Keajaiban: Enam yang petah berbicara ketika bayi

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Ada empat orang yang dapat bicara di waktu masih bayi, iaitu Isa bin Maryam, saksinya Juraij, saksinya Yusuf dan putera tukang sisir puteri Firaun.” (Musnad Ahmad, no. 2682)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi iaitu Isa bin Maryam ketika bayi, bayi dalam perkara Juraij dan dan seorang bayi sedang menyusu dengan ibunya.” (Sahih Muslim, no. 4626)

Di dalam hadith di atas menyebutkan hanya tiga hingga empat bayi sahaja yang diizinkan Allah Taala untuk petah berkata-kata ketika kecil walhal pada kebiasaan adat, bayi-bayi itu tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Namun saya bawakan kisah dua lagi bayi melalui hadith lain. Mari kita baca kisah-kisah tersebut.

1. NABI ISA MENJADI SAKSI IBUNYA

Allah Taala berfirman dalam Al-Quran tentang kisah Maryam ibu Nabi Isa yang telah melahirkan bayi tanpa adanya suami:

Kemudian baliklah dia (Maryam) kepada kaumnya dengan mendukung anaknya (Isa), mereka (kaumnya) pun menempelaknya dengan berkata: “Wahai Maryam! Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu perkara yang besar salahnya! Wahai saudara perempuan Harun, bapamu bukanlah seorang yang buruk akhlaknya, dan ibumu pula bukanlah seorang perempuan jahat!”

Maka Maryam segera menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata (dengan hairannya): “Bagaimana kami boleh berkata-kata dengan seorang yang masih kanak-kanak dalam buaian?” Dia (Isa) menjawab: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia telah memberikan kepadaku Kitab (Injil), dan Dia telah menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan daku seorang yang berkat di mana sahaja aku berada, dan diperintahkan aku mengerjakan solat dan memberi zakat selagi aku hidup. Serta (diperintahkan aku) taat dan berbuat baik kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong takbur atau derhaka.”

(Surah Maryam pada ayat 27 hingga 32)

2. BAYI MENJADI SAKSI JURAIJ

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Dia membangunkan tempat peribadahan dan sentiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan solat sunat, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya: “Hai Juraij!” Juraij bertanya dalam hati: “Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan solatku atau memenuhi panggilan ibuku?” Akhirnya dia pun meneruskan solatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.

Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan solat sunat. Kemudian ibunya memanggilnya: “Hai Juraij!” Kata Juraij dalam hati: “Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku atau solatku?” Lalu Juraij tetap meneruskan solatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya.

Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan solat sunat. Seperti biasa ibunya memanggil: “Hai Juraij!” Kata Juraij dalam hati: “Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan solatku atau memenuhi seruan ibuku?” Namun Juraij tetap meneruskan solatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuatkan hati ibunya kecewa. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah: “Ya Allah, janganlah Engkau matikan dia sebelum dia mendapat fitnah dari perempuan pelacur!”

Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan mengenai Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata: “Jika kalian menginginkan populariti Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun meneruskan sabdanya: “Maka mulalah pelacur itu menggoda dan memujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terpedaya dengan godaan pelacur tersebut. Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadahan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan penzinaan dengannya hingga akhirnya hamil.

Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahawa: “Bayi ini adalah hasil perbuatan aku dengan Juraij.” Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mereka mendatangi rumah peribadatan Juraij lalu menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya.

Lalu Juraij bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku?” Mereka menjawab: “Kami lakukan hal ini kepadamu kerana kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga dia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.” Juraij berseru: “Dimanakah bayi itu?” Kemudian mereka membawakan bayi hasil perbuatan zina itu dan Juraij menyentuh perut bayi tersebut dengan jari tangannya seraya bertanya: “Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu?” Ajaibnya, bayi terus menjawab: “Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.”

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciumnya dan mengharap berkat darinya. Setelah itu mereka pun berkata: “Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.” Namun Juraij menolak dan berkata: “Tidak perlu, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat.” Akhirnya mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula.”

(Sahih Bukhari, no. 3181, Sahih Muslim, no. 4626, Musnad Ahmad, no. 7726)

3. BAYI MENJADI SAKSI TERHADAP FITNAH KE ATAS NABI YUSUF

Dalam Al-Quran, Allah menceritakan perihal Nabi Yusuf dan Zulaikha, yakni isteri menteri yang menggodanya:

Dan perempuan (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya, bersungguh-sungguh memujuk Yusuf berkehendakkan dirinya; dan perempuan itu pun menutup pintu-pintu serta berkata: “Marilah ke mari, aku bersedia untukmu.” Yusuf menjawab: “Aku berlindung kepada Allah (dari perbuatan yang keji itu), sesungguhnya Tuhanku telah memeliharaku dengan sebaik-baiknya, sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan berjaya.”

Dan sebenarnya perempuan itu telah berkeinginan sangat kepadanya, dan Yusuf pula (mungkin timbul) keinginannya kepada perempuan itu kalaulah dia tidak menyedari kenyataan Tuhannya (tentang kejinya perbuatan zina itu). Demikianlah (takdir Kami) untuk menjauhkan dari Yusuf perkara-perkara yang tidak baik dan perbuatan-perbuatan yang keji, kerana sesungguhnya dia dari hamba-hamba Kami yang dibersihkan dari segala dosa.

