wa Rahmatullah. Mereka menambahkan: Warahmatullah. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Rasulullah sedang bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba terdengar suara dari atas. Maka Jibril mengarahkan pandangannya ke langit seraya berkata: Itu adalah dibukanya sebuah pintu di langit yang belum pernah terbuka sebelumnya. Ibnu Abbas melanjutkan: Dari pintu itu turun malaikat dan menemui Nabi seraya berkata: Sampaikan berita gembira kepada umatmu mengenai dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu, dan belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabi pun sebelum dirimu, iaitu Fathihul kitab dan beberapa ayat terakhir dari surah Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf darinya melainkan akan diberikan pahala kepadamu. (H.R. An-Nasai’e dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seorang hamba mencapai darjah Mutaqqin (orang yang bertakwa) hingga dia meninggalkan apa yang boleh dilakukannya kerana khuatir akan menjerumuskan kepada apa yang tidak boleh dikerjakan (iaitu perkara yang diharamkan). (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat baginda. Kemudian baginda bertanya: Apa yang menyebabkan engkau duduk? Mereka menjawab: Kami duduk berzikir kepada Allah. Baginda bertanya lagi: Demi Allah, tidak ada yang menyebabkan engkau duduk kecuali hanya itu? Mereka menjawab: Demi Allah, tidak ada yang menyebabkan kami duduk kecuali hanya itu. Baginda bersabda: Sesungguhnya, aku tidaklah meminta engkau bersumpah kerana sangkaan (yakni cuba berbohong) kepadamu. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku lalu memberitahukan kepadaku, bahawa Allah s.w.t membanggakanmu kepada para malaikat. (H.R. Muslim)
Dari Anas bin Malik, ia berkata: Saat aku duduk bersama Rasulullah, tiba-tiba ada seorang lelaki dari kaum Ansar yang datang dan bertanya: Wahai, Rasulullah! Apakah masih ada (perkara) yang tersisa yang menjadi tanggungjawabku berkaitan dengan bakti kepada orang tuaku setelah mereka berdua meninggal yang masih boleh aku lakukan? Nabi menjawab: Betul, (iaitu) ada empat hal: Engkau doakan dan minta keampunan bagi mereka, melaksanakan janji mereka, serta memuliakan sahabat-sahabat mereka, juga menyambung tali silaturahim dengan orang yang ada hubungannya dengan ayah ibu. Inilah (kewajiban) yang masih tersisa dalam berbakti kepada orang tuamu setelah mereka meninggal. (H.R. Abu Daud dan Ahmad)
Dari Abu Hurairah, dia menceritakan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya seorang mukmin jika dia mengerjakan satu perbuatan dosa, maka akan timbul noda hitam dalam hatinya. Jika dia bertaubat, menarik diri dari dosa itu dan mencari redha Allah, maka hatinya menjadi jernih. Jika dosanya bertambah maka bertambah pula noda itu sehingga memenuhi hatinya. Itulah Ar-ran (penutup), yang disebut oleh Allah Taala dalam firmannya: “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (H.R. Tirmidzi, An-Nasai’e dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seorang hamba berzina, keluarlah iman darinya, lalu iman itu berada di atas kepalanya seperti naungan, maka apabila dia telah bertaubat, iman itu kembali kepadanya. (H.R. Abu Daud)
Dari Abdullah bin Qais, Rasulullah s.a.w bersabda kepadaku: Wahai Abdullah bin Qais (Abu Musa)! Aku berkata: Aku sambut panggilanmu, wahai Rasulullah. Baginda bersabda: Mahukah aku tunjukkan kepadamu terhadap satu kalimat, yang merupakan simpanan di antara simpanan-simpanan syurga? Aku menjawab: Tentu, wahai Rasulullah. Bapaku dan ibuku sebagai tebusanmu. Baginda bersabda: “Laa haula wa laa quwwata illa billah”. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda, Allah s.w.t berfirman: Barangsiapa yang tidak redha terhadap ketentuanKu, dan tidak sabar atas musibah dariKu, maka carilah Tuhan selain Aku. (Hadith Qudsi Riwayat Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.ha, dia berkata, Rasulullah s.a.w mengutus seorang lelaki sebagai ketuan (komandan) pasuka ekspedisi. Dalam solat dia bertindak sebagai imam bagi sahabat lainnya, namun dia selalu membaca dalam solatnya surah “Qul huwallahu Ahad”, surah Al-Ikhlas. Ketika pasukan pulang, hal itu diceritakan kepada Rasulullah s.a.w. Baginda bersabda: Tanyakan saja langsung kepadanya mengepa dia selalu membaca surah itu? Mereka lalu menanyakannya. Dia menjawab: Kerana sesungguhnya surah itu adalah sifat Allah Yang Maha Pemurah dan aku senang membacanya. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: Khabarkan kepadanya bahawa Allah mencintainya. (H.R. Muslim:1437)
Rasulullah s.a.w bersabda: Takutlah kamu akan doa seorang yang dizalimi, kerana doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apa-apa yang aku larang kamu melakukannya, maka hendaklah kamu menjauhinya, dan apa-apa yang aku perintahkan kamu melakukannya, maka lakukanlah seberapa daya kamu. Sesungguhnya umat yang terdahulu daripada kamu telah binasa lantaran banyak persoalan dan banyak perselisihan mereka terhadap Nabi-nabi mereka. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Amir bin Said dari bapanya berkata bahawa suatu hari Rasulullah s.a.w telah datang dari daerah berbukit. Apabila Rasulullah s.a.w sampai di masjid Bani Mu’awiyah lalu baginda masuk ke dalam masjid dan menunaikan solat sunat 2 rakaat. Maka kami pun turut solat bersama Rasulullah s.a.w. Kemudian, Rasulullah s.a.w berdoa dengan doa yang agak panjang kepada Allah s.w.t. Setelah selesai baginda berdoa, maka Rasulullah s.a.w pun berpaling kepada kami lalu bersabda yang bermaksud: Aku telah bermohon kepada Allah 3 perkara, dalam 3 perkara itu, Dia cuma perkenankan 2 sahaja manakala yang 1 lagi ditolak. Aku telah bermohon kepada Allah supaya tidak dibinasakan umatku dengan musim susah yang berpanjangan. Permohonanku ini diperkenankan oleh Allah. Aku telah bermohon kepada Allah supaya umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir besar yang telah melanda umat Nabi Nuh). Permohonanku ini telah diperkenankan oleh Allah. Aku telah bermohon kepada Allah supaya umatku tidak dibinasakan kerana pergaduhan sesama mereka (peperangan, pergaduhan antara sesama Islam). Tetapi, permohonanku ini telah ditolak. (H.R. Muslim)
Dari Aisyah r.ha, Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya syaitan akan datang kepada seseorang diantara kamu lalu ia berkata: Siapa yang menciptakan kamu? Lalu dia menjawab: Allah. Kemudian syaitan akan bertanya lagi: Siapakah yang mencipta Allah? Apabila seorang di antara kamu mendapati hal semacam itu, maka hendaklah dia berkata “Aman tu billahi wa rasulih” (Aku beriman kepada Allah dan RasulNya) dan dengan ucapan itu syaitan itu akan pergi dari dirinya. (H.R. Ahmad)
Dari Jabir bin Abdullah r.a katanya: Aku kahwin pada masa Rasulullah s.a.w, sesudah itu aku bertemu dengan Nabi s.a.w, lalu baginda bertanya: Ya Jabir! Sudah kahwinkah engkau? Jawabku: Sudah, ya Rasulullah! Tanya baginda: Dengan gadis atau dengan janda? Jawabku: Dengan janda. Baginda bersabda: Kenapa tidak dengan gadis? Engkau akan senang bersenda gurau dengannya. Jawabku: Aku punya saudara-saudara perempuan yang ramai ya Rasulullah. Aku khuatir isteriku akan turut mengatur urusanku dan adik-adikku. Sabda Rasulullah s.a.w: Oh begitu. Kerana itulah justeru wanita itu dikahwini kerana agamanya, kerana hartanya, kerana kecantikannya. Rupanya engkau telah memilih yang beragama. Semoga engkau bahagia! (H.R. Muslim)
Dari Huzaifah bin al-Yaman r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Islam akan luntur (lusuh) seperti lusuhnya corak (warna-warni) pakaian (bila ia telah lama dipakai), sehingga (sampai suatu masa nanti) orang sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan puasa, dan apa yang dimaksudkan dengan sembahyang dan apa yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadat) dan apa yang dimaksudkan dengan sedekah. Dan Al-Quran akan dihilangkan kesemuanya pada suatu malam sahaja, maka (pada esok harinya) tidak tinggal dipermukaan bumi daripadanya walau pun hanya satu ayat. Maka yang tinggal hanya beberapa kelompok daripada manusia, di antaranya orang-orang tua, laki-laki dan perempuan. Mereka hanya mampu berkata, “Kami sempat menemui nenek moyang kami memperkatakan kalimat La ilaha illallah, lalu kami pun mengatakannya juga”. Maka berkata Shilah (perawi hadith daripada Huzaifah): Apa yang dapat dibuat oleh La ilaha illallah (apa gunanya La ilaha illallah) terhadap mereka, sedangkan mereka sudah tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan sembahyang, puasa, nusuk, dan sedekah? Maka Huzaifah memalingkan muka daripadanya (Shilah yang bertanya). Kemudian Shilah mengulangi pertanyaan itu tiga kali. Maka Huzaifah memalingkan mukanya pada setiap kali pertanyaan Shilah itu. Kemudian Shilah bertanya lagi sehingga akhirnya Huzaifah menjawab: Kalimat itu dapat menyelamatkan mereka daripada api neraka (Huzaifah memperkatakan jawapan itu tiga kali). (H.R Ibnu Majah)
Dari ‘Irbad bin Sariyah, sesungguhnya dia mendengar Nabi s.a.w bersabda: Aku adalah hamba Allah dan penutup sekalian Nabi. Dan sesungguhnya (ketika aku diangkat menjadi Nabi) Nabi Adam masih tanah terbaring (di dalam syurga). Aku akan memberitahu ta’wil perkara tersebut. Itulah yang didoakan Nabi Ibrahim (surah Al-Baqarah: 128), dikhabarkan Nabi Isa kepada kaumnya (surah ash-Shaf:6) dan itulah yang dimimpikan oleh ibuku yang melihat nur keluar dari perutnya yang menerangi istana-istana di Syam. Begitulah juga yang dilihat oleh ibu-ibu para nabi (yang juga bermimpi). (H.R. Ahmad; Musnad Imam Ahmad: 4/128)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ketahuilah bahawa aku ini kekasih Allah dan bukanlah ingin membangga diri. Akulah pemegang panji-panji kepujian pada hari kiamat dan bukanlah ingin membangga diri. Akulah yang mula-mula sekali memberi syafaat dan yang mula-mula diterima syafaatnya pada hari kiamat dan bukanlah ingin membangga diri. Akulah yang mula-mula menggerakkan kunci syurga, lalu Allah membukanya kepadaku, maka masuklah aku ke dalamnya dan bersamaku orang-orang mukmin yang fakir dan akulah semulia-mulia orang-orang yang terdahulu dan semulia-mulia orang yang terkemudian dan bukanlah ingin membangga diri. (H.R. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda : Apabila berkumpul suatu kaum dalam rumah-rumah Allah (masjid) untuk membaca Al-Quran dan mempelajarinya, maka ketenangan pasti akan turun kepada mereka, rahmat Allah melingkupi mereka, malaikat-malaikat mengelilingi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada didekatNya (para malaikat). (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, setiap kali mereka keluar, syaitan akan menghiasinya. (H.R. Tirmidzi)
