Rasulullah melamar dan menikahi Aisyah dan Saudah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bernikah dengan beberapa orang wanita setelah kewafatan Khadijah binti Khuwailid. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah bernikah dengan wanita lain untuk memadukan Khadijah, kecuali setelah Khadijah meninggal dunia.” (Sahih Muslim, no. 4466)

Di antara isteri-isteri yang pernah dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selepas kewafatan Khadijah ialah Aisyah binti Abu Bakar, Saudah binti Zam’ah, Hafsah binti Umar Al-Khattab, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab binti Jahsy, Juwairiah binti Harith al-Mustolaqiah, Zainab binti Khuzaimah, Maimunah binti Harith dan Safiyyah binti Huyyay.

Abu Salamah dan Yahya keduanya bercerita tentang lamaran Rasulullah terhadap Aisyah dan Saudah, mereka berkata:

Tatkala Khadijah wafat, Khaulah binti Hakim isteri Uthman bin Mazh’un datang seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Tidakkah engkau akan menikah lagi?” Beliau bertanya: “Dengan siapa?” Dia menjawab: “Jika engkau mahu, dengan gadis perawan, dan jika engkau mahu, dengan janda.” Beliau bertanya: “Siapa gadis perawannya?” Dia menjawab: “Dia adalah anak perempuan ciptaan Allah yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar.” Beliau bertanya: “Ada pun yang janda?” Dia menjawab: “Saudah binti Zam’ah, dia telah beriman kepadamu dan mengikuti apa yang engkau katakan.” Beliau bersabda: “Pergilah (kepada mereka) dan ceritakan kepadaku.”

Lalu dia masuk ke rumah Abu Bakar seraya berkata: “Wahai Ummu Rumman (isteri Abu Bakar), kebaikan dan keberkatan apakah yang telah Allah masukkan kepada kalian?” Ummu Rumman kembali bertanya: “Apa maksudnya?” Dia menjawab: “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah mengutusku untuk meminangkan Aisyah.” Ummu Ruman berkata: “Tunggulah Abu Bakar hingga dia datang.” Akhirnya Abu Bakar pun datang. Dia berkata: “Kebaikan dan keberkatan apakah yang telah Allah masukkan kepada kalian?” Abu Bakar kembali bertanya: “Apa maksudnya?” Dia menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku untuk meminang Aisyah.” Abu Bakar berkata: “Apakah dia (Aisyah) sesuai untuk beliau, kerana dia adalah anak perempuan saudaranya.”

Lalu Khaulah kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Beliau bersabda: “Kembalilah kepadanya dan katakan kepadanya: “Saya dan kamu adalah saudara dalam agama, dan anakmu sesuai untukku.” Kemudian dia kembali dan menceritakan hal itu kepadanya. Abu Bakar berkata: “Tunggulah.” Lalu dia pergi. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Khaulah: “Panggilkan Rasulullah kepadaku.” Lalu dia memanggilnya dan menikahkan Aisyah dengan beliau. Tatkala itu, Aisyah masih berumur enam tahun.

Kemudian Khaulah binti Hakim pergi menemui Saudah binti Zam’ah, dia bertanya: “Kebaikan dan keberkatan apakah yang telah Allah masukkan kepadamu?” Saudah kembali bertanya: “Apa maksudnya?” Dia menjawab: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku untuk meminangkanmu.” Saudah berkata: “Saya sangat menyukainya, temuilah ayahku dan ceritakan hal itu kepadanya.”

Ayah Saudah adalah seorang yang sudah tua dan sudah cukup umur. Dia pernah terlambat melaksanakan haji. Lalu Khaulah menemuinya dan mengucapkan salam seperti yang diucapkan pada masa Jahiliyyah. Lalu dia bertanya: “Siapa ini?” Khaulah menjawab: “Khaulah binti Hakim.” Dia bertanya: “Ada keperluan apa kamu?” Khaulah berkata: “Muhammad bin Abdullah telah mengutusku untuk meminang Saudah.” Dia berkata: “Ini adalah sekufu’ yang mulia. Lalu apa yang dikatakan sahabatmu, Saudah?” Khaulah menjawab: “Dia sangat menyukai hal itu.” Dia berkata: “Panggilkan dia untukku.”

Lalu aku memanggilnya dan dia (ayah Saudah) berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya wanita ini mengaku bahawa Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib telah mengutusnya untuk meminangmu dan dia adalah sekufu’ yang mulia. Apakah engkau senang bila aku menikahkanmu dengan beliau?” Saudah menjawab: “Ya.” Dia berkata: “Panggilkan beliau untukku.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepadanya dan dia menikahkan Saudah dengannya.

Aisyah berkata: “Lalu kami datang ke Madinah dan kami singgah di tempat bani Harith bin Khazraj di Sunhi.” Aisyah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan memasuki rumah kami, dan berkumpullah orang-orang Ansar baik lelaki atau pun perempuan. Ibuku juga mendatangiku sementara aku sedang bermain dengan dua orang temanku, lalu ibuku mengambilku dari tempat bermainku. Ketika itu rambutku banyak yang gugur, lalu dia membersihkannya dan membuangnya. Kemudian dia mengusap wajahku dengan air, dia menuntunku hingga dia dan aku sampai di depan pintu. Saya tidak bergerak hingga jiwaku terasa tenang.

Lalu ibuku menemuiku sedang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah duduk di atas ranjang di rumah kami, sementara di sekelilingnya para lelaki dan wanita Ansar. Lalu ibuku mendudukkanku di pangkuannya, dia berkata: “Mereka adalah keluargamu, semoga Allah memberkatimu terhadap mereka dan semoga Allah memberkati mereka atas dirimu.” Lalu para lelaki dan wanita segera beranjak pergi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai menggauliku di rumah kami. Tidaklah disembelihkan untukku unta dan tidak pula kambing, hingga Sa’ad bin Ubadah mengirimkan bekas besar kepada kami. Dia mengirimkannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau ingin mengelilingi para isteri-isterinya, sementara aku ketika itu masih berumur sembilan tahun.”

(Musnad Ahmad, no. 24587)

Aisyah pernah bercerita mengenai wahyu dari Allah tentang dirinya yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam:

“Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama gambarku (Aisyah) dalam secarik kain sutera hijau, dia berkata: “Sesungguhnya ini adalah isterimu di dunia dan akhirat.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3815, sahih)

Juga Aisyah radhiallahu ‘anha bercerita bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya:

“Aku melihatmu di alam mimpiku. Kamu dibawa oleh Malaikat dengan bertutupkan kain sutera, lalu Malaikat itu pun berkata padaku: ‘Ini adalah isterimu.’ Maka aku pun menyingkap kain yang menutupi wajahmu, dan ternyata wanita itu adalah kamu. Maka aku pun berkata: ‘Kalau hal ini datangnya dari Allah, maka Allah pasti akan menjadikan kenyataan’.” (Sahih Bukhari, no. 4730, Sahih Muslim, no. 4468)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*