Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!

Isu zina sangat sinonim terutama pada akhir zaman ini. Di mana-mana sahaja kini berlakunya kes penzinaan tak kira sama ada yang muda atau tua. Tak kurang juga kes rogol dengan kerelaan mahupun tanpa kerelaan. Zina yang besar adalah dari kemaluan, manakala debu-debu zina (zina kecil) adalah perbuatan dari anggota tubuh manusia itu sendiri. Dari Abu Hurairah bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya telah ditetapkan pada setiap anak cucu Adam bahagiannya dari perbuatan zina yang tidak mustahil dan pasti akan dijalaninya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lidah adalah berbicara, zina kedua tangan adalah menyentuh, zina kedua kaki adalah melangkah, dan zina hati adalah berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan semua itu akan dibenarkan atau didustakan oleh kemaluan.” (Sahih Muslim, no. 4802, Musnad Ahmad, no. 7868)


Telah benar sabdaan Nabi mulia shallallahu ‘alaihi wasallam, masa kini hampir tiada manusia yang tidak melakukan zina, jika tidak zina besar, pasti akan melakukan zina kecil. Moga Allah terus pelihara kita dan keturunan kita dari perbuatan zina insyaAllah.

Selesai mukadimah tentang zina, kini mari kita hayati suatu kisah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang pemuda yang meminta izin Nabi supaya diberi kebenaran untuk berzina.

Diriwayatkan oleh Abu Umamah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: “Sesungguhnya seorang pemuda mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah! Izinkan aku untuk berzina.” Orang-orang kemudian mendatanginya lalu melarangnya, mereka berkata: “Jangan, jangan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mendekatlah.”

Dia mendekat lalu duduk kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa kamu menyukai berzina dengan ibumu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang juga tidak menyukai kamu berzina dengan ibu-ibu mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa kamu menyukai berzina dengan puterimu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang juga tidak menyukai kamu berzina dengan puteri-puteri mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa kamu menyukai berzina dengan makcikmu dari sebelah ayah?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang juga tidak menyukai kamu berzina dengan makcik-makcik mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apa kamu menyukai berzina dengan makcikmu dari pihak ibu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikanku sebagai penebus tuan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang juga tidak menyukai kamu berzina dengan makcik-makcik mereka.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa: “Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya.” Setelah itu pemuda itu tidak pernah melirik apa pun.”

(Musnad Ahmad, no. 21185)

Pengajaran apa yang anda dapatkan dari hadith ini? Maka fikirlah sebaik-baiknya jika seseorang itu hendak melakukan perbuatan zina, fikirlah sama ada sukakah kita apabila ibu kita, isteri kita, adik perempuan kita, anak perempuan kita, makcik-makcik kita dan saudara perempuan kita dizinai oleh orang lain sesuka hati mereka tanpa ikatan nikah. Tentu ia akan membuatkan kita menjadi sangat marah dan berdukacita. Begitulah jua orang lain.

Islam telah menunjukkan jalan yang terbaik mengatasi zina, yakni bernikahlah bagi yang mampu memberi mahar, dan berpuasalah bagi yang tidak mampu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*