Apabila salah seorang daripada kamu bertunang, maka jika sekiranya dia boleh melihat wanita itu hingga membawa kepada kehendak atau kemahuan untuk berkahwin, maka lakukanlah! (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Firman Allah s.w.t: Wahai hamba-hambaKu, Aku telah haramkan ke atas diriKu kezaliman dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram ke atas kamu semua maka janganlah berlaku zalim sesama sendiri. Wahai hamba-hambaKu, kamu semua adalah sesat kecuali orang-orang yang mendapat petunjukKu, maka mintalah hidayah daripadaKu, nescaya akan Aku berikan. Wahai hamba-hambaKu, kamu semua adalah dalam kelaparan kecuali orang yang mendapat makanan daripadaKu, maka mintalah daripadaKu nescaya Aku berikan kepadamu. Wahai hamba-hambaKu, kamu semua adalah tidak berpakaian kecuali orang yang Aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah daripadaKu nescaya akan Aku berikan. Wahai hamba-hambaKu, kamu semua melakukan salah dan silap setiap masa dan Aku adalah pengampun dosa-dosa, maka pohonlah keampunan daripadaKu nescaya Aku akan ampunkan. (Hadith Qudsi Riwayat Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang benci dengan cara hidup (sunnah) ku maka dia tidak termasuk golonganku. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Salamah r.ha, bahawa ia pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Seseorang yang tertimpa musibah lalu ia berkata: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” dan berdoa: “Allahuma jurnii fi musibatii wakhluf liya khairan minhaa (Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik daripadanya)”. Nescaya Allah akan memberinya pahala kerana musibah itu dan menggantikan untuknya dengan yang lebih baik. (H.R. Muslim)
Daripada Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak terjadi hari Kiamat sehingga Sungai Furat (Sungai Euphrates iaitu sebuah sungai yang ada di lraq) menjadi surut airnya sehingga ternampak sebuah gunung daripada emas. Ramai orang yang berperang untuk merebutkannya. Maka terbunuh sembilan puluh sembilan daripada seratus orang yang berperang. Dan masing-masing yang terlibat berkata, “Mudah-mudahan akulah orang yang terselamat itu”. Di dalam riwayat lain ada disebutkan: Sudah dekat suatu masa di mana sungai Furat akan menjadi surut airnya lalu ternampak perbendaharaan daripada emas, maka barangsiapa yang hadir di situ janganlah ia mengambil sesuatu pun daripada harta itu. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Qatadah: Kami pernah berjalan bersama Nabi s.a.w pada suatu malam. Sebahagian kaum lalu berkata: Wahai Rasulullah, sekiranya Tuan mahu istirehat sebentar bersama kami? Baginda menjawab: Aku khuatir kalian tertidur sehingga terlewatkan solat. Bilal berkata: Aku akan membangunkan kalian. Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada haiwan tunggangannya, tapi rasa mengantuknya mengalahkannya dan akhirnya ia pun tertidur. Ketika Nabi s.a.w terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka baginda pun bersabda: Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan? Bilal menjawab: Aku belum pernah sekalipun merasakan mengantuk seperti ini sebelumnya. Baginda lalu bersabda: Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang roh-roh kalian sesuai kehendakNya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendakNya pula. Wahai Bilal, berdiri dan azanlah (umumkan) kepada orang-orang untuk solat! Kemudian baginda berwudhu’, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, baginda pun berdiri melaksanakan solat. (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a bahawa Nabi s.a.w bersabda kepada Bilal r.a ketika solat Fajar (Subuh): Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara seliparmu di dalam syurga. Bilal berkata: Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahawa jika aku bersuci (berwudhu’) pada suatu kesempatan malam atau pun siang melainkan aku selalu solat dengan wudhu’ tersebut disamping solat wajib. Berkata (Abu ‘Abdullah): Istilah Daffa na’laika maksudnya gerakan selipar. (H.R. Bukhari)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir. (H.R. Muslim)
Dari Amr bin ‘Auf r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Demi Allah. Bukanlah kemiskinan yang aku khuatirkan menimpa kalian. Akan tetapi aku khuatir ketika dibukakan kepada kalian dunia sebagaimana telah dibukakan bagi orang-orang sebelum kalian. Kemudian kalian pun berlumba-lumba dalam mendapatkannya sebagaimana orang-orang yang terdahulu itu. Sehingga hal itu membuat kalian menjadi binasa sebagaimana mereka dibinasakan olehnya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Ka’ab bin ‘Iyadh r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, sedangkan fitnah umatku adalah harta. (H.R. Tirmidzi, hadith hasan sahih)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian (dalam hal dunia) dan janganlah kalian melihat orang yang lebih di atasnya. Kerana sesungguhnya hal itu akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kalian. (H.R. Muslim)
Dari Shuhaib r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Sangat mengagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak didapatkan kecuali pada diri orang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia bersyukur. Dan apabila dia mendapatkan kesusahan maka dia akan bersabar. (H.R. Muslim)
Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sejati selain kehidupan akhirat. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id al-Khudri r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah Ta’ala menyerahkannya kepada kalian untuk diurusi kemudian Allah ingin melihat bagaimana sikap kalian terhadapnya. Maka berhati-hatilah dari fitnah dunia dan wanita. (H.R. Muslim)
Dari Ibnu Umar r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Jadilah kamu di dunia seperti halnya orang asing atau orang yang sekadar menumpang lewat/musafir. (H.R. Bukhari)
Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk nescaya Allah tidak akan memberi minum seteguk air sekalipun kepada orang kafir. (H.R. Tirmidzi, hadith hasan sahih)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Ada apa antara aku dengan dunia ini? Tidaklah aku berada di dunia ini kecuali bagaikan seorang pengendara/penempuh perjalanan yang berteduh di bawah sebuah pohon. Kemudian dia beristirahat sejenak di sana lalu meninggalkannya. (H.R. Tirmidzi, hadith hasan sahih)
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a bahawa baginda Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa menghadapi kesempitan dalam rezekinya kemudian dia mula meminta-minta kepada orang lain, maka kesempitan itu tidak akan hilang. Dan barangsiapa menghadapi kesempitan dalam rezeki kemudian dia meminta kepada Allah, maka Allah akan menyediakan kepadanya rezeki dengan segera, sama ada cepat atau dilambatkan sedikit. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Firman Allah s.w.t: Wahai anak Adam! Lapangkanlah masa untuk beribadat kepadaKu, nanti Aku akan penuhkan dadamu kekayaan, dan aku akan menutup kemiskinanmu. Jika engkau tidak melakukan yang demikian, nanti Aku penuhkan tanganmu dengan urusan dan kerja, dan aku tidak menutup kemiskinanmu! (Hadith Qudsi Riwayat Ahmad)
Dari Al-Musayyab bin Hazn r.a: Rasulullah s.a.w menziarahi Abu Talib di saat-saat beliau tenat menghadapi sakaratul maut. Baginda dapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah turut berada di sana. Rasulullah s.a.w bersabda: Pakcik, ucaplah dua kalimah syahadat, aku akan menjadi saksi kamu di hadapan Allah s.w.t. Lalu Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah mencelah: Wahai Abu Talib, sanggupkah kamu meninggalkan agama Abdul Muttalib? Rasulullah s.a.w tidak berputus asa malah tetap mengajarnya mengucap dua kalimah syahadat serta berkali-kali mengulanginya. Sehinggalah Abu Talib menjawab sebagai ucapan terakhir kepada mereka bahawa dia tetap bersama dengan agama Abdul Muttalib malah enggan mengucapkan kalimah syahadat. Rasulullah s.a.w bersabda: Demi Allah, aku akan pohonkan keampunan dari Allah untukmu sehinggalah Allah menurunkan ayat مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ Yang bermaksud: Tidak dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman meminta ampun bagi orang-orang yang syirik sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri. Telah nyata bagi mereka bahawa orang-orang syirik itu adalah ahli Neraka. Firman Allah bersempena dengan peristiwa Abu Talib إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ Yang bermaksud: Sesungguhnya engkau wahai Muhammad tidak berkuasa memberi hidayat iaitu petunjuk kepada sesiapa yang engkau kasihi supaya dia menerima Islam tetapi Allah jualah yang berkuasa memberi petunjuk kepada sesiapa yang dikehendakinya iaitu menurut undang-undang peraturannya dan Dia jualah yang lebih mengetahui siapakah orang-orang yang ada persediaan untuk mendapat petunjuk memeluk Islam. (H.R. Muslim)
Dari Anas r.a katanya: Suatu arakan jenazah telah melewati suatu tempat. Lantas orang ramai memuji bahawa itu adalah jenazah orang yang baik. Ya, pasti, berkata Rasulullah s.a.w menyetujuinya. Kemudian berlalu pula arakan jenazah yang lain. Orang ramai berkata pula: Mayat yang jahat. Berkata Rasulullah s.a.w: Ya, pasti! Maka bertanya Umar bin al-Khattab: Apakah yang pasti ya Rasulullah? Jawab baginda: Kamu katakan mayat itu baik, maka ia pasti masuk syurga. Kamu katakan pula mayat si anu itu jahat, pasti pula ia masuk ke neraka. Kamu semua adalah para saksi Allah di bumi. (H.R. Bukhari)
Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di majlis Rasulullah s.a.w, dengan tujuan supaya baginda bersabda dan mendoakan mereka dengan mendapat rahmat Allah (sebagaimana doa bagi orang-orang Islam apabila mereka bersin). Maka baginda bersabda (kepada orang-orang Yahudi ketika mereka bersin): Semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan membetulkan hal ehwal kamu. (H.R. Tirmidzi)
Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah s.a.w seraya berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar ditimpakan keburukan ke atas mereka. Orang-orang menyangka bahawa baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam. (H.R. Abu Hurairah)
