Nabi Musa tidak dapat melihat hikmah perbuatan Nabi Khidir

Pagi ini saya mendengar radio Ikim.fm di dalam kereta setelah selesai bersarapan pagi, panelnya Ustaz Syed Mohd Norhisyam yang bercerita tentang hikmah, yakni suatu perkara yang berlaku ada sebab musababnya dari Allah Taala. Allah mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya dan Allah tidak pernah menzalimi sesiapa pun.

Ustaz bercerita tentang kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang pernah saya baca dari sepotong hadith. Jadi saya mahu semua pembaca melayari kisah ini dan mempelajari hikmah dari perbuatan Nabi Khidir yang diberi ilmu oleh Allah yang tidak dilihat atau tidak difahami oleh Nabi Musa ketika itu.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair, dia berkata: “Saya telah berkata kepada Ibnu Abbas bahawasanya Nauf Al-Bikali mengatakan bahawa Musa ‘alaihissalam yang berada di tengah kaum Bani Israil bukanlah Musa yang menyertai Nabi Khidhir.” (Ibnu Abbas) berkata: “Berdustalah musuh Allah. Saya pernah mendengar Ubay bin Ka’ab berkata: “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Suatu ketika Nabi Musa ‘alaihissalam berdiri untuk berpidato di hadapan kaum Bani Israil. Setelah itu, seseorang bertanya kepadanya: “Hai Musa, siapakah orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi ini?” Nabi Musa menjawab: “Akulah orang yang paling banyak ilmunya di muka bumi ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Oleh itu, Allah mencela Musa ‘alaihissalam kerana dia tidak menyedari bahawa ilmu yang diperolehnya itu adalah pemberian Allah. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa: “Hai Musa, sesungguhnya ada seorang hamba-Ku yang lebih banyak ilmunya dan lebih pandai darimu dan dia sekarang berada di pertemuan dua lautan.” Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya: “Ya Tuhan, bagaimana caranya saya dapat bertemu dengan hamba-Mu itu?” Dijawab: “Bawalah seekor ikan di dalam keranjang dari daun kurma. Apabila ikan tersebut melompat, maka di situlah hamba-Ku berada.”

Kemudian Musa pun berangkat ke tempat itu dengan ditemani seorang muridnya yang bernama Yusya’ bin Nun. Nabi Musa sendiri membawa seekor ikan di dalam keranjang yang terbuat dari daun kurma. Keduanya berjalan kaki menuju tempat tersebut. Ketika keduanya sampai di sebuah batu besar, maka keduanya pun tertidur lelap. Kemudian ikan itu keluar dari keranjang diam-diam lalu melompat dan mengambil jalannya di laut.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menahan air yang dilalui ikan tersebut, hingga menjadi terowongan. Ikan itu menempuh jalannya di lautan, sementara Musa dan muridnya kagum melihat pemandangan yang unik itu. Akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanannya siang dan malam. Rupanya murid Nabi Musa lupa untuk memberitahukannya. Pada pagi harinya, Nabi Musa berkata kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita sudah sangat lelah dalam perjalanan ini.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Belum berapa jauh Musa melalui tempat yang diperintahkan untuk mencarinya, muridnya berkata: “Tahukah anda tatkala kita mencari tempat berlindung di batu besar tadi, maka sesungguhnya saya lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak ada yang membuat saya lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan, sedangkan ikan tersebut mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” Musa berkata: “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian keduanya menelusuri jejak mereka semula. Setelah keduanya tiba di batu besar tadi, maka mereka melihat seorang laki-laki yang sedang tertidur berselimutkan kain. Lalu Nabi Musa ‘alaihissalam mengucapkan salam kepadanya. Nabi Khidir bertanya kepada Musa: “Bagaimana kedamaian di negerimu?” Nabi Musa berkata: “Saya adalah Musa.” Nabi Khidir terperanjat dan bertanya: “Musa Bani Israil?” Nabi Musa menjawab: “Ya.”