Dan mereka berdua pun berkejaran ke pintu, serta perempuan itu mengoyakkan baju Yusuf dari belakang, lalu terserempaklah keduanya dengan suami perempuan itu di muka pintu. Tiba-tiba perempuan itu berkata (kepada suaminya): “Tidak ada balasan bagi orang yang mahu membuat jahat terhadap isterimu melainkan dipenjarakan dia atau dikenakan azab yang menyiksanya.”

Yusuf pula berkata: “Dia lah yang memujukku berkehendakkan diriku.” (Suaminya tercengang mendengarnya) dan seorang saksi dari keluarga perempuan itu (yang ada bersama-sama) tampil memberi kesaksiannya dengan berkata: “Jika baju Yusuf koyak dari depan maka benarlah tuduhan perempuan itu, dan menjadilah Yusuf dari orang-orang yang dusta. Dan jika bajunya koyak dari belakang, maka dustalah perempuan itu, dan Yusuf adalah dari orang-orang yang benar.”

Setelah suaminya melihat baju Yusuf koyak dari belakang, berkatalah dia: “Sesungguhnya ini adalah dari tipu daya kamu orang-orang perempuan, sesungguhnya tipu daya kamu amatlah besar pengaruhnya.”

(Surah Yusuf ayat 23 hingga 28)

Ibnu Katsir berkata: “Para ulama’ berbeza pendapat tentang siapa saksi tersebut, apakah dia seorang bayi atau orang dewasa.” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 12, m/s 19)

4. BAYI TUKANG SISIR RAMBUT ANAK FIRAUN (MASYITAH)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jibril bercerita kepadaku: “Firaun memerintahkannya agar dilemparkan anak-anaknya (Masyitah) di hadapannya satu persatu (ke dalam tembaga yang dicairkan), hingga tinggal anaknya yang masih menyusu, dia tampak terpukul kerana anaknya tersebut, tapi anak tersebut berkata: “Wahai ibuku, tabahlah, sesungguhnya azab dunia lebih ringan daripada azab akhirat.” Maka dia pun tabah (lalu terjun).” (Musnad Ahmad, no. 2682)

Artikel tentang kisah ini boleh dibaca di sini -> Masyitah: Ketabahan hati tukang sisir puteri Firaun

5. DIALOG BAYI YANG MENYUSU DENGAN IBUNYA

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada seorang bayi sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba lalu seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian yang bagus pula. Lalu ibu bayi tersebut berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengenderai haiwan tunggangan itu!” Ajaibnya, bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!” Setelah itu, bayi tersebut terus menyusu kembali kepada ibunya. Abu Hurairah berkata: “Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan susuan bayi itu dengan menunjukkan jari telunjuk beliau yang dihisap dengan mulut beliau.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneruskan sabdanya: “Pada suatu ketika, ada beberapa orang yang menyeret dan memukuli seorang wanita seraya berkata: “Kamu wanita tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri.” Tetapi wanita itu tetap tegar dan berkata: “Hanya Allahlah penolongku. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolongku.” Kemudian ibu bayi itu berkata: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu!” Tiba-tiba bayi tersebut berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang wanita tersebut seraya berkata: “Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya!”

Pernyataan ibu dan bayinya itu terus berlawanan, hingga ibu tersebut berkata kepada bayinya: “Celaka kamu hai anakku! Tadi, ada seorang laki-laki yang gagah dan menawan lalu di depan kita, lalu aku berdoa kepada Allah: “Ya Allah, jadikanlah anakku seperti laki-laki itu!”, namun kamu malah mengatakan: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!” Kemudian tadi, ketika ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang wanita, sambil aku berkata: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu”, tetapi kamu malah berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!” Mendengar pernyataan ibunya itu, bayi pun menjawab: “Sesungguhnya laki-laki yang gagah itu seorang diktator hingga aku mengucapkan: “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu!” Sementara wanita yang dituduh mencuri dan berzina itu tadi sebenarnya adalah seorang wanita yang solehah, tidak pernah berzina, ataupun mencuri. Oleh kerana itu, aku pun berdoa: “Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!”

(Sahih Bukhari, no. 3181, Sahih Muslim, no. 4626, Musnad Ahmad, no. 7726)

6. BAYI DALAM KISAH ASHABUL UKHDUD

Raja (dalam peristiwa Ashabul Ukhdud) berkata: “Siapa pun yang tidak meninggalkan agamanya (Islam), pangganglah di dalamnya (parit dari api).” Mereka melakukannya hingga datanglah seorang wanita bersama bayinya, sepertinya dia hendak mundur agar tidak terjatuh dalam paritan api lalu si bayi itu berkata: ‘Ibuku, bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran’.” (Sahih Muslim, no. 5327, Musnad Ahmad, no. 22805)

Artikel tentang kisah ini boleh dibaca di sini -> Ashabul Ukhdud: Engkau tidak akan dapat membunuhku

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*