Dari Abu Hurairah: Nabi s.a.w mencium Al-Hasan bin Ali dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata: Aku punya 10 orang anak, tidak seorang pun dari mereka yang pernah ku cium. Maka Rasulullah s.a.w pun melihat kepada Al-Aqro’ lalu baginda bersabda: Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.a: Datang seorang Arab Badwi kepada Nabi s.a.w lalu dia berkata: Apakah kalian mencium anak-anak lelaki? Kami tidak mencium mereka. Maka Nabi s.a.w bersabda: Aku tidak boleh berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Anas bin Malik berkata: Rasulullah s.a.w memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan baginda berkata: Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak kerana aku akan berbangga dengan kalian di hadapan para Nabi pada hari kiamat. (H.R. Ibnu Hibban)
Dari Ma’qil bin Yasar berkata: Datang seorang pemuda kepada Nabi s.a.w dan berkata: Aku menemukan seorang wanita yang cantik dan memiliki martabat tinggi namun ia mandul apakah (boleh) aku menikahinya? Nabi s.a.w menjawab: Jangan! Kemudian pemuda itu datang menemui Nabi s.a.w kedua kalinya dan Nabi s.a.w tetap melarangnya. Kemudian ia menemui Nabi s.a.w yang ketiga kalinya maka Nabi s.a.w bersabda: Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak kerana aku akan berbangga dengan kalian di hadapan umat-umat yang lain. (H.R. Abu Daud, Ibnu Hibban dan An-Nasai’e)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kalian memukul para wanita (isteri-isteri kalian)! Lalu Umar pun datang menemui Nabi s.a.w dan berkata: Para isteri berani dan membangkang suami-suami mereka! Maka Nabi s.a.w pun memberi keringanan untuk memukul mereka, maka para isteri pun dipukul. Para isteri pun banyak yang berdatangan menemui isteri-isteri Nabi s.a.w (para ummul mukminin) mengeluhkan tentang suami mereka. Nabi s.a.w pun berkata: Sungguh para isteri banyak yang telah mendatangi isteri-isteri Muhammad s.a.w mengeluhkan tentang suami-suami mereka, mereka itu (para suami yang memukul) bukanlah yang terbaik diantara kalian. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dalam hadith yang lain Rasulullah s.a.w bersabda: Orang-orang terbaik di antara kalian tidak akan memukul. (H.R. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Dari Jabir, ia berkata: Rasulullah s.a.w melarang memukul di wajah dan memberi alamat (dengan menggores) di wajah. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah salah seorang dari kalian mencambuk (memukul) isterinya sebagaimana mencambuk (memukul) seorang budak lantas ia menjimaknya di akhir hari. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Dan merupakan hak kalian agar mereka (isteri-isteri kalian) untuk tidak membiarkan seorang pun yang kalian benci untuk masuk ke dalam rumah kalian, dan jika mereka melakukan maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membekas. (H.R. Muslim)
Dari Mu’awiyah bin Haidah: Seseorang bertanya kepada Nabi s.a.w: Apa hak seorang wanita terhadap suaminya? Rasulullah s.a.w bersabda: Memberi makan kepadanya jika ia makan, memberi pakaian kepadanya jika ia berpakaian, dan tidak memukul wajahnya, tidak memalukannya, serta tidak meng-hajr (menjauhi isterinya dari tempat tidur) kecuali di dalam rumah. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah halal dusta kecuali pada tiga perkara, seorang suami berbohong kepada isterinya untuk membuat isterinya redha, berdusta tatkala perang, dan berdusta untuk mendamaikan (memperbaiki hubungan) di antara manusia. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bertakwalah kepada Allah pada (penunaian hak-hak) para wanita, kerana kalian sesungguhnya telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sekeping dinar yang engkau infakkan pada jihad fi sabilillah, sekeping dinar yang engkau infakkan untuk membebaskan hamba, sekeping dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan sekeping dinar yang engkau infakkan kepada isterimu, maka yang paling besar pahalanya adalah sekeping dinar yang engkau infakkan kepada isterimu. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga, dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena redha terhadap orang yang mencari ilmu. Dan sesungguhnya orang yang mencari ilmu akan didoakan oleh mereka yang ada di langit dan di bumi bahkan ikan-ikan yang ada di air. Dan sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu berbanding orang yang ahli ibadah seperti keutamaan (cahaya) bulan purnama dengan seluruh cahaya bintang. Sesungguhnya para ulama’ itu adalah pewaris para Nabi, sesugguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambil bahagian untuk mencari ilmu, maka dia sudah mengambil bahagian yang besar. (H.R. Ahmad, Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap isteri-isterinya. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Iblis meletakkan singgahsananya di atas air (laut), kemudian ia mengutus para tenteranya. Maka tentera yang paling dekat dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya (penyesatannya). Maka datanglah salah satu tenteranya dan melapor: Aku telah melakukan ini dan itu, maka Iblis berkata: Engkau belum melakukan apa-apa, kemudian datanglah tentera yang lain dan melapor: Aku telah menggodanya hingga akhirnya aku menceraikannya dengan isterinya. Maka Iblis pun mendekatkan tentera syaitan ini di sisinya lalu berkata: Engkau tentera terbaik. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Hendaknya yang kalian cari adalah hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir dan isteri yang solehah yang membantu kalian untuk meraih akhirat. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang bangun di tengah malam dan membangunkan isterinya lalu mereka berdua solat bersama dua rakaat maka mereka berdua akan dicatat sebagai lelaki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Allah merahmati seorang yang bangun di malam hari lalu solat (tahajjud) dan membangunkan isterinya. Jika isterinya enggan untuk bangun maka dia pun memercikkan air di wajah isterinya. Allah merahmati seorang wanita yang bangun di tengah malam lalu solat (tahajjud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun maka dia pun memercikkan air ke wajah suaminya. (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)
Dari Anas bin Malik r.a: Abu Bakar mengimami sembahyang orang ramai ketika Rasulullah s.a.w dalam kesakitan yang menyebabkan kewafatan baginda. Pada hari Isnin, ketika para sahabat sedang mendirikan sembahyang, Rasulullah s.a.w membuka tirai dan berdiri memandang kami. Wajah baginda putih berseri umpama kertas, lalu baginda tersenyum lebar hingga tertawa. Anas berkata: Kami yang sedang sembahyang menjadi tercengang kehairanan dan cukup senang hati kerana Rasulullah s.a.w keluar. Abu Bakar tanpa membuang masa terus berundur menghampiri saf kerana menyangka Rasulullah s.a.w keluar untuk sembahyang. Lalu baginda mengisyaratkan kepada mereka supaya menyempurnakan sembahyang. Anas berkata: Rasulullah s.a.w kemudiannya kembali memasuki bilik dan menjatuhkan tirai. Anas berkata: Hari tersebutlah, berlakunya kewafatan baginda Rasulullah s.a.w. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya dari kalangan hamba-hamba Allah adanya golongan yang mereka bukan para nabi, atau para syahid. Namun para nabi dan para syahid cemburu kepada mereka pada Hari Kiamat disebabkan kedudukan mereka di sisi Allah. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Beritahulah kami siapakah mereka? Jawab Rasulullah: Mereka itu golongan yang cinta mencintai dengan ruh Allah, tanpa ada hubungan kekeluargaan dan bukan kerana harta yang diidamkan. Demi Allah, sesungguhnya wajah-wajah mereka adalah cahaya, mereka berada atas cahaya. Mereka tidak takut pada saat manusia ketakutan, mereka tidak berdukacita ketika manusia berdukacita. Lalu baginda membaca ayat al-Quran (maksudnya): Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tiada ketakutan untuk mereka dan tidak pula mereka berdukacita. (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Semua umatku akan diampunkan dosanya kecuali orang yang bermujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah Seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: “Wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.” Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia telah membuka sendiri akan dosa tersebut. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang lelaki memanggil isterinya ke katil tetapi dia enggan mendatanginya, lalu suaminya tidur dalam keadaan marah kepadanya nescaya malaikat akan melaknatnya sehingga waktu subuh (pagi). (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Diperlihatkan (Allah) kepadaku akan neraka. Ketika itu ku lihat kebanyakan isinya terdiri daripada perempuan-perempuan kafir. Baginda s.a.w ditanya oleh seseorang: Apakah mereka kafir kepada Allah? Jawab Rasulullah s.a.w: Mereka kafir kepada karib (suami) dan (tidak tahu berterima kasih) atas kebaikan (yang diterimanya). Biarpun engkau telah berbuat baik kepadanya sepanjang masa, kemudian dilihatnya daripadamu sedikit kesalahan sahaja, lantas ia berkata: Saya tidak pernah melihat kebaikan darimu sedikit pun! (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiada faedah yang paling baik diperoleh seorang mukmin (suami yang beriman) selepas bertaqwa kepada Allah Azza Wa Jalla selain isteri yang solehah. Apabila suami menyuruhnya, ia mentaatinya. Jika suami memandangnya ia menggembirakan hati suaminya. Sekiranya suami bersumpah, ia memenuhi sumpah suaminya itu. Apabila ia keluar kerana bertugas atau berjuang, ia menjaga maruahnya dan maruah suaminya serta menjaga harta benda suaminya dengan cara berjimat cermat membelanjakannya. (H.R. Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak dihalalkan bagi seorang isteri yang beriman kepada Allah untuk mengizinkan seseorang masuk ke rumah suaminya, padahal suaminya tidak senang. (H.R. Al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat (bermakna tiada bantuan dari dikenakan azab) mereka di hari kiamat: Si penderhaka kepada ibu bapa, si perempuan yang menyerupai lelaki dan si lelaki dayus. (H.R. Ahmad dan An-Nasaie)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga yang telah Allah haramkan baginya Syurga: Orang yang ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan si dayus yang membiarkan maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya. (H.R. Ahmad)
Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga yang tidak memasuki syurga sampai bila-bila iaitu si dayus, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak. Lalu sahabat berkata: Wahai Rasulullah, kami telah faham erti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu dayus? Bersabda Nabi s.a.w: Iaitu orang yang tidak memperdulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (isteri dan anak-anaknya). (H.R. At-Thabrani)