Nabi Khidir berkata kepada Musa: “Sesungguhnya kamu mendapatkan sebahagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadamu yang tidak aku ketahui dan aku mendapatkan sebahagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang kamu tidak ketahui.” Nabi Musa berkata kepada Khidir: “Bolehkah aku mengikutimu agar kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” Nabi Khidir menjawab: “Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan sanggup dan sabar bersamaku. Bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Nabi Musa berkata: “InsyaAllah kamu akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan aku pun tidak akan menentangmu dalam suatu urusan pun.” Nabi Khidir menjawab: “Jika kamu tetap mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan sesuatu hingga aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu.” Nabi Musa menjawab: “Baiklah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Kemudian Musa dan Khidir berjalan menelusuri pantai. Tidak lama kemudian ada sebuah perahu yang singgah. Lalu keduanya meminta tumpangan perahu. Ternyata orang-orang di perahu itu mengenal baik Nabi Khidir, hingga akhirnya mereka mengangkut keduanya tanpa meminta upah. Lalu (ketika hendak tiba di destinasi), Nabi Khidir mendekat ke salah satu papan di bahagian perahu itu dan setelah itu mencabutnya. Melihat hal itu, Musa menegur dan memarahinya: “Mereka ini adalah orang-orang yang mengangkut kita tanpa meminta upah, tetapi mengapa kamu melubangi perahu mereka untuk kamu tenggelamkan penumpangnya?” Khidir menjawab: “Bukankah telah aku katakan kepadamu bahawasanya kamu sekali-kali tidak akan sabar ikut bersamaku.” Musa berkata sambil merayu: “Janganlah kamu menghukumku kerana kealpaanku dan janganlah kamu membebaniku dengan suatu kesulitan dalam urusanku.”

Tak lama kemudian, keduanya pun turun dari perahu tersebut. Ketika keduanya sedang berjalan-jalan di tepi pantai, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang sedang bermain dengan teman-temannya yang lain. Kemudian, Nabi Khidir segera memegang dan memutar kepala anak kecil itu (hingga patah) dengan tangannya hingga menemui ajalnya. Dengan marahnya Nabi Musa berupaya mengherdik Nabi Khidir: “Mengapa kamu bunuh jiwa yang tak berdosa, sedangkan anak kecil itu belum pernah membunuh? Sungguh kamu telah melakukan perbuatan yang mungkar.” Khidir berkata: “Bukankah sudah aku katakan bahawasanya kamu tidak akan mampu untuk bersabar dalam mengikutiku. Dan ini melebihi dari yang sebelumnya.” Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka janganlah kamu mengizinkan aku untuk menyertaimu. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur (maaf) kepadaku.”

Nabi Musa dan Khidir melanjutkan perjalanannya. Ketika mereka berdua tiba di suatu negeri, maka keduanya pun meminta dijamu oleh penduduk negeri tersebut, tapi sayangnya mereka enggan menjamu keduanya. Lalu keduanya mendapati sebuah dinding rumah yang hampir roboh dan Nabi Khidir pun terus menegakkannya (memperbaikinya). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dinding itu senget (sambil memberi isyarat dengan tangannya) lalu ditegakkan oleh Khidir.” Musa berkata kepada Khidir: “Kamu telah mengetahui bahawa para penduduk negeri yang kita datangi ini enggan menyambut dan menjamu kita. Kalau kamu mahu, sebaiknya kamu minta upah dari hasil pembaikan dinding rumah tersebut.” Akhirnya Khidir berkata: “Inilah perpisahan antara aku dan kamu. Aku akan beritahukan kepadamu tentang segala rahsia (hikmah) perbuatan yang kamu tidak sabar padanya.”

Allah Taala berfirman dalam Al-Quran tentang penjelasan Nabi Khidir:

“Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut. Oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat. Adapun pemuda itu, kedua ibu bapanya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahawa dia akan mendesak mereka melakukan perbuatan yang zalim dan kufur. Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka gantikan bagi mereka anak yang lebih baik daripadanya tentang kebersihan jiwa, dan lebih mesra kasih sayangnya. Adapun tembok itu pula, adalah ia dipunyai oleh dua orang anak yatim di bandar itu, dan di bawahnya ada ‘harta terpendam’ kepunyaan mereka, dan bapa mereka pula adalah orang yang soleh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka). Dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut fikiranku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.” (Al-Kahfi 18:79-82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah memberikan rahmat dan kurnia-Nya kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Sebenarnya aku lebih senang jika Musa dapat sedikit bersabar, hingga kisah Musa dan Khidir dapat diceritakan kepada kita dengan lebih panjang lagi. Penyebab perpisahan tersebut adalah karena Musa alpa. Tak lama kemudian, datanglah burung kecil tersebut mematuk air laut dengan paruhnya. Lalu Khidir berkata kepada Musa: “Sesungguhnya ilmuku dan ilmumu dan ilmu yang kita peroleh dari Allah itu hanyalah seperti seteguk air laut yang diperoleh burung kecil itu di antara hamparan lautan ilmu yang dimiliki Allah.”

(Sahih Bukhari, no. 3149, Sahih Muslim, no. 4385, Sunan At-Tirmidzi, no. 3074, hasan sahih, Musnad Ahmad, no. 20197)

Nota: Kisah ini juga boleh didapati dalam Al-Quran Al-Karim, surah Al-Kahfi ayat 60 hingga 82.

3 comments

  1. Banyak iktibar dalam isah Nabi Musa dan Nabi Khidir ni..semakin di baca semakin banyak ilmu yang dipelajari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*