Berkata Sa’ad bin Ubadah r.a: Jika aku nampak ada lelaki yang sibuk bersama isteriku, nescaya akan ku pukulnya dengan pedangku, maka disampaikan kepada Nabi akan kata-kata Sa’ad tadi, lalu Nabi s.a.w bersabda : Adakah kamu kagum dengan sifat cemburu (untuk agama) yang dipunyai oleh Sa’ad? Demi Allah, aku lebih kuat cemburu (ambil endah dan benci demi agama) berbandingnya, malah Allah lebih cemburu dariku, kerana kecemburuan Allah itulah maka diharamkan setiap perkara keji yang ternyata dan tersembunyi. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila lalat terjatuh ke dalam bekas minum salah seorang antara kamu, celuplah dan kemudian buanglah lalat itu kerana pada sebelah sayapnya mengandungi penawar dan di sebelah sayapnya yang lain mempunyai penyakit. (H.R. Bukhari, Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila hari kiamat telah dekat, jarang mimpi seorang muslim yang tidak benar. Mimpi yang paling benar ialah mimpi yang selalu berbicara benar. Dan mimpi seorang muslim adalah sebahagian dari 45 jenis nubuwwah (wahyu). Mimpi itu ada tiga jenis: Mimpi yang baik adalah khabar gembira daripada Allah, mimpi yang menakutkan atau menyedihkan datangnya dari syaitan, dan mimpi yang timbul kerana ilusi, angan-angan atau khayalan seseorang. Maka kerana itu jika kamu bermimpi yang tidak kamu senangi, bangunlah kemudian solat dan jangan menceritakannya kepada orang lain. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang membaca surah Al-Ikhlas, maka seakan-akan dia telah membaca satu pertiga Al-Qur’an. (H.R. Ahmad dan An-Nasai’e)
Dari Abu Sa’id al-Khudri, seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w dan sampaikan perkara itu kepadanya kerana dia menyangka bacaan itu tidak lengkap. Rasulullah s.a.w bersabda: Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran! (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang lupa akan sesuatu solat, maka hendaklah ia mengerjakan solat itu jika ia telah mengingatinya, tiada tebusan lain untuk solat itu kecuali solat yang dilupakannya, sesuai dengan firman Allah yang maksudnya: Dan dirikanlah solat untuk mengingatiKu. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Kasihanilah mereka yang berada di bumi nescaya kamu akan dikasihi oleh mereka yang tinggal di langit. (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah (Islam). Maka kedua orang tuanyalah (ibu bapa) yang (kemudian) menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. (H.R. Bukhari)
Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman: Sesiapa yang memusuhi seseorang wali Aku maka sesungguhnya Aku isytiharkan perang terhadapnya. Tidak ada satu perbuatan taqarrub (mendekatkan diri) kepadaKu oleh hambaKu yang lebih Aku cintai selain daripada kewajipan-kewajipan yang Aku fardhukan ke atasnya. HambaKu akan terus (beramal) menghampirkan diri kepada Aku dengan melakukan amalan-amalan sunat sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka aku (menjadikan) pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memukul dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Jika dia memohon (sesuatu) daripada Aku nescaya aku berikannya, dan jika dia memohon perlindungan Aku (daripada sesuatu) nescaya akan aku lindunginya. Aku tidak ragu daripada sesuatu yang Aku lakukan sepertimana Aku ragu (hendak mengambil) nyawa hamba Aku yang mukmin di mana dia membenci maut sedang Aku tidak suka menyakitinya. (Hadith Qudsi Riwayat Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Aku tidak melihat (penawar) untuk dua orang yang bercinta seperti nikah. (H.R. al-Baihaqi dan Ibn Majah, sahih)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak berganjak kedua-dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ia disoal mengenai umurnya pada perkara apakah ia habiskan dan ilmunya untuk apakah ia gunakan, dan harta bendanya dari manakah ia peroleh dan pada apakah ia belanjakan, dan juga tubuh badannya pada perkara apakah ia susutkan kemudaan dan kecergasannya. (H.R. Tirmidzi)
Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: Tahukah kamu, siapakah gerangan orang yang muflis itu? Lalu jawab sahabat: Pada pandangan kami, orang yang muflis itu ialah mereka yang tidak mempunyai wang dan harta. Lantas Baginda s.a.w bersabda: Sesungguhnya orang yang muflis di kalangan umatku ialah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sembahyang, puasa dan zakat. Dia juga (dalam masa yang sama) datang dengan membawa dosa menghina, menyakiti orang, memakan harta orang lain, menumpahkan darah (membunuh), dan memukul orang. Lalu diberi segala kebajikan itu kepadanya dan ini adalah kebajikan-kebajikannya. Maka jika telah habis pahala kebajikannya sebelum dapat dibayar kepada orang yang menuntutnya (orang yang dihina, disakiti dan dizaliminya ketika di dunia dulu), maka dosa-dosanya itu akan dilemparkan kepadanya, lalu dia kemudiannya dicampakkan ke dalam api neraka. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang ada padanya kezaliman terhadap saudaranya (muslim yang lain); seperti terhadap maruah dan selainnya, mintalah halal pada hari ini sebelum tiba waktu yang tiada dinar dan dirham (tiada harta iaitu pada Hari Kiamat). Sekiranya baginya kebaikan (amalan soleh) maka akan diambil darinya dengan kadar kezalimannya. Jika tiada baginya kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizalimi lalu ditanggung ke atasnya. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Segala hak akan dibayar kepada empunya pada Hari Kiamat, sehinggakan akan dibalas untuk biri-biri yang bertanduk atas perbuatannya ke atas biri-biri yang tidak bertanduk. (H.R. Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Kepanasan api kamu yang digunakan oleh anak Adam di dunia ini hanyalah sepertujuh puluh kepanasan api Neraka Jahanam. Sahabat-sahabat Baginda berkata: Demi Allah! Sesungguhnya sekadar itu pun cukuplah untuk menyeksa. Baginda s.a.w bersabda: Meskipun demikian, kepanasan Neraka Jahanam ditambah melebihi kepanasan api dunia sebanyak enam puluh sembilan bahagian yang tiap-tiap satunya seperti kepanasan api dunia ini. (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Abu Hurairah r.a mengatakan bahawa Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Sesiapa yang mandi pada hari Jumaat seperti mandi janabah (mandi dengan membersih seluruh tubuh badan), kemudian dia pergi ke Jumaat (solat Jumaat) (sebagai orang yang pertama sampai) maka sama halnya seperti orang yang berkorban seekor unta; dan sesiapa yang datang sebagai orang kedua, sama halnya seperti orang yang berkorban seekor lembu betina; sesiapa yang datang sebagai orang ketiga, sama halnya seperti orang yang berkorban seekor biri-biri bertanduk; sesiapa yang datang sebagai orang keempat, sama halnya dengan seorang yang berkorban seekor ayam; dan sesiapa yang datang sebagai orang kelima; sama halnya dengan orang yang berkorban dengan sebutir telur. Apabila imam telah menaiki mimbar maka para malaikat yang hadir juga ikut mendengar khutbah. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa sebulan (Ramadhan), menjaga kehormatan dan taat kepada suami, dia akan disuruh memasuki syurga melalui mana-mana pintu yang dia sukai. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang hamba dikebumikan di dalam kuburnya kemudian ditinggalkan oleh kawan-kawannya nescaya dia akan mendengar bunyi hentakan tapak kasut mereka. Seterusnya dia akan didatangi oleh dua malaikat lalu mendudukkannya dan bertanya: Apa pendapatmu tentang lelaki ini (iaitu Nabi Muhammad s.a.w)? Baginda bersabda lagi: Sekiranya dia seorang mukmin, nescaya dia akan menjawab: Aku bersaksi bahawa dia hamba Allah dan pesuruhNya. Lalu diberitahu kepadanya: Lihatlah tempatmu di Neraka, sesungguhnya Allah telah menggantikannya dengan Syurga. Nabi s.a.w bersabda: Dia dapat melihat kedua-duanya iaitu Syurga dan Neraka. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika aku berdiri di hadapan pintu syurga ternyata kebanyakan orang yang memasukinya ialah dari kalangan orang-orang miskin. Aku juga melihat para pembesar sedang ditahan kecuali penghuni Neraka, di mana mereka diarahkan terus pergi ke Neraka. Ketika aku berdiri di hadapan pintu Neraka ternyata kebanyakan orang yang memasukinya adalah kaum wanita. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Golongan yang paling sedikit menghuni syurga ialah kaum wanita. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w telah bersabda: Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar iaitu memohon ampun. Kerana aku melihat kaum wanitalah yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka. Seorang wanita yang cukup pintar di antara mereka bertanya: Wahai Rasulullah, kenapa kami kaum wanita yang lebih ramai menjadi penghuni Neraka? Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu banyak mengutuk dan mengingkari suami. Aku tidak melihat mereka yang kekurangan akal dan agama yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kamu. Wanita itu bertanya lagi: Wahai Rasulullah! Apakah maksud kekurangan akal dan agama itu? Rasulullah s.a.w bersabda: Maksud kekurangan akal ialah penyaksian dua orang wanita sama dengan penyaksian seorang lelaki. Inilah yang dikatakan kekurangan akal. Begitu juga wanita tidak mendirikan sembahyang pada malam-malam yang dilaluinya kemudian berbuka pada bulan Ramadhan kerana haid. Maka inilah yang dikatakan kekurangan agama. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila membaca ayat yang menyebut kalimat sujud lalu ia (Adam) sujud, larilah syaitan sambil menangis dan berkata: Celaka aku! Manusia diperintah bersujud lalu sujud maka syurga baginya dan aku diperintah bersujud tetapi aku tolak, maka neraka bagiku. (H.R. Muslim)
Diriwayatkan daripada Umar bin al-Khattab r.a bahawa beliau telah berkata kepada Rasulullah s.a.w: Wahai Rasulullah! Engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu melainkan nyawa yang ada di dalam diriku. Lalu Rasulullah s.a.w berkata: Tidak sempurna iman seseorang sehinggalah aku lebih dicintai daripada dirinya sendiri. Umar pun berkata: Demi Tuhan yang telah menurunkan al-Kitab kepada engkau, sesungguhnya engkau lebih aku kasihi daripada diri aku. Baginda berkata kepada Umar: Sekarang iman engkau telah sempurna wahai Umar! (H.R. Muslim)
Barangsiapa yang menuntut sesuatu ilmu untuk berbangga diri di hadapan ulama’, atau berbalah dengan orang bodoh atau mengalihkan pandangan manusia kepadanya, maka dia akan ditempatkan di dalam neraka. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya, nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku. Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku, menyampaikan pula kepada orang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dariku. (H.R. Muslim dan Abu Daud)
Aisyah r.a berkata: Rasulullah s.a.w meninggal di rumahku, pada hatiku dan berada antara dada dan kerongkonganku. Salah seorang dari kami membacakan doa untuknya dengan doa yang biasa dibacakan untuk orang sakit. Aku pun ikut mendoakannya. Kemudian baginda mengangkat pandangannya ke langit dan mengucapkan: “Arrafiiqul A’laa, Arrafiiqul A’laa (Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi, ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi).” Lalu Abdurrahman bin Abu Bakar masuk dengan membawa kayu siwak yang masih basah. Nabi s.a.w pun menatapnya, saya mengira baginda memang memerlukan siwak tersebut. Aisyah berkata: Maka aku mengambilnya, mengunyahnya, mengibas-ngibaskannya, dan membaguskannya, kemudian aku berikan kepada baginda. Lantas baginda membersihkan giginya dan belum pernah aku melihat orang yang membersihkan giginya sebagus yang baginda lakukan. Setelah itu baginda memberikannya kepadaku namun jatuh (lepas) dari tangannya. Segala puji bagi Allah yang telah mengumpulkan antara air liurku dengan air liur baginda pada hari-hari terakhir baginda di dunia dan pada hari-hari pertama di akhirat kelak. (H.R. Bukhari)
Aisyah berkata: Rasulullah s.a.w bersabda ketika beliau masih sihat: Tidaklah seorang Nabi diambil nyawanya, hingga diperlihatkan terlebih dahulu tempat duduknya di syurga. Lalu disuruh memilihnya. Tatkala baginda sakit dan ajal menjemputnya, yang pada waktu itu kepala beliau berada di peha Aisyah, baginda pengsan. Setelah baginda sedar, baginda mengalihkan pandangannya ke atap rumah kemudian bersabda: “Ya Allah, sekarang aku memilih kekasihku yang tertinggi.” Aisyah berkata: Kalau begitu baginda tidak akan bersama kita. Maka aku pun mengerti bahawa ucapanya itu adalah perkataan yang pernah baginda sampaikan kepada kami ketika baginda masih sihat. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar syurga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah syurga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bergurau. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bahagian teratas syurga bagi orang yang membaguskan akhlaknya. (H.R. Abu Daud)
Daripada Abu Hurairah r.a, beliau bertanya Rasulullah s.a.w: Siapakah yang akan mendapat kebahagian di hari kiamat melalui syafaat Baginda s.a.w? Rasulullah s.a.w menjawab: Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya aku telah memerhatikan minatmu terhadap hadith, maka aku telah menduga bahawa tiada yang akan bertanya kepada aku tentang hal ini sebelum engkau. Baginda menambah: Yang akan mencapai kebahagian dan keuntungan melalui syafaatku ialah orang yang mengucapkan kalimah لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله dengan hati dan jiwa yang ikhlas. (H.R. Bukhari dan Al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir yang paling afdhal ialah لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله dan doa yang paling afdhal ialah Alhamdulillah. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiada seorang pun hamba yang mengucapkan لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله melainkan dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga kalimah itu terus menuju ke Arasy kecuali mereka yang terlibat dengan dosa-dosa besar. (H.R. Tirmidzi, An-Nasaie, Ibnu Hibban dan As-Sayuthi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang mengucapkan لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga. Baginda s.a.w ditanya: Apakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu? Baginda s.a.w menjawab: Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan haram (mungkar dan sesat). (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Dua kalimah yang ringan pada lidah, berat pada Al-Mizan (yakni timbangan Allah di hari akhirat) yang kedua-duanya sangat-sangat di sukai oleh Allah SWT itulah bertasbih dengan Subhanallahi Wabihamdihi, Subhanallhil ‘Azhim. (H.R. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An-Nasai’e dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Di satu ketika, Nabi Musa a.s memohon kepada Allah s.w.t: Wahai Tuhan, ajarkanlah aku akan sesuatu agar dapat aku mengingatiMu dengannya. Allah s.w.t berfirman: Sebutlah لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله! Baginda menjawab: Wahai Tuhan, ini diucapkan oleh setiap hambaMu. Allah s.w.t berfirman lagi: Sebutlah لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله! Baginda menjawab lagi: Wahai Tuhan, aku mahukan sesuatu yang istimewa khas buat diriku. Allah s.w.t berfirman menjawab: Jika tujuh petala langit dan tujuh petala bumi diletakkan di atas satu bahagian di neraca timbangan dan لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله di sebelah yang lain, nescaya akan lebih berat di sebelah لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله. (H.R. An-Nasaie, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Semua umatku akan masuk syurga kecuali yang enggan. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan? Baginda menjawab: Barangsiapa yang taat kepadaku dia masuk syurga dan barangsiapa yang melanggar perintahku dia telah enggan. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesiapa yang menghadiri (menyaksikan) jenazah sehingga jenazah itu disembahyangkan, maka dia seolah-olah mendapatkan satu qirat (qirat adalah kinayah bagi ganjaran pahala yang sangat banyak) dan sesiapa yang menghadirinya sehingga jenazah itu dikuburkan, maka dia mendapat dua qirat. Sahabat bertanya: Apakah dua qirat itu? Baginda s.a.w bersabda: Seumpama dua gunung. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w telah bersabda: Sesiapa yang mendirikan sembahyang jenazah, maka dia mendapatkan satu qirat (qirat adalah kinayah bagi ganjaran pahala yang sangat banyak). Jika dia menghadiri pengebumiannya maka dia mendapat dua qirat. Satu qirat adalah sama dengan Bukit Uhud. (H.R. Muslim)
Seorang lelaki telah dihumban ke Neraka pada Hari Kiamat, terkeluar ususnya dan dia berputar dalam Neraka seperti seekor keldai berputar mengelilingi pengisar gandum dalam kandang. Ahli Neraka mengerumuninya dan mereka bertanya: Hai kamu! Apa yang telah terjadi kepadamu? Bukankah kamu dahulu menyuruh manusia melakukan kebaikan dan menegah manusia daripada melakukan perkara mungkar? Dia menjawab: Memang benar. Aku telah menyuruh orang melakukan kebaikan tetapi aku (sendiri) meninggalkannya dan aku menegah manusia dari melakukan perkara mungkar sedangkan aku melakukannya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Dan apabila harus pula engkau lakukan (iaitu mengharapkan mati), maka hendaknya ia berucap: Ya Allah, hidupkanlah hambamu bila hidup itu lebih baik untukku, dan matikanlah hambamu bila mati itu lebih baik untukku. (H.R Bukhari dan Muslim)
Seorang perempuan datang bertanya kepada Rasulullah s.a.w serta menerangkan katanya: Sesungguhnya sepupuku meminangku, maka sebelum aku berumah tangga, ajarkanlah kepadaku, apakah hak suami terhadap isterinya? Rasulullah s.a.w menjawab: Sesungguhnya hak suami terhadap isterinya sangatlah besar, sehingga apabila mengalir darah hidung atau nanah suaminya, lalu dijilat isterinya, masih belum terbayar hak suaminya itu. Dan jika sekiranya manusia dibolehkan sujud kepada manusia, nescaya aku perintahkan si isteri untuk sujud kepada suaminya. (H.R. Al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Isteri-isteri kamu tergolong dalam golongan penghuni-penghuni Syurga adalah yang subur dengan kasih sayang dan sentiasa meminta keredhaan daripada suaminya. Apabila suami sedang marah, isteri menghampiri suami dan menyambut tangan suaminya lalu berkata: “Aku tidak ingin tidur sebelum kamu berasa tenang.” (H.R. An-Nasa’ie)
Berkata Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa telah berwuduk dengan cara yang baik, kemudian terus ia menuju (ke masjid, tetapi) didapati orang ramai telah selesai dari bersembahyang (jemaah) Allah swt akan mengurniakan kepadanya pahala (solah jamaah) sama dengan mereka yang hadir berjemaah, dengan tidak mengurangkan sedikit pun pahala (solah) jemaah mereka. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang hamba yang bercakap sesuatu kalimah atau ayat tanpa mengetahui implikasi dan hukum percakapannya, maka perkataan itu akan mencampakkannya ke dalam Neraka sejauh antara timur dan barat. (H.R. Bukhari)
Dari Anas r.a, kami para sahabat r.a bertanya: Ya Rasullullah s.a.w, kami tidak akan menyuruh orang untuk berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran. Maka Nabi s.a.w bersabda: Tidak, bahkan serulah orang untuk berbuat baik, meskipun kalian belum mengamalkan semuanya. Dan cegahlah kemungkaran, meskipun kalian belum menghindari semuanya. (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang mempelopori sesuatu yang buruk, maka ke atasnya dosa dan dosa setiap orang yang membuatnya tanpa sedikit kurang pun dosanya. (H.R. Ahmad)
Dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang menyeru kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala orang yang melakukan kebaikan tersebut tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapat dosa sebanyak yang diperoleh mereka tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun. (H.R. Muslim)
Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Mencarut adalah sejenis sikap kasar. Manakala sikap kasar balasannya ialah neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Said r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Pada Hari Kiamat kelak maut didatangkan seperti kibas belang (Abu Kuraib menambah di dalam riwayatnya: Lalu dihentikan antara Syurga dan Neraka. Mereka sepakat pada baki Hadith). Kemudian diseru: Wahai penghuni Syurga! Adakah kamu kenal siapa ini? Mereka mendongak dan memandang lalu berkata: Ya! Ini adalah maut. Kemudian diseru pula: Wahai ahli Neraka! Adakah kamu kenal siapa ini? Mereka mendongak dan memandang lalu menjawab: Ya! Itu adalah maut. Kemudian diperintahkan supaya maut disembelih dan menyeru: Wahai ahli Syurga! Kamu tetap kekal dan tidak akan mati. Wahai ahli Neraka! Kamu juga tetap kekal dan tidak akan mati. Kemudian Rasulullah s.a.w membaca ayat yang bermaksud: Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, iaitu ketika segala perkara telah diputuskan dan mereka dalam kelalaian serta tidak beriman. Kemudian baginda menunjuk ke arah dunia dengan tangan. (H.R. Muslim)
Dari Aisyah r.a katanya: Sesiapa yang menceritakan kepada engkau bahawa Muhammad melihat Tuhannya, sesungguhnya orang itu dusta kerana Allah mengatakan: Pemandangan tidak sampai kepadaNya. Dan sesiapa yang menceritakan kepada engkau bahawa Muhammad mengetahui hal yang ghaib, sesungguhnya orang itu dusta kerana Tuhan mengatakan: Tiada mengetahui hal yang ghaib melainkan Allah. (H.R. Muslim)
Daripada Suhaib daripada Nabi s.a.w bersabda: Apabila Ahli Syurga telah memasuki syurga Allah Tabaraka wa Taala akan berkata: Kamu mengkehendaki sesuatu supaya Aku tambahkan lagi? Lalu mereka menjawab: Bukankah Kamu telah memutihkan wajah kami? Bukankah Kamu telah memasukkan kami ke dalam syurga dan menyelamatkan kami daripada neraka? Maka Allah menyingkap tabir dan tidaklah diberi nikmat yang lebih mereka cintai selain daripada melihat kepada Tuhan mereka Azza wa Jalla. Kemudian baginda membaca ayat ini: “Bagi mereka yang berbuat baik akan diberi kebaikan dan tambahan.” [Yunus: 26] (H.R. Muslim)
Dari Abu Dzar r.a katanya: Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w: Adakah anda melihat Allah? Jawab baginda: Dia Maha Cahaya, bagaimana aku dapat melihatnya? (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Aku pernah bertanya kepada Malaikat Jibril, pernahkah engkau melihat Tuhanmu ya Jibril? Jibril menjawab: Di antara aku dan Allah ada 70 lapis hijab yang terdiri daripada cahaya. Bila terbuka sahaja lapisan hijab cahaya yang paling luar, aku pasti terbakar. (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Mana-mana isteri yang meminta suaminya menceraikannya dengan tiada sebab yang dibenarkan oleh syarak, haram baginya bau syurga. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhuatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya (dosa) kerananya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya. (H.R. Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim dan Ibnu Hibban)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hambaNya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya. (H.R. Al-Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu darjat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka. (H.R. Al-Bazzar)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kamu mencaci-maki penyakit demam, kerana sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan ubatnya, maka berubatlah dan janganlah berubat dengan yang haram. (H.R. Ad Daulabi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada apa-apa yang haram.(H.R. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian. (H.R. Bukhari dan Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada ketaatan kepada siapa pun dalam maksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah dalam perkara yang baik menurut syariat. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Api yang kamu semua nyalakannya di dunia ini adalah 1 bahagian daripada 70 bahagian panasnya api neraka jahanam. Para sahabat berkata: Demi Allah, api di dunia ini pun sudah amat panasnya ya Rasulullah! Baginda lalu bersabda lagi: Memang, api neraka itu masih lebih panasnya 69 kali bahagian panasnya. Semuanya itu setiap bahagiannya sama suhu panasnya dengan api di dunia ini. (H.R. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Solat dua rakaat sebelum solat subuh adalah lebih baik daripada dunia dan segala apa yang ada padanya. (H.R Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, Nabi s.a.w ucapkan kalimat ini satu kali. Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku. Nabi s.a.w ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali. (H.R. Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang membelai kepala anak yatim kerana Allah s.w.t, maka baginya kebaikan yang banyak daripada setiap rambut yang diusap. Dan barangsiapa yang berbuat baik kepada anak yatim perempuan dan lelaki, maka aku dan dia akan berada di syurga seperti ini, Rasulullah s.a.w mengisyaratkan merenggangkan antara jari telunjuk dan jari tengahnya. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Puasa adalah perisai. Oleh itu, janganlah seseorang mengerjakan rafath (perkataan yang keji) dan berbuat sesuatu perkara yang jahil (menyalahi hukum). Jika seseorang itu diperangi atau dicaci, dia hendaklah berkata: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa (Nabi menyebutnya dua kali).” (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bukanlah dari itu, dari makan dan minum, namun puasa adalah dengan menahan diri daripada bercakap kosong dan lucah, maka jika seseorang memaki atau menyakitimu, maka katakan: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (H.R. Ibn Khuzaimah, hadith sahih)
Rasulullah s.a.w bersabda: Jika kamu mendengar sesuatu wabak (penyakit) menular di sebuah tempat, janganlah kamu memasuki kawasan itu. Namun jika wabak tersebut merebak di tempat kamu, janganlah kamu meninggalkan kawasan tersebut. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang ada sebarang kesalahan dengan saudaranya maka hendaklah diselesaikan sekarang, kerana sesungguhnya di sana (di akhirat) tiada lagi wang ringgit untuk dibuat bayaran, (yang ada hanyalah) diambil hasanah (kebaikan) yang ada padanya, kalau dia tidak mempunyai kebaikan, diambil keburukan orang itu lalu diletakkan ke atasnya. (H.R Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga perkara yang barangsiapa terdapat (ketiga-tiga perkara itu) padanya nescaya dia memperolehi kemanisan iman (iaitu) Allah dan RasulNya adalah lebih dia cintai daripada selainnya, dan dia mencintai seseorang semata-mata kerana Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran (maksiat) sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam api neraka. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya perkara yang halal itu adalah sesuatu yang nyata dan demikian juga yang haram adalah nyata, (telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya) namun terdapat di antara kedua-duanya (halal dan haram) itu perkara yang kesamaran (syubhat) yang mana tidak diketahui oIeh ramai di kalangan manusia. Maka barangsiapa yang memelihara dirinya daripada mengambil perkara-perkara yang syubhat, maka terpeliharalah agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang melibatkan diri pada perkara-perkara syubhat bererti ia melibatkan dirinya pada perkara yang haram. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak seorang isteri yg menyakiti suaminya di dunia ini, melainkan isterinya di kalangan Bidadari (yang berada di dalam syurga) berkata kepada isterinya yang di dunia itu sebagai amaran dan peringatan: “Jangan kamu menyakiti kekasih yang bakal menjadi suami kami, nanti kamu akan dibinasakan oleh Allah (di akhirat).” (H.R. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Nu’aim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Jika salah seorang dari kamu memasuki masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan solat dua rakaat. (H. R. Bukhari & Muslim)
Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a, dia menyatakan: Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah s.a.w sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Baginda s.a.w pun berkata kepadanya: Wahai Sulaik, berdiri dan rukuklah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya. Kemudian baginda bersabda: Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Jika salah seorang di antara kamu memasuki masjid, hendaklah dia tidak duduk hingga mengerjakan solat dua rakaat. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang menumpai sesuatu harta, maka wajiblah dia memaklumkannya (bersaksi) dia menjumpainya kepada orang yang adil atau pihak berkuasa, tidak boleh sama sekali dia menyembunyikan dan menghilangkannya. Sekiranya dapat dijumpai pemiliknya wajiblah dia mengembalikan wang terbabit, jika gagal maka harta tadi adalah dikira milik Allah dan boleh disedekahkan kepada sesiapa yang diingini. (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan sampai satu zaman dimana manusia tidak lagi menghiraukan dari sumber mana diperolehi hartanya, sama ada dari yag halal atau yang haram. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menakutkan Muslim yang lain, dan apabila seorang kamu mengambil hak milik saudaranya yang lain, wajiblah dia memulangkannya kembali. (H.R. Tirmidzi dan Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak halal harta yang dimiliki oleh seseorang Muslim (untuk diambil oleh orang lain) kecuali diizinkan olehnya. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya. (H.R. Ahmad dan Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa menahan kemarahan padahal dia mampu meluahkannya, maka Allah kelak akan memanggilnya di hadapan makhluk-makhluk hingga Allah memperkenankan kepadanya untuk memilih bidadari yang dikehendakinya. (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Ibnu Abbas menceritakan: Nabi s.a.w berjalan melalui sebuah kebun di Madinah atau di Mekah. Lalu kedengaran oleh baginda suara dua orang sedang disiksa dalam kuburnya. Maka bersabda Rasulullah s.a.w: Keduanya disiksa bukanlah kerana dosa besar. Kemudian baginda melanjutkan perkataannya: Yang seorang disiksa kerana kencing di tempat terbuka dan yang seorang lagi kerana membuat fitnah supaya orang bermusuh-musuhan. Sesudah itu baginda menyuruh supaya mengambil pelepah tamar lalu dipatah dua oleh baginda dan diletakkan di atas kedua kubur itu masing-masing satu pelepah. Seseorang pun bertanya: Ya Rasulullah! Mengapa kamu lakukan seperti itu? Jawab baginda: Mudah-mudahan kedua-duanya mendapat keringanan selama pelepah tamar itu tidak kering. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ubahlah ini (uban) tetapi jauhilah warna hitam. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sebaik-baik bahan yang digunakan untuk mewarna uban ialah pokok inai dan katam. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang sentiasa (berterusan) mengerjakan solat (sunat) 12 rakaat, Allah akan membina rumah baginya di syurga; iaitu 4 rakaat sebelum Zohor dan 2 rakaat pula selepas Zohor, serta 2 rakaat selepas Maghrib, 2 rakaat selepas Isyak dan 2 rakaat sebelum Fajar. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap anak Adam berbuat kesalahan dan sebaik-baik orang bersalah adalah orang yang bertaubat. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang banyak dosa, tapi banyak bertaubat. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang menolak kata-kata buruk terhadap kehormatan diri saudaranya, nescaya Allah menolak api neraka daripada mengenainya pada hari kiamat. (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila datang kepadamu seorang laki-laki datang untuk meminang yang engkau redha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila tidak engkau lakukan maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan timbul kerosakan yang merata di muka bumi. (H.R. Tirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tiga perkara yang jangan dilambat-lambatkan, iaitu solat apabila telah masuk waktunya, jenazah apabila telah siap (urusan mandi dan kafan) dan anak gadis setelah ditemuinya yang sesuai untuknya. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Seorang mukmin yang bercampur bergaul dengan masyarakat dan sabar atas kepedihan dan kepayahan yang ditimbulkan oleh masyarakatnya, adalah lebih besar ganjarannya dari mukmin yang tidak bergaul dengan masyarakat dan tidak sabar atas kepedihan, kepayahan kejahatan masyarakatnya. (H.R. Bukhari, Tirmidzi dan Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya apabila seseorang hamba berdiri untuk solat maka diletakkan semua dosa-dosanya di atas kepala dan kedua-dua bahunya. Setiap kali ia rukuk atau sujud, maka akan berjatuhanlah dosa-dosanya itu. (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Allah Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia, ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepadaKu, nescaya Aku mengabulkannya, siapa yang memohon kepadaKu, nescaya Aku memberinya, siapa yang meminta ampun kepadaKu nescaya Aku mengampuninya! (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Seburuk-buruk makanan yang dijamu ialah hidangan dalam majlis kenduri perkahwinan apabila orang-orang kaya dijemput dan orang-orang miskin tidak dijemput. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya mati itu adalah amat pedih umpama ditetak dengan pedang beberapa kali atau digergaji dengan gergaji atau umpama dipotong dengan gunting beberapa kali guntingan (H.R. Abu Na’im)
Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah mencabut uban kerana uban adalah cahaya pada hari kiamat nanti. Siapa saja yang beruban dalam Islam walaupun sehelai, maka dengan uban itu akan dicatat baginya satu kebaikan, dengan uban itu akan dihapuskan satu kesalahan, juga dengannya akan ditinggikan satu darjat. (H.R. Ibnu Hibban)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila matinya anak Adam itu terputuslah baginya segala amalan kecuali tiga perkara iaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak yang soleh. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Orang mukmin memandang dosanya seperti sebuah bukit di atasnya yang dia bimbang akan menghempapnya, sedangkan orang munafik memandang dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di hidungnya lalu dihalaunya sehingga terbang. (H.R. Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Bergerombolan dengan babi (khinzir) itu adalah lebih baik berbanding dengan bersentuhan (secara sengaja) dengan wanita yang bukan mahramnya. (H.R. Ibnu Majah; dhaif)
Daripada Ibn Mas’ud, katanya Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: Janganlah seorang perempuan itu bergaul dengan perempuan lain kemudian ia menceritakan perihal perempuan lain itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihat perempuan yang diceritakannya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Kecelakaan ke atas sesiapa yang menipu untuk menghiburkan manusia, kecelakaan ke atasnya, kecelakaan ke atasnya. (H.R. Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasai’e)
Rasulullah s.a.w bersabda: Islam bermula sebagai sesuatu yang dianggap asing dan ganjil. Dan ia akan kembali sebagaimana permulaannya, dianggap asing dan ganjil. Maka, beruntunglah orang-orang yang ganjil. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa di kalangan kamu yang melihat sesuatu kemungkaran, dia mesti memperbetulkannya dengan tangannya; dan sekiranya dia tiada cukup kekuatan untuk itu, maka dia mesti melakukannya dengan lidahnya; dan sekiranya dia juga tiada cukup kekuatan untuk itu, maka dia mesti membencinya dalam hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan ada dari umatku segolongan manusia yang meminum arak dengan mereka menamakannya dengan nama lain, kepala mereka dilalaikan dengan bunyi-bunyian dan penyanyi-penyani wanita. Allah akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebahagian mereka kera dan babi. (H.R. Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang kepada umat ku suatu zaman di mana orang yang berpegang kepada agamanya laksana menggenggam bara api. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu, dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk syurga). (H.R. Al-Baihaqi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Malu itu sebahagian daripada iman, dan iman itu dalam syurga; manakala kelucahan adalah daripada perangai yang kasar (al-jafa’), dan perangai yang kasar itu dalam neraka (H.R. Bukhari dan Al-Baihaqi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Akan datang di kemudian hari nanti, setelah aku tiada; beberapa pemimpin yg berdusta & berbuat aniaya. Maka barangsiapa yg membenarkan kedustaan mereka & membantu (mendukung) tindakan mereka yang aniaya itu, maka ia bukan termasuk umatku, & bukanlah aku daripadanya. Dan ia tidak akan dapat sampai datang ke telaga (yang ada di syurga). (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Amalan yang paling disukai Allah adalah amalan yang dilakukan secara istiqamah (terus-menerus) walaupun ianya sedikit. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Kamu akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan mengikuti mereka. Sahabat bertanya: Ya Rasulullah! Apakah Yahudi dan Nasrani yang kau maksudkan? Nabi s.a.w menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya kubur itu, adalah singgahan pertama ke akhirat, sekiranya yang singgah itu terselamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih mudah lagi. Dan jika tidak selamat, maka perjalanan selepas daripada itu lebih sukar lagi. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu mati, akan ditunjukkan kepadanya setiap pagi dan petang tempat tinggalnya. Bila ia penghuni syurga, akan ditunjukkan kepadanya kenikmatan syurga, dan bila ia penghuni neraka, akan ditunjukkan kepadanya keazaban neraka. Lalu dikatakan kepada mereka: Itulah tempat tinggalmu, sampailah Allah membangkitkanmu pada hari kiamat. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sekiranya kepala salah seorang daripada kamu ditusuk dengan jarum besi, itu adalah lebih baik bagi kamu daripada kamu menyentuh wanita yang tidak halal bagi kamu. (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Ada dua kenikmatan yang disia-siakan oleh kebanyakan manusia, iaitu nikmat sihat dan masa lapang. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah r.ha, Rasulullah s.a.w bersabda: Janganlah kalian mencaci orang-orang yang telah meninggal dunia, kerana mereka telah sampai kepada apa yang telah mereka lakukan (pembalasan amal). (H.R. Nasa’ie)
Dari Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu pengetahuan di situ, maka Allah akan memudahkan baginya suatu jalan untuk menuju ke syurga. (H.R. Muslim)
Daripada Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda: Sedekah tidak akan mengurangi harta seseorang. Seseorang yang pemaaf, Allah menambahkan kemuliaan baginya. Dan seorang yang tawaduk (merendahkan diri) kepada Allah, maka Allah menaikkan darjatnya. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Kedua mata dapat berzina, dan zina keduanya adalah melihat. Kedua telinga dapat berzina, dan zina keduanya adalah mendengar. Lidah zinanya dengan bicara. Tangan zinanya dengan menyentuh. Kaki zinanya dengan melangkah. Hati zinanya dengan berhasrat dan menginginkan. Dan kemaluan akan membenarkan atau mendustakannya. (H.R. Muslim)
Asma’ binti Abu Bakar telah masuk ke tempat Rasulullah s.a.w berada sedangkan dia memakai pakaian nipis. Rasulullah s.a.w lalu berpaling daripada memandangnya sambil berkata: Wahai Asma’ sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh (haid) maka tidak boleh baginya menampakkan tubuhnya kecuali ini dan ini, seraya menunjukkan wajah dan telapak tangannya. (H.R. Abu Daud)
Ummu Salamah pernah bertanya Rasulullah s.a.w: Apakah seorang wanita boleh menunaikan solat di dalam pakaian labuh dan tudungnya jika dia tidak mempunyai sarung? Nabi s.a.w menjawab: Asal pakaian labuh (jubah) itu sempurna dan menutupi zahir kedua kakinya. (H.R. Abu Daud)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang berkehendakkan dunia maka hendaklah ia berilmu, sesiapa yang berkehendakkan akhirat maka hendaklah ia berilmu dan sesiapa yang berkehendakkan kedua-duanya maka hendaklah ia berilmu. (H.R. Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: Pemimpin pilihan di antara kamu semua ialah orang-orang yang kamu cintai (suka), mereka juga mencintai kamu. Kamu semua mendoakan mereka untuk kebaikan begitu juga mereka mendoakan untuk kebaikan kamu. Adapun pemimpin-pemimpin yang jahat di kalangan kamu ialah orang-orang yang kamu benci mereka, dan mereka pun benci kepada kamu. Kamu melaknat mereka dan mereka juga melaknat kamu. Auf bin Malik bertanya kepada Rasulullah: Apakah kita tidak boleh menentang mereka? Sabda baginda: Jangan menentang mereka selama mereka masih mendirikan sembahyang di kalangan kamu. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: Akan lahir selepas aku beberapa pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan yang melakukan perkara-perkara yang tidak disukai oleh kamu. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah apakah yang engkau hendak perintah dikalangan kami ini sekiranya terdapat perkara seperti itu? Baginda s.a.w menjawab: Hendaklah kamu menunaikan tanggungjawab kamu dan memohon kepada Allah segala hak-hak yang kamu perlukan. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ma’qil Ibnu Yasar r.a berkata, saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Tidak ada seorang hamba yang Allah serahkan kepadanya untuk memimpin segolongan rakyat lalu ia tidak memelihara rakyatnya itu dengan menuntut dan memimpin mereka kepada kemaslahatan dunia dan akhirat melainkan tiadalah ia mencium bau syurga. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w. bersabda: Tiga Golongan manusia yang Allah tidak akan bercakap dengan mereka di hari kiamat, tidak menganggap mereka sebagai orang yang bersih, tidak melihat kepada mereka, dan mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dengan azab yang sangat pedih. Mereka ialah orang tua yang berzina, raja atau pemimpin yang suka berbohong dan orang miskin yang sombong. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Demi jiwaku berada di bawah kekuasaan Allah, seseorang kamu tidak beriman sehinggalah dia mencintaiku (Rasulullah s.a.w) lebih daripada kecintaannya kepada anaknya, ayahnya dan manusia keseluruhannya. (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang menghidupkan sunnah daripada sunnahku yang telah ditinggalkan selepas aku maka sesungguhnya baginya pahala seumpama pahala orang yang melakukannya tanpa sedikitpun berkurangan sementara sesiapa yang mengadakan bidaah yang sesat yang tidak diredhai Allah dan rasulNya baginya dosa seumpama dosa-dosa yang dilakukan mereka di mana tidak sedikitpun berkurangan. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya marah itu daripada syaitan dan syaitan diciptakan daripada api, api dipadamkan dengan air, oleh itu apabila marah salah seorang daripada kamu hendaklah berwudhu’. (H.R. Abu Daud)
Dari Abu Hurairah r.a, katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Roh orang mati yang beriman tergantung (diawang-awangan) dengan sebab hutangnya sehinggalah hutangnya dibayar oleh warisnya atau orang lain. (H.R. Tirdmizi)
Rasulullah s.a.w bersabda yang maksudnya: Sesiapa yang memberi tangguh kepada orang yang tidak mampu membayar hutangnya atau mengurangkan bayaran jumlah hutangnya, nescaya Allah menaunginya di bawah naunganNya pada hari yang tidak ada sebarang naungan padanya selain daripada naungan Allah. (H.R. Muslim dan Ahmad)
Dari Abu Bakar r.a bahawa Nabi Muhammad s.a.w biasanya apabila menerima berita yang mengembirakan baginda terus sujud kepada Allah. (H.R. Ahmad)
Dari Abu Musa Al Asy’ari bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika anak seorang hamba meninggal, Allah berfirman kepada para malaikatNya: “Kalian telah mencabut anak hambaKu?” Mereka menjawab: “Ya.” Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: “Kalian telah mencabut buah hatinya?” Mereka menjawab: “Ya.” Allah Tabaraka Wa Ta’ala bertanya: “Apa yang dikatakan hambaKu?” Mereka menjawab: “Dia memujiMu dan mengucapkan istirja’ (Kami ini milik Allah dan kepadaNya kami akan kembali).” Allah berkata: “Bangunlah untuk hambaKu satu rumah di syurga, dan berilah nama dengan ‘Baitulhamd’ (Rumah Kesyukuran).” (Sunan Al-Tirmidzi no. 942)
Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia redha dan bersabar kecuali syurga.” (Sahih Bukhari no. 5944)
Rasulullah s.a.w bersabda: Aku peringatkan kepada kalian tentang prasangka, kerana sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling bohong, dan janganlah kalian berusaha untuk mendapatkan informasi tentang keburukan dan mencari-cari kesalahan orang lain, jangan pula saling dengki, saling benci, saling memusuhi, jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. (H.R Bukhari)
Rasulullah s.a.w bersabda: Wahai sekelian yang mendakwa beriman dengan lidahnya, namun iman tidak masuk ke dalam hatinya, jangan kamu mengumpat kaum muslimin, jangan kamu mencari-cari keaiban mereka. Sesiapa yang mencari-cari keaiban kaum muslimin, maka Allah akan mencari keaibannya. Sesiapa yang Allah cari keaibannya, maka Allah akan mendedahnya sekalipun dirumahnya. (H.R. Abu Daud dan Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Setiap orang di antaramu adalah pemimpin dan setiap orang akan dipertanggungjawabkan atas kepimpinannya, seorang imam adalah pemimpin atas umatnya,dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya, seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan dia bertanggungjawab ke atas isteri dan keluarganya. (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya kecacatan pertama yang berlaku pada Bani Israil ialah apabila seorang lelaki melihat lelaki lain melakukan maksiat, dia akan berkata: Wahai si fulan! Takutlah kepada Allah dan tinggalkan kerja maksiat yang engkau sedang lakukan itu kerana ia tidak harus bagi engkau untuk melakukannya. Kemudian pada keesokan harinya lelaki yang menegah itu melihat lelaki yang melakukan maksiat itu masih melakukan maksiat yang sama, tetapi dia tidak mencegahnya kerana barangkali pelaku maksiat itu merupakan orang yang memberinya makan dan minum atau rakan baiknya. Apabila Bani Israel melakukan perbuatan seperti itu, maka Allah telah memperlagakan sesama hati mereka dan kemudian Allah melaknat mereka melalui lidah para anbiya’Nya. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abi Zar Al-Ghiffari katanya: Kekasihku s.a.w telah memerintahkan agar aku berkata benar walaupun ianya pahit. (H.R. Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Pada hari Kiamat nanti akan dihadirkan orang yang paling berbahagia di dunia yang akhirnya masuk Neraka, lalu dimasukkan sebentar ke dalam Neraka tersebut, kemudian ia ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kebaikan? Apakah ada kebaikan yang pernah engkau alami?” Orang itu menjawab, “Sama sekali tidak wahai Rabbku.” Lalu dihadirkan pula orang yang paling sengsara di dunia ini, namun kemudian masuk ke dalam Syurga, dimasukkan ke dalam Syurga sebentar, lalu ditanya, “Wahai manusia, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah ada kesengsaraan yang pernah kau alami?” Orang itu menjawab, “Tidak ada.” (H.R. Muslim dan Ahmad)
Rasulullah s.a.w bersabda: Syurga itu dikelilingi oleh perbuatan yang dibenci manusia, sementara Neraka itu dikelilingi oleh perbuatan yang disukai hawa nafsu.” (H.R. Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad)
Seorang sahabat telah bertanya kepada Nabi s.a.w tentang hak seorang isteri terhadap suaminya. Nabi s.a.w telah menjelaskan: Engkau memberinya makan apabila engkau makan dan memberikannya pakaian apabila engkau memakai dan janganlah engkau memukul wajahnya dan janganlah engkau memalukannya dan janganlah engkau menjauhinya kecuali dalam rumah sahaja. (H.R. Ibnu Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Dua perkara apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yg bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohinya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah lalu bersyukur kepada Allah bahawa dia masih diberi kelebihan. (H.R. Tirmidzi)
Dari Abu Ayyub bahwasanya dia berkata ketika menjelang kematiannya: Aku telah menyembunyikan kepada kalian perkara yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kamu sekalian tidak mempunyai dosa sedikit pun, nescaya Allah akan menciptakan suatu kaum yang melakukan dosa untuk diberikan ampunan kepada mereka.” (Sahih Muslim no. 4934, Sunan Al-Tirmidzi no. 3462)
Rasulullah menjelaskan, tatkala ditanya oleh seorang sahabat: Wahai Rasulullah, apakah itu mengumpat? Lalu jawab baginda: Menyebut sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu di belakangnya! Kemudian baginda ditanya lagi: Bagaimana sekiranya apa yang disebutkan itu benar? Jawab baginda: Kalau sekiranya apa yang disebutkan itu benar, maka itulah mengumpat, tetapi jika sekiranya perkara itu tidak benar, maka engkau telah melakukan buhtan (pembohongan besar). (H.R. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila diantara kamu mencampuri isterinya, hendaklah ia menutupi dirinya dan menutupi isterinya dan janganlah keduanya (suami isteri) bertelanjang bulat seperti keldai. (H.R. Tabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Terkutuklah orang yang menyetubuhi isteri di duburnya. (H.R. Abu Daud dan Nasa’ie)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila diantara kamu telah mencampuri isterinya kemudian ia akan mengulangi persetubuhannya itu maka hendaklah ia mencuci zakarnya terlebih dahulu. (H.R. Baihaqi)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang diantara kamu bersetubuh dengan isterinya maka janganlah ia menghentikan persetubuhannya itu sehingga isterinya juga telah selesai melampiaskan hajatnya (syahwat atau mencapai kepuasan) sebagaimana kamu juga menghendaki lepasnya hajatmu (syahwat atau mencapai kepuasan). (H.R. Ibnu Addi)
Dari Aisyah r.ha katanya, aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Pada Hari Kiamat manusia akan dibangkitkan dalam keadaan telanjang dan belum berkhatan. Aku Bertanya: Wahai Rasulullah! Adakah kaum lelaki dan wanita akan melihat di antara satu sama lain?. Baginda bersabda: Wahai Aisyah! Urusan ketika itu lebih penting dari memandang kepada orang lain. (H.R. Muslim)
Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang mempelajari sesuatu ilmu yang sepatutnya dicari keredhaan Allah Azza wa Jalla dengannya, tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan habuan dunia, maka dia tidak akan mendapat bau syurga pada hari kiamat. (H.R. Abu Daud dan Ibn Majah)
Rasulullah s.a.w bersabda: Tujuh golongan akan berada dibawah naungan rahmat Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya. (Pertama): Raja yang adil. (Kedua): Pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadat kepada Allah. (Ketiga): Seorang lelaki yang hati sanubarinya sentiasa berpaut kepada masjid. (Keempat): Dua orang yang berkasih sayang semata-mata kerana Allah. Bertemu dan berpisah kerana Allah. (Kelima): Seorang lelaki yang diajak oleh wanita bangsawan dan cantik kepadanya namun dia berkata: Aku takutkan Allah. (Keenam): Seorang lelaki yang membelanjakan hartanya secara sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya. Dan (Ketujuh): Seorang lelaki yang berzikir kepada Allah dengan bersunyi diri sehingga mengalirkan air mata. (H.R. Bukhari)
Doa sebelum jimak dengan isteri:
بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang kau anugerahkan kepada kami.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w jika memberikan ucapan doa kepada seseorang yang berkahwin, baginda akan berkata:
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ
“Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, memberikan keberkahan atasmu, dan menyatukan kamu berdua di dalam kebaikan.” (H.R. Abu Daud, Tirmidzi)
Doa ketika Rasulullah menikahkan Ali r.a dengan Fatimah r.ha:
اَلَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِمَا، وَبَارَكَ لَهُمَا فِيْهِمَا فِيْ بِنَائِهِمَا
“Ya Allah, berkahilah mereka berdua dan berkahilah perkahwinan mereka berdua.” (H.R. Thabrani)
Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang budak (hamba) maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘Basmalah’ serta doakanlah dengan doa berkah seraya mengucapkan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا ، وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ، وَمِنْ َشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ
“Ya Allah, aku bermohon kepadamu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan padanya dan aku berlindung padaMu daripada keburukannya dan keburukan yang Engkau ciptakan padanya.” (H.R. Abu Daud dan Ibnu Majah)



